Alasan Bhikkhu Uttamo Memilih Agama Buddha

(Transkrip dari video)

Senang sekali dapat berjumpa dengan Anda semua dalam kesempatan ini.

Dan memang kalo di ceritakan, dulu sih saya memang bukan Buddhis, sejak di dalam kandungan bukan Buddhis. Turunan saya, eh maksud saya atasan saya kalo turunan kan di bawah saya, saya ga ada bawahnya, isteri, anak. Tapi atasan saya maksud saya orang tua, kemudian saudara-saudara dari ayah, saudara-saudara dari ibu memang tidak ada yang  Buddhis. Sehingga ketika saya belajar agama Buddha, orang-orang juga heran dengan saya, kok bisa? Padahal lingkungannya juga bukan Buddhis.

Apa sebetulnya yang memotivasi seseorang belajar agama Buddha, khususnya saya?

Sebenarnya karena berdasarkan sebuah pertanyaan yang umum sekali yaitu kalo memang manusia ini ada yang mencipta, yang membuat, yang mengadakan, kenapa kok lain-lain?

Kenapa ada orang yang di buat, hidupnya bahagia sekali?
Kenapa ada orang yang di buat, sejak lahir terkondisi di tempat yang menderita sekali?
Kenapa ada orang yang di buat, sejak kecil pandai sampai tua?
Kenapa ada orang yang di buat, sejak kecil idoit terus, sampai tua pun tetap idiot?
Ini membuat sebuah pertanyaan buat saya.

Kemudian, saya mencoba mempelajari berbagai agama yang ada di masyarakat, jawabnya selalu rahasia, apapun pertanyaannya jawabnya selalu rahasia. Nah saya ini kurang suka rahasia. Kalo agama saja yang berisi tentang kebenaran saja di rahasiakan, apalagi yang berisi tentang kejahatan, pasti lebih rahasia lagi, ya kan?
Kan pertemuan-pertemuan terbuka seperti ini, pasti karena isinya yang baik-baik, coba kalo kita berdiskusi tentang yang jahat-jahat saya kira ga akan di tempat terbuka seperti ini, dan bisik-bisik lagi.

Nah oleh karena itu saya melihat ini kalo rahasia-rahasia terus kok rasanya kurang sesuai yah, kemudian saya mencoba “Ah, cobalah saya belajar agama Buddha.”

Dulu waktu SMA, teman saya ada satu yang Buddhis, dia memakai kalung yang besar-besar, sekarang saya mengerti nampaknya dia dulu di kasih kalung sama bhikkhu A di tempel, bhikkhu B kasih lagi ke dia di tempel lagi, jadi banyak kalungnya, saya melihatnya udah seperti dukun. Saya kalo mendengar dia cerita macam-macam mengenai agama Buddha, saya dulunya ga begitu berminat, waktu SMA itu. Tapi kemudian setelah masuk perguruan tinggi, waktu itu tahun 1980, jadi saya kenal agama Buddha belum lama, mungkin para bapak dan ibu jauh lebih lama kenal agama Buddha daripada saya.

Saya bisa mengenal agama Buddha karena saya bertanya dengan seorang pandita di sebuah kelenteng di Yogyakarta, inilah pertanyaan saya kepada pandita itu.

* Kenapa manusia itu lain-lain?
Pandita itu menjawab : Karena kita lahir bukan sekali saja, orang yang pandai di zaman ini, itu karena dia dulunya sudah suka membagikan kemampuan pikirannya, dia punya inisiatif untuk melakukan suatu kebaikan, dia selalu menggunakan otaknya untuk kebaikan orang lain manfaatkan untuk kebahagiaan lingkungannya, maka dia menjadi orang pandai.
Kenapa jadi orang bodoh? Karena di kehidupannya yang lampau dia suka cuek-cuek, kalo di tanya “Ini kenapa begini? Jawabnya ga usah di pikirin.” lama-lama karena sering berkata ga usah di pikirin, otaknya ga pernah di pakai, begitu meninggal kemudian lahir kembali dia menjadi bodoh sungguhan.

* Kenapa ya kok ada orang yang sejak lahir kakinya ga ada?
Karena dulu dia suka meniadakan kakinya mahluk lain, contohnya jangkrik kakinya di copotin. Karena sering meniadakan kaki mahluk lain, makanya sekarang dia tidak memiliki kaki. Kenapa juga ada yang terlahir memiliki kaki tambahan dua di perut? Karena kadang ada yang suka iseng, jangkrik kakinya di copotin, terus buat di tempel di jangkrik yang lain, untuk main-main atau eksperimen.

Kemudian pertanyaan itu terus saya tanya macam-macam dan ada jawabnya semua.

* Bagaimana membuktikan kalo ada kehidupan yang dulu?
Karena kalo ga bisa membuktikan, yah itu nanti nya cuma jadi rahasia lagi.
Nah biasanya buktinya dengan meditasi, terus orang meditasi tapi ga dapat apa-apa, ga ketemu kehidupan yang dulu itu.
Nah, orang yang saya tanya itu kemudian mengeluarkan beberapa laporan jurnal kesehatan dari Eropa. Dia mengatakan ini loh buktinya, dokter-dokter yang bukan Buddhis itu  menggunakan hipnosis, menghipnosis seseorang kemudian orang ini bisa di tanyain, kamu inget ga dulu waktu masih kecil? Kamu inget ga dulu waktu masih bayi? Kamu inget ga dulu sebelum di lahirkan? dan seterusnya, akhirnya terbukti mereka yang dulunya menyiksa mahluk, sekarang hidupnya juga kurang bagus. Mereka yang dulu hidupnya selalu berbuat baik, sekarang hidupnya bahagia.

Nah itu yang pertama kali membuat saya berpikir, “Eh, ternyata Agama Buddha itu bisa di buktikan, bukan isinya rahasia, kalo demikian saya ingin belajar.”

Ternyata di dalam Dhamma ini, apa saja bisa menjadi pelajaran. Saya berangkat dari muka yang beda-beda, kenapa? Karena saya melihat di dalam kehidupan saya, waktu sekolah selalu di suruh belajar biar pinter, semua anak di suruh belajar biar pinter. Jadi kalo nanti dirinya tidak pinter di kelas, itu kemudian nengok ke kanan, nengok ke kiri, kenapa kok yah aku ga pinter? Ini kan terjadi perbedaan awal. Ketika saya kecil saya seperti itu. Kenapa saya belajar ngotot, belajar mati-matian tetap ga pinter-pinter? Teman saya yang santai-santai, baca komik, kok lebih pinter? Nah itu yang membuat dasar pertama kenapa manusia beda.

Tapi tentu banyak orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang Dhamma. Maksudnya mengenal Dhamma itu tidak harus dari perbedaan.

Ada suatu ketika, orang yang anti Buddhis, dulu sebenarnya saya juga anti Buddhis tapi itu sudah cerita lama, sekarang saya cerita tentang orang lain yang anti Buddhis, dia datang ke vihara untuk menunjukkan anti Buddhisnya.

* Anti Buddhis : “Bapak Bhikkhu, saya itu orang yang tidak suka agama Buddha.”
* Saya (Bhante Uttamo) : “Loh ngapain kamu ke vihara kalo kamu tidak suka?”
* Anti Buddhis : “Karena saya kasian sama bapak bhikkhu, saya kepingin bapak bhikkhu jangan jadi bhikkhu, juga jangan jadi Buddhis, saya kasian saya mao menyelamatkan bapak bhikkhu.”
* Saya : “Oh, Terima kasih.”

“Kalo kita ketemu orang yang berniat baik, kita harus mengucapkan terima kasih.”

* Lalu Saya bertanya, “Kenapa kamu kok kepingin menyelamatkan saya?”
* Anti Buddhis : ” Karena saya melihat umat Buddha itu senang patung-patung, berhala.”
* Lalu saya jawab : “Patung di dalam agama Buddha, bukan di jadikan tempat permintaan. Kalo orang bisa minta selamat kepada patung, saya yakin patungnya sewaktu sedang gempa, dia bisa lompat, pasti dia bisa menyelamatkan dirinya dulu, sebelum dia menyelamatkan orang lain.”

