Wednesday, November 3rd, 2010 at 1:29 am
DHAMMA-SARI
Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma
Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda,
Cetakan Kesembilan, 1994

BAB I
SANG BUDDHA
Sang Buddha, yang nama benarnya Siddhatta (Skt. Siddhartha) dan nama keluarganya Gotama (Skt. Gautama) bertempat tinggal di India Utara di Kapilavatthu pada abad keenam S.M. Ayahnya, Raja Suddhodana, adalah raja kerajaan wangsa Sakya (sekarang Nepal). Ibunya bernama Maya Devi. Menurut kebiasaan pada waktu itu, Beliau dinikahkan pada usia yang sangat muda, yaitu usia 16 tahun, kepada seorang putri yang cantik sekali yang bernama Yasodhara. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :690
Tuesday, October 26th, 2010 at 9:02 am
BAB VI
TAMBAHAN
KALAMA SUTTA
A-I-191
Demikianlah telah kudengar:
1. Suatu ketika Yang Dirahmati (Sang Buddha) mengembara di negara Kosala dengan rombongan besar bhikkhu dan memasuki kota Kesaputta.
Suku Kalama, yang menjadi penduduk kota Kesaputta mendengar bahwa Pertapa Gotama, seorang putra dari suku Sakya yang pergi bertapa, sekarang telah tiba di Kesaputta.
Berita yang tersiar luas tentang Pertapa Gotama yang sekarang menjadi Buddha, mengatakan:
“Beliau adalah Arahat, Yang memperoleh Penerangan Agung, Sempurna Dalam Pengetahuan dan Pelaksanaannya, Yang Terbahagia, Pembimbing Manusia Yang Tiada Taranya, Guru Para Dewa dan Manusia, Sang Buddha, Yang Dirahmati. Beliau memberitahukan dunia ini, bersama-sama dengan alam para dewa, mara, dan brahma, disertai para pertapa, brahmana, para dewa, dan manusia, sesuatu yang Beliau sendiri telah mengerti melalui pengetahuan yang luar biasa. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, baik dalam teori maupun dalam pelaksanaannya. Secara sempurna Beliau menerangkan tentang penghidupan suci yang benar-benar bersih. Sungguh berharga sekali dapat melihat Arahat tersebut!”
Karena itu, maka suku Kalama dari Kesaputta datang mengunjungi Sang Buddha. Tiba di sana, ada yang memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada dan kemudian duduk di satu sisi; ada juga yang memberi hormat dengan berlutut, ada yang memberi hormat hanya dengan ucapan; ada yang menyembah; ada yang memberitahukan nama dan nama keluarganya; dan ada juga yang terus duduk tanpa mengucapkan kata apa pun. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :839
Tuesday, October 26th, 2010 at 8:47 am
BAB V
HARI-HARI TERAKHIR
Maha Parinibbana Suttanta (D.II-16)
CULLAVAGGA XI
(Vin. II; B.D.V)
Ayasma Maha Kassapa bercerita kepada para bhikkhu :
“Pada suatu waktu aku bersama-sama dengan kira-kira lima ratus bhikkhu sedang berada dalam perjalanan dari Pava menuju Kusinara. Kemudian aku berhenti di pinggir jalan dan mencari tempat duduk di bawah pohon yang rindang.”
Pada waktu itu lewat di depanku seorang pertapa “tak berpakaian” dengan membawa bunga Pohon Karang, yaitu semacam bunga yang hanya dapat ditemukan, bila terjadi peristiwa penting. Lalu aku menyapa pertapa tersebut, “Apakah Anda kenal Guru kami?” Ia menjawab, “Benar, aku mengenal Guru Anda, tetapi Beliau telah mangkat seminggu yang lalu. Oleh karena itulah aku dapat memperoleh bunga Mandarava (Pohon Karang) ini.” Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :715
Tuesday, October 26th, 2010 at 8:40 am
BAB IV
MASA MENYEBARKAN DHAMMA
Mulai Menyebarkan Dhamma
Pada suatu hari, Sang Buddha memanggil berkumpul murid-muridNya yang berjumlah enam puluh orang Arahat dan berkata, “Aku telah terbebas dari semua ikatan-ikatan, oh Bhikkhu, baik yang bersifat batiniah maupun yang bersifat badaniah, demikian pula kamu sekalian. Sekarang kamu harus mengembara guna kesejahteraan dan keselamatan orang banyak. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama. Khotbahkanlah Dhamma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan mulia pada akhirnya. Umumkanlah tentang kehidupan suci yang benar-benar bersih dan sempurna dalam ungkapan dan dalam hakekatnya. Terdapat makhluk-makhluk yang matanya hanya ditutupi oleh sedikit debu. Kalau tidak mendengar Dhamma, mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat yang besar. Mereka adalah orang-orang yang dapat mengerti Dhamma dengan sempurna. Aku sendiri akan pergi ke Senanigama di Uruvela untuk mengajar Dhamma.” Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :606
Tuesday, October 26th, 2010 at 8:33 am
BAB III
PEMUTARAN RODA DHAMMA
Setelah tiba di Benares, kelima orang pertapa melihat Sang Buddha sedang memasuki Taman Rusa. Seorang dari lima pertapa itu mengatakan, “Kawan-kawan, lihat, Pertapa Gotama sedang memasuki taman, ia adalah orang yang senang dengan kenikmatan dunia. Ia tergelincir dari kehidupan suci dan kembali ke kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Sebaiknya kita tidak usah menyapanya. Lagipula kita jangan memberi hormat kepadanya. Kita sebaiknya juga jangan menawarkan diri untuk menyambut mangkuk dan jubahnya. Kita hanya menyediakan tikar untuk tempat duduknya. Ia boleh menggunakannya kalau mau dan kalau tidak mau, ia boleh berdiri saja. Siapakah yang mau mengurus seorang pertapa yang telah gagal?”
Waktu Sang Buddha datang lebih dekat, mereka melihat bahwa ada sesuatu yang berubah dan Sang Buddha tidak sama dengan Pertapa Gotama yang dulu mereka kenal. Ia sekarang kelihatannya lebih mulia dan agung, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Meskipun mereka semula sudah sepakat untuk tidak menghormat kepada Sang Buddha, namun sewaktu Sang Buddha mendekat, mereka seolah-olah lupa kepada apa yang mereka sepakati.
Seorang diantara mereka maju ke depan dan dengan hormat menyambut mangkuk dan jubah-Nya, sedangkan yang lain sibuk menyiapkan tempat duduk dan yang lain lagi bergegas mengambil air untuk membasuh kaki Sang Buddha. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :830
Tuesday, October 26th, 2010 at 8:28 am
BAB II
PELEPASAN AGUNG
Pangeran Siddhattha Meninggalkan Istana
Untuk menyambut kelahiran cucunya, Raja menyelenggarakan satu pesta yang besar dan meriah. Tetapi Pangeran kelihatan tidak gembira. Pangeran dengan hati-hati mendekati Raja dan mohon izin untuk mencari obat terhadap usia tua, sakit, dan mati. Hal ini menimbulkan amarah Raja.
Izin tidak diberikan seperti dapat kita ikuti dalam percakapan di bawah ini (dikutip dari buku Mahavastu II, halaman 141/2).
“Ayah, kalau tidak diberi izin saya mohon Ayah berkenan memberikan kepadaku delapan macam anugerah.”
“Tentu saja, anakku, aku lebih baik turun tahta daripada tidak meluluskan permintaanmu.”
“Kalau begitu, mohon Ayah memberikan kepadaku: Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :724