Bagaimana Cara Menghindari Bencana
dalam Pandangan Buddhis
oleh : Bhikkhu Uttamo
Penjelasan Bhikkhu Uttamo tentang “Bagaimana Cara Menghindari Bencana dalam Pandangan Buddhis” yang disampaikan dengan cara sederhana dan mudah dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Keterangan :
Video ini akan dapat disaksikan dengan mudah untuk mereka yang menggunakan fasilitas internet yang relatif cukup cepat.
Apabila koneksi internet Anda tidak terlalu cepat, harap sabar menanti saat video sedang di download sehingga gambar tampak putus-putus.
Penampilan seperti itu adalah wajar.
Semoga hal ini dapat dimaklumi.
Selamat menyaksikan
Mengubah Nasib Menuju Sukses dan Hidup Bahagia
oleh : Bhikkhu Uttamo
Uraian Bhikkhu Uttamo tentang cara mengubah nasib yang mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang yang melaksanakannya dengan dukungan kamma baik yang sesuai akan dapat mencapai sukses serta hidup bahagia.
Maaf jika kualitas gambar terlihat kurang sempurna karena untuk memperkecil besaran file sehingga mempermudah dan mempercepat download video ceramah Dhamma ini.
Keterangan :
Video ini akan dapat disaksikan dengan mudah untuk mereka yang menggunakan fasilitas internet yang relatif cukup cepat.
Apabila koneksi internet Anda tidak terlalu cepat, harap sabar menanti saat video sedang di download sehingga gambar tampak putus-putus.
Penampilan seperti itu adalah wajar.
Semoga hal ini dapat dimaklumi.
Selamat menyaksikan
Keterangan :
Video ini akan dapat disaksikan dengan mudah untuk mereka yang menggunakan fasilitas internet yang relatif cukup cepat.
Apabila koneksi internet Anda tidak terlalu cepat, harap sabar menanti saat video sedang di download sehingga gambar tampak putus-putus.
Penampilan seperti itu adalah wajar.
Semoga hal ini dapat dimaklumi.
Selamat menyaksikan.
DVD ini secara lengkap dapat diperoleh di :
Bursa vihara terdekat atau di Bursa Samaggi Phala
“ATITAM NANVAGAMEYYA,
NAPPATIKANKHE ANAGATAM.
YADATITAMPAHINATAM,
APPATANCA ANAGATAM.”
“Janganlah seseorang menyesali masa lalu,
atau melamun tentang masa mendatang.
Yang lalu sudah lewat,
yang akan datang belumlah tiba.”
Dulu, ketika kita masih kecil, kita sering ditanya oleh orang tua kita, tetangga, teman dan oleh siapa saja yang bertemu dengan kita. Maklum anak kecil, jawabannya tentu sangat polos. Aku mau menjadi guru, aku mau jadi pilot, aku mau jadi presiden, dan lain-lain jawabannya. Apakah cita cita yang dilontarkan pada masa kecil itu akan menjadi kenyataan? Tidak. Tidak semua cita-cita kita bisa tercapai, bahkan cita cita itu terkadang tidak sama dengan kemampuan kita sehingga kandas di tengah jalan.
Seperti halnya yang saya alami sekarang. Dahulu saya tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi bhikkhu, namun saat ini saya menjadi seorang bhikkhu. Cita cita hanyalah tinggal cita cita dan hanya menjadi sebuah kenangan.
Masing-masing orang mempunyai kemampuan yang tidak sama, karena pengalaman masa lampaunya yang tidak sama. Baca Selengkapnya…
Senang sekali dapat berjumpa dengan Anda semua dalam kesempatan ini.
Dan memang kalo di ceritakan, dulu sih saya memang bukan Buddhis, sejak di dalam kandungan bukan Buddhis. Turunan saya, eh maksud saya atasan saya kalo turunan kan di bawah saya, saya ga ada bawahnya, isteri, anak. Tapi atasan saya maksud saya orang tua, kemudian saudara-saudara dari ayah, saudara-saudara dari ibu memang tidak ada yang Buddhis. Sehingga ketika saya belajar agama Buddha, orang-orang juga heran dengan saya, kok bisa? Padahal lingkungannya juga bukan Buddhis.
Apa sebetulnya yang memotivasi seseorang belajar agama Buddha, khususnya saya?