Umat Buddha tidak menganggap patung sebagai tempat permintaan, kalo patung bisa bikin umat Buddha kaya, saya yakin ketika umat Buddha sembahyang terus kaya, tidak ada umat Buddha yang kerja, sembahyang terus di depan patung, terus duitnya jatuh di depannya. Waduh, saya kira ini patung mengalahkan percetakan uang negara.
Tidak, kita umat Buddha tidak begitu.

Terus, itu ada yang sembahyang minta obat, wah ini patung bisa sekolah kedokteran nampaknya, orang sakit sembahyang sembuh, ga perlu ke rumah sakit. Saya katakan, bukan demikian.

Umat Buddha melihat patung Buddha itu sebagai lambang, lambang apa ini? Lambang semangat hidup. Pangeran Siddharta dari India, anak raja, meninggalkan istana untuk mencapai cita-citanya. Setiap orang pasti punya cita-cita, setiap orang pasti punya keinginan, dan untuk mencapai keinginan itu, dia membutuhkan perjuangan. Pangeran Siddharta meninggalkan istana untuk mencapai cita-citanya, dia butuh 6 tahun lamanya. 6 tahun berusaha, 6 tahun berjuang keras dengan mati-matian, dan akhirnya tercapai kesucian.

Itu kalo umat Buddha melihat patung Buddha, apa yang dia inginkan dia melihat itu sebagai contoh, kalo saya punya keinginan mao usahanya lancar, mao punya pasangan hidup, mao punya apa saja misalnya, saya melihat patung Buddha itu, wah kok sulit yah kerja kok ga sukses-sukses yah, “Yah Pangeran Siddharta saja 6 tahun berani berjuang, apalagi saya, harus berjuang. Berjuang.” Jadi begitu lihat patung Buddha, semangat yang loyo-loyo itu akhirnya bangkit, aku harus berjuang. Itu sebetulnya patung Buddha.

Jadi kalo orang yang sakit sembahyang, itu bukan minta obat, loh saya harus berjuang untuk menemukan dokter yang hebat, kemana saja saya harus berusaha, jangan sampe terus saya meminta pada patung supaya sembuh, tetapi saya berjuang, kenapa? Karena Pangeran Siddharta saja berani meninggalkan istana, berani meninggalkan kesenangan, untuk mencapai keberhasilan.
Nah orang sakit meninggalkan kesenangan itu seperti apa? Yah di suntik sana, suntik sini, di periksa sana, di periksa sini, yah sudah untuk mencapai hasil yaitu Kesembuhan.

Pada saat kita mengalami kesulitan di dalam pekerjaan, kita melihat patung Buddha, bukan sembahyang minta rejeki, sehingga loh kok saya sudah sembahyang habis-habisan, dupanya sudah banyak, kok duitnya ga keluar-keluar di meja sembahyang ini, malah tikus yang dateng, kecoa lagi, cicak lah. Bukan seperti itu, tapi kita harus berpikir, “Loh Pangeran Siddharta saja 6 tahun berani berjuang meninggalkan kebahagiaan yang di istana.” Berarti kalo saya mau sukses dalam pekerjaan, saya juga harus meninggalkan kesenangan saya, kencangkan ikat pinggang, terus kerja, berjuang dan berjuang, pasti sukses.

Nah ini sebetulnya patung Buddha sebagai lambang.

“Lah terus ngapain pake dupa? Itu kan pekerjaannya dukun, karena saya kalo pergi ke dukun”, ini kata-kata si anti Buddhis tadi, setelah saya menerangkan patung Buddha dia mengerti, lalu dia mencoba yang lain, “Lah itu apa gunanya dupa? Dupa itu kan jelas pekerjaannya demit, pekerjaannya setan, pekerjaannya iblis.”

