Ketika Anak Bertanya Archives

Empat Jenis Manusia

 

EMPAT JENIS ATAU TINGKATAN MANUSIA

Jika diperhatikan dengan saksama, ada empat tingkatan bunga teratai pada gambar diatas yang melambangkan empat jenis manusia yaitu :

1. Para jenius (ugghatitaññu)
2. Para intelektual (vipacitaññu)
3. Mereka yang dapat dilatih (neyya)
4. Mereka yang tidak dapat dilatih (padaparama)

An. Ca. 21/183

KETERANGAN Baca Selengkapnya…

Posting ini telah dilihat sebanyak :1672

WU LIANG: Kaisar Biksu Pertama Tiongkok

Wu Liang

WU LIANG: Kaisar Biksu Pertama Tiongkok

(Epochtimes.co.id)

Kaisar Wu Liang (464-549 M), juga disebut Xiao Yan, lahir di Nanlanling Zhoudouli selama Dinasti Selatan (420-589). Xiao Yan memerintah selama 48 tahun dan meninggal pada usia 86. Dia termasuk salah satu kaisar yang hidup terpanjang dalam sejarah Tiongkok, kedua setelah Kaisar Dinasti Qing, Qianlong (1711-1799).

Menurut Zizhi Tongjian (Cermin Lebar Bagi Bantuan Pemerintah), penulisan sejarah klasik Tiongkok, Kaisar Wu “memiliki pengetahuan yang luas dan berpengalaman dalam literatur, teori Yin-Yang, berkuda, panahan, musik, baik gaya sepintas maupun kaligrafi, dan Wei-chi. “Dia sangat berbakat dalam sastra dan seni. Masyarakat menyebut ia beserta tujuh sastrawan terkenal lainnya sebagai “Delapan Sekawan Jingling”.

Kaisar Wu Liang mempercayai Taoisme sejak usia belia. Saat dia naik tahta pada tahun ketiga, dia memanggil dua ratus ribu biksu dan masyarakat awam, kemudian mengatakan bahwa ia akan meninggalkan Taoisme dan kembali ke Buddhisme. Dia berharap dapat membangun sebuah wilayah Buddhis, dimana akan membimbing orang dari fokus praktis akan ketenaran dan keuntungan melalui pembebasan pengejaran dari dunia debu merah. Baca Selengkapnya…

Posting ini telah dilihat sebanyak :1131

Katakan Buddha dengan double d

Katakan Buddha dengan double D

Budha berbeda dengan Buddha

Banyak orang menyebut istilah ‘Buddha’ hanya dengan SATU huruf D.
Padahal, kata ‘Budha’ dengan SATU D mempunyai makna yang lain.

Menurut Wikipedia, Budha (satu D) :

1. Hari Rabu dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Bali serta bahasa Jawa Kuna

2. Dalam mitologi Hindu, Budha (Sanskerta: बुध ; Budha) adalah nama untuk planet Merkurius, putra Candra (bulan) dengan Tara alias Rohini. Ia juga dewa barang dagangan dan pelindung para pedagang.

Mitologi

Dalam kitab Purana diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, Candra sang dewa bulan, bertikai dengan Wrehaspati, guru para dewa. Perselisihan tersebut disebabkan karena Candra menculik Tara, istri Wrehaspati. Untuk merebut Tara kembali, Wrehaspati berperang melawan Candra dengan bantuan laskar para dewa, sedangkan Candra dibantu oleh Sukracarya dengan laskar raksasa. Peperangan tersebut dikenal sebagai Tarakamaya Sanggrama. Brahma menengahi perang tersebut sehingga akhirnya perdamaian pun tercapai. Namun, Candra dan Tara sudah terlanjur memiliki keturunan, dan diberi nama Budha. Sebagai anak yang lahir dari hubungan yang tak direstui, Wrehaspati pun enggan mengasuh Budha sebagai putra tirinya.

