DHAMMA-SARI

Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma
Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda
Cetakan Kesembilan, 1994

BAB VIII
BHAVANA
(LATIHAN DAN PENGEMBANGAN MENTAL)

Sang Buddha bersabda. “O bhikkhu, terdapat dua macam penyakit. Apakah kedua macam penyakit itu? Penyakit badaniah (fisik) dan penyakit mental. Memang ada orang yang berbahagia dapat terbebas dari penyakit fisik untuk satu tahun lamanya, dua tahun … atau mungkin untuk seratus tahun lebih. Tetapi, O bhikkhu, anehnya sedikit saja orang yang dapat menikmati kebebasan dari penyakit mental hanya untuk satu saat lamanya, kecuali mereka yang telah bersih dari kekotoran batin, yaitu para Arahat. Ajaran Sang Buddha, khususnya cara bermeditasi, mempunyai tujuan untuk menghasilkan satu keadaan mental yang sehat dan sempurna, berkesinambungan dan tenang. Tetapi, sayang, tidak pernah ada satu bagian dari ajaran Sang Buddha yang begitu sering disalahtafsifkan seperti meditasi, baik oleh umat Buddha sendiri maupun oleh bukan umat Buddha. Pada saat kata meditasi disebut, orang lantas menciptakan gambaran pikiran tentang penyingkiran diri dari kesibukan penghidupan sehari-hari; dengan duduk dalam sikap tertentu, seperti sebuah patung di dalam goa atau kamar kecil di dalam vihara, di satu tempat yang jauh dari keramaian dunia, tenggelam dalam satu perenungan atau dalam salah satu keadaan gaib atau tidak ingat orang sama sekali (trance).

Meditasi Buddhis yang benar bukanlah berarti penyingkiran diri, semacam itu. Ajaran Sang Buddha mengenai persoalan ini sedikit sekali dimengerti dan begitu banyak disalahtafsirkan, sehingga akhir-akhir ini meditasi itu dipersempit dan direndahkan artinya menjadi satu macam upacara keagamaan belaka atau upacara biasa saja.

Banyak orang menaruh perhatian terhadap meditasi dan yoga agar memperoleh kekuatan batin atau kekuatan gaib lainnya seperti “mata ketiga” yang tidak dimiliki orang lain. Beberapa tahun yang lalu, seorang bhikkhuni di India telah mencoba mengembangkan kekuatan untuk dapat melihat melalui telinganya, padahal ia masih memiliki kemampuan untuk melihat dengan sempurna melalui matanya. Hal semacam ini tidak lain dari satu kebobrokan spiritual dan pada hakekatnya merupakan satu keinginan sangat atau kehausan akan kekuatan gaib.

Kata meditasi hanya mencakup sebagian kecil saja dari arti bhavana yang berarti melatih atau mengembangkan, yaitu melatih mental dan mengembangkan mental.

Bhavana memang sebenarnya berarti melatih dan mengembangkan mental dalam arti yang luas. Ia bertujuan untuk membersihkan pikiran dari kekotoran batin dan rintangan-rintangan, seperti keinginan hawa nafsu, kebencian, keinginan jahat, kemalasan, kejengkelan dan ketegangan, keragu-raguan dan melatih konsentrasi, kesadaran, kecerdasan, kemauan, kekuatan, kemampuan untuk menganalisa, keyakinan, kegembiraan, ketenangan, sehingga akhirnya menuju tercapainya kebijaksanaan tertinggi dan dapat melihat benda-benda dalam keadaan yang sebenarnya/sewajarnya dan menyelami Kesunyataan Mutlak, Nibbana.

Terdapat dua cara meditasi. Yang pertama ialah untuk mengembangkan konsentrasi mental (samatha atau samadhi), pikiran yang manunggal (Cittekaggata, Skt. cittraikagrata) melalui berbagai macam cara seperti terdapat dalam kitab-kitab yang menuju ke alam-alam gaib yang tertinggi seperti “alam dari kekosongan” atau “alam dari bukan pencerapan dan bukan bukan-pencerapan”. Semua alam gaib ini menurut Sang Buddha adalah ciptaan pikiran, hasil pikiran dan berkondisi (sankhata). Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pri Kebenaran, Kesunyataan dan Nibbana. Cara meditasi seperti ini sebelum zaman Sang Buddha sudah dikenal. Meskipun pada hakekatnya meditasi ini bukan meditasi Buddhis asli, cara ini termasuk juga di antara cara yang dipraktekkan oleh umat Buddha. Sang Buddha sendiri sebelum memperoleh Kesadaran Agung, mempelajari praktek-praktek para yogi di bawah asuhan beberapa guru dan telah berhasil mencapai alam-alam gaib yang tertinggi. Tetapi, Beliau tidak puas karena pencapaian ini tidak memberikan pembebasan yang sempurna dan tidak memberikan pandangan terang tentang Kesunyataan Mutlak, Nibbana. Beliau menganggap keadaan mistik ini sebagai “keadaan bahagia dalam kehidupan ini” (dittha dhamma sukha vihara) atau “kehidupan yang penuh kedamaian” (santa vihara) dan tidak lebih dari itu.

Oleh karena itu, Beliau menemukan cara meditasi lain yang dikenal sebagai Vipassana, pandangan terang terhadap keadaan yang sesungguhnya dari benda-benda yang menuju ke arah pembebasan sempurna dari pikiran dan penyelaman Kesunyataan Mutlak, Nibbana. Inilah cara meditasi Buddhis yang khas, latihan dan pengembangan mental Buddhis. Ini merupakan cara menganalisa, berdasarkan perhatian murni, kesadaran, kewaspadaan, pengamat-amatan.

Memang tidaklah mungkin untuk menguraikan persoalan besar ini dalam beberapa halaman saja. Tetapi bagaimanapun juga di sini akan di coba secara singkat dalam garis besarnya memberikan satu gambaran tentang meditasi Buddhis yang sejati, latihan dan pengembangan mental atau pendidikan mental dalam cara yang praktis.

Salah satu khotbah penting tentang meditasi yang pernah diberikan oleh Sang Buddha sendiri dinamakan (Maha) Satipatthana Sutta, Membangkitkan Perhatian Murni (Digha Nikaya no. 22 atau Majjhima Nikaya No. 10). Khotbah ini dalam tradisi begitu dihormati, sehingga bukan saja di vihara-vihara sutta ini sering dibacakan, tetapi juga di rumah-rumah keluarga buddhis sutta ini sering dibacakan; seluruh keluarga berkumpul dan mendengarkan dengan penuh rasa bakti.

Sutta ini juga sering dibacakan oleh para bhikkhu di samping tempat tidur orang yang hampir meninggal dunia untuk membersihkan pikirannya.

Cara meditasi yang diberikan dalam khotbah ini, bukanlah terpisah dari penghidupan dan bukan pula untuk menghindarkan penghidupan; tetapi sebaliknya cara ini ada hubungannya dengan penghidupan, perbuatan kita sehari-hari, kesedihan dan kegembiraan kita, ucapan dan pikiran kita, keadaan moral dan kecerdasan kita.

Khotbah ini dibagi dalam empat bagian besar:

  1. perenungan terhadap tubuh (kaya)
  2. perenungan terhadap perasaan (vedana)
  3. perenungan terhadap keadaan batin, (Citta)
  4. perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran (Dhamma).

Tetapi hendaknya selalu diingat bahwa apa pun juga cara meditasi yang tersebut di atas, yang terpenting ialah perhatian murni dan sadar (sati) dan pengamat-amatan (anupassana).

Kaya-Nupassana

Salah satu contoh yang paling populer dan praktis tentang meditasi dengan obyek badan jasmani ialah yang disebut Anapanasati (perhatian murni atau selalu sadar tentang masuk dan keluarnya napas). Tetapi untuk melakukan meditasi ini, menurut kitab Majjhima Nikaya 118, orang harus duduk dalam satu sikap tertentu. Untuk cara meditasi yang lain yang disebut dalam sutta, orang boleh duduk, berdiri, berjalan atau berbaring, menurut kehendak hati orang itu sendiri.