Saya katakan, umat Buddha pake dupa itu juga punya lambang, bahwa seperti dupa yang wangi, umat Buddha itu harus melihat tindakannya dia, mampu ga dia setelah memasang dupa wangi yang harumnya semerbak keseluruh ruangan itu, mampu ga dirinya itu mewangikan lingkungannya?

Dupanya tiga batang, karena ini mewakili Pikiran, Ucapan dan Perbuatan. Jadi ketika seorang umat Buddha memasang dupa tiga, itu artinya mampu ga pikiran, ucapan dan perbuatan saya di arahkan untuk mewangikan ruangan? Mewangikan lingkungan saya, jadi kepada orang tua selalu mewangikan dengan pikiran yang baik, ucapan yang baik dan perbuatan yang baik, kepada teman juga demikian, kepada teman kerja, bahkan kepada musuh sekalipun begitu, karena asapnya dupa itu tidak milih musuh. Jadi tadi kan kamu yang anti Buddhis, waktu saya pasang dupa, itu tidak asapnya waktu melihat hidungmu, oh ini anti Buddhis yah terus dia belok, cari yang lain, tidak! Kamu anti Buddhis tetep hidung kamu di masukkan wangi dupa, saya yang Buddhis tetep masuk wangi dupa, dan dupanya tidak milih, “Oh ini Bhikkhu nih, masuknya lebih banyak dupanya, biar berkat katanya, terus kepada yang anti Buddhis di belokkan, tidak seperti itu!”
Asap dupa itu kemana saja sama masuknya, artinya ketika umat Buddha sembahyang, itu kemudian berpikir, “Apakah pikiran saya, ucapan saya, dan perbuatan saya bisa tidak membedakan, kebajikannya ini baik kepada mereka saudara kita, keluarga kita, teman kita, orang yang tak di kenal, bahkan musuh kita. Tidak akan kita bedakan kebajikannya.”
Nah itulah dupa.

Lah itu kembang-kembang, itu kan juga kerjaannya demit, dukun.
Salah! Kembang itu menunjukkan waktu. Bahwa kebajikan kita itu ada umurnya. Hari ini kembangnya bagus, yah ini di meja kembangnya sungguhan, biasa saya kalo ceramah kembangnya karet, kembangnya plastik, tapi kalo ini asli. Kembang yang asli ini mekar indah, tapi besok layu di buang, artinya ini ada umur. Ketika dia bagus, ketika dia mekar indah dia di letakkan di tempat yang bagus, demikian pula diri kita. Ketika diri kita masih indah, ketika diri kita masih kuat, ketika diri kita masih sehat, pikiran, ucapan dan perbuatan kita berikan yang terbaik kepada lingkungan kita siapapun juga.

Karena begitu kita seperti bunga yang layu, langsung kita ga bisa apa-apa di tempat tidur, langsung nafas juga lupa, kita cuma di buang, ya kan? Anda sudah pernah bertemu dengan orang yang tak bermanfaat? Nafas saja sudah tidak ada, kan juga sudah tidak di simpan, di buang, sama dengan bunga di buang. Demikian pula seseorang yang sudah tidak ada nafas, sudah meninggal juga demikian, maka ketika kita meninggal dunia kita sudah tidak ada artinya lagi, kita akan di buang.
Nah mumpung masih segar, mumpung masih sehat, ketika kita melihat bunga di altar, mumpung masih segar, mumpung masih sehat, mumpung masih kuat, ayo isi pikiran dengan yang baik, ucapan baik dan perilaku baik.

Nah akhirnya orang yang anti Buddhis itu mulai tau, “Eh, ternyata agama Buddha ini altarnya bukan sembahyang setan Altarnya ini pelajaran, sehingga setiap kali umat Buddha memasang dupa dia ingat perilakunya supaya menjadi lebih baik, ketika dia melihat bunga, dia ingat bahwa kematian akan selalu datang kita harus mengisi hidup ini dengan kebaikan.”