Budha jatuh cinta kepada Ila, putri Manu. Mereka akhirnya menikah dan memiliki putra yang diberi nama Pururawa. Kemudian, Pururawa berputra Ayu, Ayu berputra Nahusa, Nahusa berputra Yayati, dan Yayati berputra Puru. Para raja tersebut merupakan para raja Dinasti Candra, karena mereka adalah keturunan Candra. Setelah beberapa generasi, lahirlah para Pandawa dan Korawa yang termahsyur dalam wiracarita Mahabharata.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Budha

Posting ini telah dilihat sebanyak :741

Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo (02)

02
Sepuluh Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo

22 November 2010 s.d. 28 November 2010

01. Rayno
Monday, 22 November 2010

Pencapaian jhana

Bhante, saya ingin bertanya tentang apakah benar memang ada kelompok orang yang tidak bisa mencapai jhana apabila dia bukan tihetuka puggala? Saya mendapat informasi ini dari buku ulasan ttg Abhidhamma.
Apakah benar jika seseorang hermaprodit maka tidak bisa mencapai jhana?
Apakah benar orang yang lesbian juga tidak bisa mencapai jhana?
Bagaimana seseorang bisa mengetahui jika dia itu tihetuka puggala?
Apakah pencapaian jhana juga tergantung apakah dia itu cacat atau tidak?
Terima kasih Bhante Uttamo.

Jawaban :
Meneliti pertanyaan di atas, kiranya cukup banyak yang disampaikan dan hampir semua berada dalam area teori. Diskusi teori Dhamma maupun meditasi dapat dilakukan dalam banyak forum tanya jawab lain yang mudah ditemukan lewat internet. Jadi, di sini semua pertanyaan di atas hanya akan dijawab secara umum. Semoga keterbatasan ini tidaklah mengecewakan.

Jhana adalah pencapaian meditasi dengan tingkat konsentrasi yang baik. Untuk mencapai jhana diperlukan latihan yang tekun dan penuh semangat.
Apabila seseorang – tanpa harus memikirkan kondisi dirinya sebagai hemaprodit, lesbian dsb – berusaha dengan sungguh-sungguh untuk berlatih konsentrasi secara rutin, maka mungkin saja ia mencapai jhana dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya.

Semoga dengan jawaban ini semakin banyak orang berlatih meditasi untuk mengembangkan konsentrasi. Hanya saja perlu diingat bahwa tingkat konsentrasi tinggi bukanlah tujuan dalam Ajaran Sang Buddha. Dalam pelaksanaan Dhamma, tingkat konsentrasi hendaknya dipergunakan untuk mengembangkan kesadaran setiap saat. Jadi, selalu gunakanlah konsentrasi pada saat bekerja, berbicara maupun berpikir agar mampu selalu sadar setiap saat pada semua segi kehidupan sebagai tujuan praktek Dhamma. Baca Selengkapnya…

Posting ini telah dilihat sebanyak :2572

Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo (01)

01
Sepuluh Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo

13 November 2010 s.d. 20 November 2010

01. Handoyo Tejasoewita
Saturday, 13 November 2010

Meditasi

Di saat meditasi saya fokus pernafasan pikiran terasa fokus ke jasmani. Dan pikiran seolah hanya melihat jasmani tanpa ada reaksi apapun seperti diam tanpa reaksi.
Mohon petunjuk dari Bhante.
Namo Buddhaya.
Terima kasih.

Jawaban :
Dalam meditasi, bila menggunakan obyek pernafasan, maka pikiran hendaknya tetap dipusatkan pada obyek yang sudah dipilih tersebut.
Namun, bila terasa fokus pada jasmani yaitu lubang hidung, misalnya, maka konsentrasi meditasi sudah benar.
Bila fokus terasa bukan pada jasmani yang berhubungan dengan obyek yang sudah dipilih, hendaknya pikiran dikembalikan pada obyek pernafasan lagi. Baca Selengkapnya…

Posting ini telah dilihat sebanyak :4825

Empat Kesunyataan Mulia

Empat Kesunyataan Mulia

Ceramah YM Ajahn Chah
Sumber : Note Facebook BUC

Hari ini saya di undang kepala biara untuk membabarkan ajaran kepada anda, jadi saya minta anda duduk dengan tenang dan memusatkan pikiran.

Karena kendala bahasa, kita harus menggunakan seorang penerjemah, tanpa perhatian yang seksama anda mungkin tidak mengerti.

Selama saya tinggal di sini saya merasa senang, baik guru maupun anda semua, para muridnya, telah memperlakukan saya dengan ramah, dengan senyum, sepertinya anda telah mempraktekkan Dhamma yang sesungguhnya, Tempat kalian ini juga sangat mengagumkan dan begitu luas. Saya mengagumkan dedikasi anda yang berusaha merenovasinya dan menyediakan tempat untuk berlatih Dhamma. Baca Selengkapnya…

Posting ini telah dilihat sebanyak :1868
 Page 1 of 25  1  2  3  4  5 » ...  Last »