Tetapi untuk melatih perhatian murni tentang masuk dan keluarnya napas, menurut apa yang ditulis dalam kitab-kitab, orang harus duduk dengan kaki bersila, badan tegak dan perhatian murni serta selalu waspada. Tetapi, duduk bersila tidaklah dapat dilakukan oleh semua orang, terutama oleh orang Barat.

Oleh karena itu, mereka yang merasa sukar untuk duduk bersila diperbolehkan duduk di atas kursi dengan badan tegak dan perhatian murni serta selalu waspada dan sadar. Untuk latihan ini memang perlu sekali untuk duduk tegak, tetapi janganlah kaku dan tegang, dan tangan ditaruh secara enak di pangkuan. Dengan duduk begini orang boleh menutup matanya atau menatap ujung hidungnya menurut kehendaknya sendiri.

Siang dan malam Anda menarik napas, tetapi Anda tidak pernah memperhatikan ini dan Anda tidak pernah mengkonsentrasikan pikiran Anda terhadap persoalan ini, biarpun untuk sesaat lamanya. Maka sekarang, cobalah Anda lakukan hal tersebut. Bernapaslah seperti biasa, tanpa tekanan atau paksaan. Sekarang Anda harus mengkonsentrasikan pikiran Anda terhadap napas yang masuk dan keluar; pikiran Anda harus waspada dan amat-amatilah napas Anda yang masuk dan keluar itu; batin Anda harus selalu sadar dan waspada terhadap napas yang masuk dan keluar. Kalau Anda bernapas pada satu waktu Anda menarik napas panjang dan pada satu waktu tidak. Ini tidak apa-apa. Bernapaslah secara biasa dan wajar. Yang Anda harus perhatikan ialah kalau Anda menarik napas panjang Anda harus sadar bahwa Anda menarik napas panjang, dst. Dengan perkataan lain, batin Anda harus sepenuhnya dikonsentrasikan pada pernapasan Anda, sehingga Anda sadar setiap pergerakannya dan juga terhadap setiap perubahannya.

Lupakanlah hal-hal lain, tempat dan keadaan sekeliling Anda; jangan mengangkat mata dan jangan melihat apa-apa. Cobalah lakukan ini untuk 5 atau 10 menit lamanya. Pada permulaan Anda akan menjumpai kesukaran dalam mengkonsentrasikan pikiran Anda pada jalan pernapasan anda; dan Anda akan tercengang, mengetahui bahwa pikiran Anda itu lincah sekali dan tidak dapat diam. Anda akan berpikir tentang macam-macam hal atau Anda mendengar suara di luar. Pikiran Anda diganggu dan dibelokkan. Anda akan putus asa dan kecewa. Tetapi jika Anda melanjutkan latihan ini dengan tekun dua kali sehari, pada pagi dan malam hari selama 5 atau 10 menit, lambat laun Anda pasti akan dapat mengkonsentrasikan pikiran anda terhadap pernapasan Anda. Sesudah lewat beberapa waktu, Anda akan mengalami untuk beberapa detik lamanya bahwa pikiran Anda benar-benar terkonsentrasikan penuh pada pernapasan Anda, sehingga Anda tidak lagi mendengar suara-suara di dekat Anda dan Anda seakan-akan melupakan segala-galanya.

Detik-detik yang pendek ini memberikan Anda pengalaman yang hebat dan tidak dapat dilupakan, penuh dengan kegembiraan, kebahagiaan dan ketenangan, sehingga Anda ingin berusaha untuk melanjutkan pengalaman itu. Tetapi biasanya Anda tidak akan berhasil berbuat demikian. Namun kalau Anda tekun melanjutkan latihan Anda, nanti Anda akan dapat mengulangi pengalaman Anda itu sekali lagi dan sekali lagi, dan kali ini untuk waktu yang agak lebih lama. Itulah saat-saat di mana anda benar-benar tenggelam dalam perhatian murni pada pernapasan Anda. Selama Anda ingat diri Anda, Anda tidak mungkin dapat berkonsentrasi pada sesuatu. Latihan tentang perhatian murni terhadap pernapasan ini merupakan latihan yang paling sederhana dan mudah, dan dimaksudkan untuk membangkitkan konsentrasi yang menuju ke arah tercapainya keadaan gaib yang sangat tinggi (dhyana). Di samping itu, kemampuan berkonsentrasi dengan baik diperlukan sekali untuk memperoleh pengertian yang mendalam, penembusan, pandangan terang terhadap keadaan benda-benda yang sesungguhnya, termasuk penyelaman Nibbana.