Sejak itu dia sudah tidak memusuhi agama Buddha, masalah dia tidak jadi Buddhis, itu urusan dia. Karena di dalam Dhamma, seseorang mau belajar Dhamma, tidak harus dia menjadi seorang umat Buddha.
Orang boleh melaksanakan Dhamma tanpa dia mengaku dirinya umat Buddha pun tidak masalah.

Kenapa?
Karena di dalam Dhamma yang paling penting adalah perubahan pikiran, menjadi orang yang lebih baik. KTP-nya Buddhis tiga kali, kemudian sudah mengumpulkan foto-foto dengan bhikkhu yang banyak sekali, di beberapa tempat rumah orang, saya melihat di pajang foto dengan bhikkhu bermacam-macam, padahal biasanya kalo saya melihat fotonya dia salaman dengan Presiden, foto salaman dengan menteri, foto salaman dengan pak camat, foto salaman dengan calon mertua, ini foto dengan bhikkhu ini, bhikkhu itu, wah senang sekali. Tapi kalo perilakunya belum berubah, dia bukan Buddhis, dia masih KTP-nya yang Buddhis.

Tapi kalo dengan bhikkhu sekalipun tidak ada yang di kenal, kemudian tata upacara tadi yang di baca juga ga ngerti, saya dulu juga begitu waktu pertama kali buka buku agama Buddha, ini tulisan kok ngumpul semua, apa ini. Sudah ga ngerti yang begituan, kalo pun tidak mengerti itu tidak masalah, karena selama perilaku kita baik, ucapan kita baik, cara berpikir kita baik, dan selalu menyadari hidup yang tidak kekal ini, selalu berubah, terbatas oleh waktu. Ini sudah ajaran Sang Buddha, dan kita boleh jalani hal itu, tanpa berubah KTP.

Oleh karena itu kemudian orang yang anti Buddhis itu sekarang sudah tidak lagi memusuhi agama Buddha, tetapi dia tetap dengan agamanya sendiri juga bagi saya tidak keberatan, itu urusannya dia, karena pemilihan agama adalah kecocokan, tapi masalahnya sekarang dia sudah tidak menentang lagi karena dia sudah mengerti apa sih itu agama Buddha. Nah ini yang lebih saya tekankan, kenapa kita memilih agama Buddha? Karena agama Buddha bisa di gunakan oleh siapapun juga, itu kalo pakaian yang all size, all sex lah. Siapa saja bisa pakai. Seperti sandalnya hotel aja loh, siapa saja bisa pakai, mau laki mau perempuan bisa pakai, tidak ada problem. Karena kalo agama Buddha ini ajarannya hanya berlaku bagi umat Buddha saya malah ga suka.

“Sebelum kamu bernamaskara atau bersujud di depan patung Buddha kamu belum umat Buddha, nanti ga saya kasih pelajaran agama Buddha, saya malah ga ikut.” Tapi justru seni nya di agama Buddha ini adalah walaupun kita ga ngerti patung Buddha, walaupun kita ga ngerti upacara dhamma, tapi apabila kita mau melaksanakan dan mau berubah itu sebetulnya kita sudah Buddhis dan ini yang membuat bagi saya agama Buddha memang layak untuk menjadi jalan hidup kita.

Pertanyaan dari Pak Yani Dhamma :
– Mohon maaf Bhante, ini agak pribadi sedikit apakah ada tentangan, terutama dari pihak keluarga sampai Bhante meninggalkan agama yang dulu, terus sampai sekarang menjadi bhikkhu?

Jawaban Bhante Uttamo :
– Kalo tentang pemilihan agama tidak ada, karena saya dari kecil suka bertanya-tanya tentang agama dan suka belajar agama di mana-mana, jadi pindah agama itu sudah rutinitas, nah sehingga satu ketika ibu saya melihat saya belajar agama Buddha bagi dia juga itu adalah hal yang biasa, “Yah paling 2 bulan lagi juga ditinggal.”

