Meraih Sukses Bahagia dalam Hidup – B. Uttamo
Meraih Sukses Bahagia dalam Hidup
oleh Bhikkhu Uttamo
Posting ini telah dilihat sebanyak :634
Posting ini telah dilihat sebanyak :634
KLIK Gambar Untuk Melihat Tampilan yang Lebih Besar
Posting ini telah dilihat sebanyak :742

Sumber : YM. Bhante Uttamo Mahathera
Dhammatalk 31 Maret 2013,
Mega Glodok Kemayoran, Jakarta
Banyak di antara kita yang suka meramal, bahkan menggunakan ramalan itu sebagai petunjuk dalam pengambilan keputusan.
Namun ketika ditanya, siapa yang percaya pada ramalan, sedikit sekali orang yang mau mengakuinya.
Selama ini pandangan umum mengkaitkan ramalan dengan hal-hal yang bersifat mistik ataupun takhayul, padahal sesungguhnya, ramalan banyak dipergunakan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Misalnya, ramalan cuaca.. Apakah hari ini cerah, turun hujan, atau ada badai.. Itu semuanya juga sifatnya ramalan.
Apakah ramalan ini bermanfaat? Oh ya tentu..
Contoh umumnya dunia penerbangan, sebelum pesawat itu diizinkan untuk terbang, terlebih dahulu dibuatkan perencanaan (flight plan), yang juga berisikan ramalan cuaca pada saat itu.
Jika diramalkan akan ada badai disuatu tempat, maka pesawat akan terbang melewati rute lain, atau bahkan tidak jadi terbang.
Bayangkan jika anda naik pesawat terbang tanpa ramalan cuaca.. Tentu sangat berbahaya..
Contoh lain, seorang wanita yang mengandung, dokter memperkirakan kapan bayinya akan lahir.. Ini juga ramalan.
Atau seorang pasien yang sakit parah, dokter memperkirakan bisa bertahan sampai waktu tertentu, ini juga ramalan..
Dalam dunia usaha, para pengusaha pun menggunakan perkiraan2 harga dan permintaan di masa mendatang, ini juga ramalan.
Sehingga, bisa disimpulkan bahwa, ramalan sebenarnya banyak terdapat dalam keseharian kita..
Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ramalan? Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :1935
Posting ini telah dilihat sebanyak :2062
![]()
PESAN WAISAK 2557
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammàsambuddhassa
Nidhinam va pavattaram, Yam passe vajjadassinam
Niggayhavadim medhavim, Tadisam panditam bhaje
Tadisam bhajamanassa, Seyyo hoti na papiyo
(Dhammapada 76)
Hari Trisuci Waisak mengingatkan tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan kemangkatan beliau. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari purnama sidi, bulan Waisak atau bulan Mei, dengan tahun berturut-turut 623 SM, 588 SM, dan 543 SM. Guru Agung Buddha lahir sebagai putra mahkota kerajaan Kapilavatthu, di India Utara, mencapai Pencerahan Sempurna di Bodhgaya, dan mangkat Pari-nibbana di Kusinara, India. Marilah umat Buddha sekalian melakukan pujabakti, bersamadi, serta menghayati Dhamma ajaran Buddha untuk mengagungkan Trisuci Waisak yang mulia ini.
Siswa Guru Agung Buddha yaitu Arahat Sariputta telah menjadi teladan tatalaku bagi seorang bhikkhu yang bernama Radha. Keteladanan Yang Ariya Sariputta mendapatkan pujian dari Guru Agung Buddha, dengan ungkapan: seseorang hendaknya dianggap seperti penunjuk harta karun, bila ia menunjukkan sesuatu yang harus dihindari serta memberikan dorongan terhadap sesuatu yang harus dilakukan, begitulah seorang bijaksana yang patut diteladani, sungguh baik dan tidak tercela meneladani orang bijaksana seperti itu. (Dhammapada 76)
Keteladanan Dasar Kemuliaan, itulah tema Perayaan Trisuci Waisak 2557 ini. Keteladanan ibu, keteladanan ayah, keteladanan guru, keteladanan pemimpin agama, keteladanan pemimpin masyarakat, bahkan keteladanan pemimpin bangsa, pendek kata keteladanan sangatlah diperlukan bagi setiap peran, tugas jabatan, maupun kedudukan baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :2016
Seorang istri berjuang membantu suaminya seorang guru yang lumpuh dengan cara menggendong menuju tempat mengajar selama lebih dari 17 tahun Du Chanyun adalah seorang guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu. Chanyun adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou
Tahun 1981, setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar 6.5 Yuan Renmibi (sekitar Rp. 7.000).
Suatu hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya. Saat itu adalah musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup. Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek. Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan. Meski begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya.
Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai tua pun saya akan menggendongmu,” demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :1516