Sebenarnya karena berdasarkan sebuah pertanyaan yang umum sekali yaitu kalo memang manusia ini ada yang mencipta, yang membuat, yang mengadakan, kenapa kok lain-lain?
Kenapa ada orang yang di buat, hidupnya bahagia sekali?
Kenapa ada orang yang di buat, sejak lahir terkondisi di tempat yang menderita sekali?
Kenapa ada orang yang di buat, sejak kecil pandai sampai tua?
Kenapa ada orang yang di buat, sejak kecil idoit terus, sampai tua pun tetap idiot?
Ini membuat sebuah pertanyaan buat saya. Baca Selengkapnya…
Tak selayaknya karena marah dan benci mengharap yang lain celaka
Salah satu baris dari bait Mettasutta – Sutta tentang Cinta Kasih
Tipitaka, Sutta Pitaka, Khuddakanikaya, Khuddakapatha
Adalah hal yang sering terlihat dalam masyarakat, kebanyakan umat maupun simpatisan Buddhis di rumah maupun di tempat kerja memiliki arca Buddha atau sering disebut sebagai Buddharupang. Secara bebas dapatlah dikatakan bahwa Buddharupang berarti gambar atau perwujudan lain dari Sang Buddha.
Agar mempersempit lingkup pembahasan, maka dalam kesempatan ini hanya diulas Buddharupang yang diartikan sebagai arca Sang Buddha. Sepintas arca Sang Buddha memiliki bentuk yang hampir sama yaitu duduk bersila di atas bunga teratai yang sedang mekar penuh. Namun, apabila diperhatikan lebih seksama, pada arca Sang Buddha terdapat perbedaan posisi tangan. Setiap posisi tangan, dimaknai secara khusus oleh pembuat atau pemahatnya. Terdapat arca Sang Buddha dengan posisi tangan meditasi, mengajarkan Dhamma, bertekad kuat dsb.
Bentuk Buddharupang sebenarnya lebih menunjuk pada kualitas kebaikan manusia daripada melambangkan wajah Sang Buddha pada saat Beliau masih hidup. Oleh karena itu, sangat wajar kalau wajah dan bentuk tubuh Buddharupang berbeda dari satu negara dibandingkan dengan negara lain. Buddharupang model Borobudur di Indonesia jelas tampak berbeda dibandingkan dengan Buddharupang dari Thailand, Myanmar, Srilanka, Jepang, Tiongkok dan berbagai negara Buddhis lainnya. Baca Selengkapnya…
Nama ‘Samaggi Phala’ terdiri dari dua kata bahasa Pali, yaitu ‘Samaggi’ yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai: ‘Persatuan’ sedangkan ‘Phala’ adalah ‘Buah’. Jadi, ‘Samaggi Phala’ dapat diartikan sebagai ‘Buah Persatuan’.
Penggunaan nama ini dimaksudkan agar website Buddhis Samaggi Phala dapat dijadikan sarana menggalang persatuan para umat serta simpatisan Buddhis di manapun berada . . . . . .
9. MAGANDIYA SUTTA Magandiya (Mirip dengan sutta sebelumnya) [Dialog antara Magandiya dan Sang Buddha pada saat Magandiya menawarkan putrinya pada Sang Buddha untuk dijadikan istri.] Posting ini telah dilihat sebanyak :428 Print PDF
No. 330 SĪLAVĪMAṀSA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Memiliki kekuatan tiada,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang brahmana yang teringat akan moralitas (sila). Dua kisah yang sama telah diceritakan sebelumnya71. Kali ini, Bodhisatta terlahir sebagai pendeta kerajaan dari Raja Benares. ____________________ Dalam kisah ini, selama tiga hari [...]
Web Samaggi Phala dapat diakses melalui handphone pada alamat yang sama namun dengan tampilan berbeda yaitu Samaggi Phala Mobile Version.
Bila Anda menemukan kekurangan maupun link yang belum berfungsi sesuai harapan, jika berkenan, silahkan memberikan masukan maupun saran melalui fasilitas Kontak Kami.
Terima kasih atas segala perhatian, bantuan dan kerjasama yang telah diberikan.
Sekedar selingan :
Silahkan gunakan klik kiri mouse di kolam untuk memberi makan ikan-ikan yang sedang asyik berenang mengikuti arah mouse sebagai latihan berpikir dan berbuat kebajikan
Bagikan info pada halaman ini lewat Facebook, Twitter dsb.