Penting untuk diketahui bahwa latihan terhadap pernapasan ini dapat segera memberikan hasil kepada Anda. Meditasi baik sekali untuk kesehatan Anda, untuk dapat beristirahat, untuk dapat tidur dengan nyenyak dan untuk dapat mengerjakan pekerjaan Anda dengan lebih efisien. Selain itu, meditasi membuat Anda tenang dan sabar. Pada saat Anda merasa gugup atau gelisah, cobalah lakukan latihan ini untuk beberapa menit lamanya dan Anda akan dapat melihat sendiri bahwa Anda segera akan menjadi lebih tenang dan sabar. Anda akan merasakan seperti orang yang baru bangun dari tidur yang nyenyak.

Cara meditasi lain yang penting, praktis dan berguna ialah sadar dan waspada terhadap segala sesuatu yang Anda lakukan, secara fisik atau dengan ucapan, sewaktu Anda sedang melakukan pekerjaan Anda sehari-hari, untuk diri sendiri, untuk orang lain atau dalam rangka jabatan anda; sewaktu Anda berjalan, berdiri, duduk, berbaring atau tidur, selagi Anda meluruskan dan membengkokkan kaki anda; selagi Anda melihat-lihat sekeliling Anda; selagi Anda memakai baju, selagi Anda bicara atau sedang diam; selagi Anda makan atau minum, atau sedang melakukan kebutuhan-kebutuhan yang wajar sebagai manusia; dalam semua perbuatan ini dan yang lain lagi Anda harus selalu sadar dan waspada tentang semua perbuatan yang Anda sedang lakukan pada saat itu. Dengan perkataan lain, Anda harus hidup pada saat sekarang, pada saat Anda melakukan perbuatan Anda.

Ini bukan berarti bahwa Anda tidak boleh berpikir tentang apa yang sudah lewat atau apa yang akan datang. Sebaliknya, Anda berpikir tentang itu dalam hubungannya dengan saat sekarang, perbuatan sekarang, bilamana dan di mana itu dapat dipakai.

Pada umumnya kita tidak hidup dalam perbuatan kita pada saat sekarang. Kita biasanya hidup di masa yang lampau atau di masa yang akan datang. Biarpun kita sedang melakukan sesuatu, pada saat ini, di tempat ini, dalam pikiran kita mungkin sedang hidup di tempat lain, dalam persoalan dan kesulitan yang masih merupakan khayalan; dan kebanyakan dalam kenang-kenangan dari masa lampau atau dalam keinginan-keinginan dan lamunan-lamunan dari masa yang akan datang. Mereka tidak hidup di dalam perbuatan pada saat sekarang dan oleh karenanya mereka tidak dapat menikmatinya. Dengan demikian, mereka tidak merasa bahagia dan terputus dari saat sekarang ini, dengan pekerjaan yang mereka sedang lakukan dan dengan sendirinya tidak dapat sepenuhnya mengabdikan diri kepada pekerjaannya itu.

Anda sering melihat orang di rumah-makan yang membaca surat kabar sambil makan nasi, satu kejadian yang biasa terlihat. Orang ini memberi kesan bahwa ia adalah orang yang paling sibuk, sehingga tidak mempunyai waktu untuk makan nasi.

Anda akan bertanya-tanya dalam hati, apakah orang ini sedang makan satu sedang membaca surat kabar. Mungkin ada orang berkata bahwa ia melakukan kedua-duanya. Sebenarnya tidak, dan ia juga tidak dapat menikmati kedua-duanya. Orang ini batinnya tertekan dan bingung dan ia tidak dapat menikmati apa yang dilakukannya pada saat itu. Ia sebenarnya tidak hidup di saat itu tetapi secara tidak sadar mencoba untuk menyingkir dari kehidupan yang nyata. Harap jangan disalahartikan bahwa selama makan orang tidak boleh bicara dengan kawannya.