Tetapi ketika saya berniat menjadi bhikkhu itu yang problem, karena di keluarga kami tidak ada sejarah orang yang tidak kawin. Jadi ketika saya berbicara kepada ibu saya, bahwa saya mau menjadi bhikkhu, ibu saya menjawab, “Loh di dunia ini manusia di ciptakan berpasang-pasangan.” Lalu saya menjawab, “Lah kenapa tetangga kita ada yang ga kawin? Sampe tua jenggotan juga ga kawin? Mana pasangannya dia? Si itu juga sudah tua sampe jenggotan juga ga kawin, yang lain-lain saya tunjukkan, sampai ibu saya ga bisa ngomong.” Dan artinya orang lain juga tidak mengatakan, hidup itu manusia di ciptakan pasangan-pasangan, karena perkawinan itu adalah pilihan, bukan keharusan. Nah itu pertama saya sampaikan demikian.

– Kemudian yang kedua, dia keberatan nanti ga bisa ketemu kalo kamu jadi bhikkhu, saya bilang bisa. Jadi bhikkhu kan bukan berarti hilang langsung pindah alam, nanti tetep bisa ketemu, tenang saja. Tetapi bagaimana ini, kamu kan tidak bisa berbakti kepada orang tua? Saya jawab, berbakti kepada orang tua itu tidak harus punya anak, karena ada satu konsep bakti, orang itu harus menikah dan punya anak, kan begitu? Melanjutkan keturunan dan seterusnya. Saya ngomong, kalo menikah dan punya anak kemudian jadi penjahat kamu malah stress loh, saya tidak menikah tetapi kan jadi orang baik, apa kamu stress saya jadi orang baik? Apa kamu senang saya jadi orang jahat? Jadi bhikkhu itu jadi orang baik, kenapa kamu tangisi? Apa saya suruh jadi penjahat biar kamu ga tangisi? Dia diam.

– Nah kemudian saya jawab lagi, kalo punya istri dan punya anak itu hanya membahagiakan kamu, dan membahagiakan keluarga mertua, tapi kalo menjadi bhikkhu, itu membahagiakan banyak mertua, banyak istri, banyak suami dan lain-lain. Kenapa demikian? Karena memang jadi bhikkhu kan pelayanan sosial, orang yang stress sama mertua yah cerita, mertua yang stress sama menantu yah cerita, anak yang stress sama orang tua yah cerita, orang tua stress punya anak juga cerita, nah endingnya jadi bhikkhu kan mencoba memberikan solusi.

Saya katakan, seandainya kamu punya uang seribu rupiah bisa beli roti di satu toko ini satu, lalu di toko sebelah itu sepuluh, kamu mau pilih roti dimana? Yah pasti beli yang sepuluh, nah itu dia kamu kan pasti beli yang sepuluh, nah saya sebagai bhikkhu, kalo saya kawin itu saya seperti kamu punya uang seribu beli roti di satu toko, dapat satu saja, untuk membahagiakan istri sendiri, anak sendiri, mertua sendiri. Tapi kan uang seribu ini, kamu punya anak yang namanya saya ini kan sekarang jadi bhikkhu, itu kamu bisa dapat roti banyak artinya membahagiakan lebih banyak keluarga, kamu pilih yang mana?

– Nah kalo kakak saya yang menikah membahagiakan kamu di dunia ini, kalo kamu merelakan saya jadi bhikkhu, kamu saya bahagiakan di alam kelahiran berikutnya berkali-kali. Karena kebajikan kamu sebagai orang tua itu akan di rasakan oleh banyak pihak.

– Dan pertanyaan terakhir saya menanyakan, orang tua pengen ga anaknya bahagia? Owh yah pasti pengen. Nah kalo saya bahagianya kalo saya jadi bhikkhu. Yah sudahlah, langsung dia tanda tangan, yah karena sudah tidak ada pilihan lain.

SELESAI….
Semoga semua mahluk hidup berbahagia.

 

Sumber :

 

 

 

 

Posting ini telah dilihat sebanyak :23963

Filed under: Ceramah Bhikkhu UttamoNaskah DhammaVideo

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!