Anda tidaklah mungkin untuk menyingkir dari kehidupan sekarang ini. Selama Anda masih hidup, baik Anda berada di kota atau di dalam goa, Anda harus berani hidup dan berani menghadapi hidup dengan seribu satu persoalannya.

Penghidupan yang sejati adalah penghidupan di saat sekarang ini. Bukan kenang-kenangan di masa yang lampau yang sudah mati dan bukan juga impian yang muluk-muluk dari masa yang akan datang. Orang yang hidup pada saat sekarang adalah orang yang benar-benar hidup dan ia adalah orang yang paling bahagia.

Sewaktu ditanya, mengapa siswa-siswa-Nya yang hidup begitu sederhana dan sunyi dengan makan hanya satu kali sehari, selalu kelihatan berseri-seri, Sang Buddha menjawab: “Mereka tidak pernah merisaukan apa yang telah lewat dan juga tidak pernah memperdulikan apa yang akan datang. Mereka hidup pada saat sekarang dan oleh karena itu mereka selalu berseri-seri. Dengan selalu memikirkan apa yang akan datang dan merisaukan apa yang telah lewat, orang bodoh telah menjadi kurus kering seperti rumput hijau yang dipotong dan dijemur di sinar matahari”.

Perhatian murni atau selalu sadar bukan berarti bahwa Anda berpikir dan sadar “aku sedang melakukan ini” atau “aku sedang melakukan itu”. Tidak. Justru sebaliknya. Pada saat Anda berpikir “aku sedang melakukan ini”, Anda lalu sadar akan diri sendiri dan Anda tidak lagi hidup dalam perbuatan yang sedang dilakukan, tetapi Anda hidup dalam ide tentang adanya “Sang Aku” dan akibatnya, pekerjaan Anda akan menjadi rusak. Pada saat seorang pembicara sadar akan dirinya dan berpikir “Aku sedang berceramah” maka ceramahnya akan terganggu dan jalan pikirannya terputus.

Tetapi, kalau dalam berceramah ia melupakan dirinya sendiri, maka ia ada dalam keadaan yanig sangat ideal, dan ia akan berbicara lancar dan dapat menerangkan sesuatu dengan terang sekali.

Semua pekerjaan besar di bidang kebudayaan, filsafat, intelek dan spiritual adalah hasil dari saat-saat tatkala penciptanya seluruhnya tenggelam dalam pekerjaan mereka, dan mereka lupa akan diri mereka dan bebas dari kesadaran akan dirinya sendiri. Perhatian murni atau kesadaran yang berkenaan dengan perbuatan kita, seperti yang diajar oleh Sang Buddha, ialah untuk hidup pada saat sekarang, untuk hidup dalam perbuatan sekarang. Ini merupakan pula cara dari golongan agama buddha Zen, yang ajarannya sebagian besar didasarkan atas doktrin ini.

Untuk melaksanakan meditasi ini Anda tidak diharuskan melakukan perbuatan tertentu untuk membangkitkan perhatian murni, tetapi Anda hanya harus penuh perhatian dan sadar akan segala sesuatu yang Anda lakukan. Anda tidak usah membuang-buang satu detik pun dari waktu Anda yang berharga untuk melakukan meditasi ini. Anda dapat terus menerus melatih perhatian murni dan kesadaran siang dan malam terhadap semua perbuatan Anda dalam penghidupan sehari-hari. Kedua cara meditasi yang diperbincangkan di atas berkenaan dengan badan jasmani.

Vedana-Nupassana

Cara meditasi lain ialah yang berkenaan dengan semua perasaan kita, yang bahagia, yang tidak bahagia dan yang netral. Marilah kita ambil sebuah contoh. Anda memiliki suatu perasaan yang tidak bahagia, yang penuh dengan kesedihan. Pada saat itu batin Anda menjadi gelap, seperti tertutup gurem dan tertekan.

Mungkin Anda sendiri tidak dapat melihat dengan jelas, mengapa Anda memiliki perasaan yang tidak bahagia itu. Yang penting, Anda harus belajar untuk tidak merasa bahagia terhadap perasaan yang tidak bahagia itu, tidak menjadi kesal terhadap kekesalan Anda. Tetapi, cobalah lihat dengan jelas, mengapa ada perasaan yang tidak bahagia, yang kesal, yang sedih itu. Cobalah periksa bagaimana ia timbul, sedang berlangsung dan kemudian lenyap kembali. Cobalah periksa, seolah-olah Anda berada di luar diri Anda, tanpa reaksi subyektif apapun juga, sama halnya seperti seorang ahli memeriksa sebuah benda.

Di sini Anda seharusnya jangan melihat perasaan Anda secara subyektif, tetapi Anda harus melihat perasaan Anda sebagai perasaan secara obyektif. Di sini juga Anda harus melupakan sama sekali ide palsu tentang adanya “Sang Aku”. Kalau Anda dapat melihat keadaannya yang sebenarnya, bagaimana ia timbul, berlangsung dan kemudian lenyap kembali, batin Anda tidak akan dipengaruhi lagi oleh perasaan itu dan menjadi tidak terikat dan bebas. Hal yang di atas berlaku juga bagi semua perasaan lain.

Citta-Nupassana

Sekarang, marilah kita membahas cara meditasi yang ada hubungan dengan aktivitas pikiran kita, dengan keadaan batin kita. Anda harus sepenuhnya sadar dan tahu bahwa batin Anda sedang dihinggapi hawa nafsu atau terbebas dari padanya; bahwa batin Anda penuh dengan cinta kasih, belas kasihan; bahwa batin anda sedang gelap atau mempunyai pengertian yang jelas, dst.. Kita harus mengakui bahwa seringkali kita takut atau malu untuk melihat batin kita sendiri; karena itu kita condong untuk menghindarinya. Anda harus berani dan tabah dan cobalah lihat batin Anda sendiri seperti orang yang melihat mukanya di kaca. Di sini persoalannya bukan untuk mencela atau mengadili, atau membanding-bandingkan antara benar dan salah, antara baik dan buruk. Ia hanya merupakan pengamat-amatan, penelitian dan pemeriksaan belaka.

Anda hendaknya jangan menjadi seorang hakim untuk diri Anda sendiri, melainkan seorang sarjana, seorang ahli. Kalau Anda mengamat-amati batin Anda dan melihat dengan jelas keadaannya yang sebenarnya, Anda tidak dipengaruhi lagi oleh emosi, sentimen dll.. Dengan demikian, Anda akan tidak terikat dan bebas dan Anda akan dapat melihat hal-hal dan keadaannya yang sebenarnya.

Marilah kita mengambil satu contoh. Misalnya Anda benar-benar sedang marah, penuh angkara murka, keinginan jahat dan kebencian. Tetapi, aneh dan merupakan satu paradoks bahwa orang yang sedang marah tidak sepenuhnya tahu atau sadar bahwa ia sedang marah.

Pada saat ia tahu dan sadar akan keadaan batinnya, pada saat ia melihat amarahnya, ia akan merasa malu dan dengan sendirinya amarahnya itu akan menjadi reda.

Anda harus memeriksa keadaan yang sebenarnya, bagaimana ia timbul dan bgaimana ia lenyap kembali.

Di sini harus diingat sekali lagi bahwa Anda hendaknya jangan berpikir “Aku sedang marah” atau tentang “amarahku” Anda seharusnya hanya memperhatikan dan sadar tentang suatu keadaan batin yang sedang marah. Anda hanya sedang mengamat-amati dan memeriksa satu keadaan amarah secara obyetif. Ini berlaku pula untuk semua sentimen, emosi dan keadaan batin lainnya.

Dhamma-Nupassana

Lalu sekarang kita tiba pada cara meditasi atas pokok-pokok masalah kesusilaan, spiritual dan intelektual. Semua pelajaran, bacaan, diskusi, pembahasan dan pertimbangan atas pokok masalah, bacaan, termasuk dalam meditasi ini. Membaca buku dan kemudian berpikir secara mendalam tentang pokok yang dipermasalahkan adalah satu cara meditasi juga. Kita telah melihat di bagian depan bahwa diskusi antara Khemaka dan satu rombongan bhikkhu adalah satu cara meditasi yang menuju ke arah penyelaman Nibbana.

Dari itu, menurut cara meditasi ini, Anda dapat mempelajari, memikirkan, dan membahas Lima Rintangan (nivarana), yaitu :

  1. Kamacchanda – nafsu keinginan
  2. Vyapada – keinginan jahat, kebencian dan amarah
  3. Thina-Middha – lamban, malas dan lesu
  4. Uddhacca-Kukkucca – gelisah dan cemas
  5. Vicikiccha – keragu-raguan

Kelima hal di atas dianggap sebagai rintangan untuk memperoleh pengertian yang terang dan kemajuan apa saja. Kalau Anda terbelenggu oleh Lima Rintangan tersebut dan Anda tidak tahu bagaimana caranya melepaskan diri darinya, maka Anda akan tidak dapat mengerti, mana yang benar dan mana yang salah, atau mana yang baik dan mana yang buruk.

Selanjutnya, Anda juga dapat bermeditasi atas Tujuh Faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga) yang terdiri atas :

  1. Sati (perhatian murni)
    Anda harus selalu sadar dan waspada dalam semua perbuatan dan aktifitas fisik dan mental.
  2. Dhamma-Vicaya (penelitian dan penyelidikan berbagai ajaran Sang Buddha)
    Di sini termasuk semua studi mengenai agama, kesusilaan dan filsafat, bacaan, pendidikan, diskusi, pembahasan dan keikutsertaan dalam ceramah-ceramah tentang Dhamma.
  3. Viriya (semangat, kemauan keras)
    Anda harus bekerja dengan keyakinan yang membaja.
  4. Piti (kegiruan)
    Anda harus memiliki sifat yang bertentangan sekali dengan batin yang pessimistis, murung dan sedih.
  5. Passadhi (tenang dan relaks)
    Fisik dan mentalnya harus tenang dan relaks (tidak tegang)
  6. Samadhi (kosentrasi)
    Seperti diuraikan di bagian depan
  7. Upekkha (Keseimbangan batin)
    Ini kemampuan untuk menghadapi hidup yang penuh dengan goncangan-goncangan, dengan batin yang sabar, tenang dan seimbang.

Untuk mengembangkan sifat-sifat di atas, satu keinginan, kemauan atau kecendungan yang kuat merupakan hal yang penting sekali. Banyak lagi keadaan materiil dan spiritual yang dapat digunakan untuk mengembangkan sifat-sifat tertentu dapat kita jumpai dalam kitab-kitab.

Anda pun dapat bermeditasi mengenai hal-hal seperti Lima Kelompok Kegemaran dan bertanya kepada diri sendiri : “Apakah sebetulnya makhluk itu” atau “Apakah itu yang lazim disebut sebagai Aku” atau juga mengenai Empat Kesunyataan Mulia seperti diuraikan di bagian depan. Mempelajari dan menyelidiki pokok persoalan tersebut di atas merupakan latihan tentang cara keempat dari meditasi Buddhis yang dapat membawa kita ke arah penyelaman Kesunyataan Mutlak.

Selain dari yang telah dibahas di atas, masih ada banyak lagi subyek-subyek meditasi (menurut kitab-kitab ada empat puluh), yang di antaranya secara khusus akan disebutkan di sini Empat Kediaman Brahma (Brahma Vihara), yaitu :

  1. Metta
    Memancarkan cinta kasih yang tidak terbatas dan universal, dan kemauan baik terhadap semua makhluk, tanpa membuat perbedaan apa pun juga, seperti “seorang ibu mencintai anaknya yang tunggal”.
  2. Karuna
    Belas kasihan terhadap semua makhluk yang sedang menderita, mendapat kesukaran dan kemalangan.
  3. Mudita
    Kegembiraan yang simpatik terhadap sukses, kejayaan dan kebahagiaan orang lain.
  4. Upekkha
    Keseimbangan batin dalam menghadapi semua goncangan-goncangan hidup.
Posting ini telah dilihat sebanyak :2474

Filed under: Ketika Anak BertanyaMeditasiNaskah DhammaPokok Dasar Agama Buddha

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!