BUDDHA, PENGENDALI PIKIRAN
Oleh: Piyadassi Mahathera

Orang yang mempelajari agama Buddha secara objektif yang dengan teliti membaca buku tentang agama Buddha di masa awalnya secara menyeluruh, (dalam buku manapun) akan menemukan kepribadian yang dinamis dari seorang manusia yang telah mencapai Penerangan Tertinggi dan Kebebasan Mutlak melalui kesempumaan moral, intelektual dan spiritual. Seorang guru yang berusaha dengan semangat tanpa kenal lelah dan tekad yang bulat untuk menyebarkan kebenaran yang telah disadari-Nya. Orang yang memiliki kepribadian dinamis itu adalah Buddha.

Buddha bukanlah seorang filsuf di antara ahli filsafat lainnya, melainkan seorang Guru suci yang telah mencapai Penerangan, yang ajaran-Nya bertujuan merombak pikiran dan kehidupan umat manusia. Semangat pengorbanan diri, cinta kasih yang tanpa batas, kebaikan hati dan toleransi yang terkombinasi dengan kepribadian-Nya yang luar biasa, membangunkan mereka yang mengikuti-Nya dari ninabobo kebodohan dan membangunkan mereka untuk menyadari kebenaran.

Ajaran-Nya berawal di India Utara tetapi pesan-Nya menarik perhatian seluruh dunia. Buddha berbicara kepada seluruh umat manusia dan untuk sepanjang jaman. Ajaran dan disiplin-Nya (dhamma-vinaya) adalah untuk seluruh umat manusia, apapun bahasa yang mereka gunakan, apapun pakaian yang mereka kenakan, apapun negara yang mereka sebut “rumah”. Bahasa Buddha adalah kebenaran. Beliau mengenakan pakaian kebenaran dan seluruh dunia adalah “rumah”Nya; karena kebenaran terdapat dimana-mana dan setiap saat dapat disadari oleh setiap orang. Inilah yang dimaksud keuniversalan Buddha Dharma atau Agama Buddha. Kebenaran yang dibicarakan dalam Agama Buddha bukan konsep, oleh karena itu tidak dapat disebarkan hanya dengan kata-kata saja. Buddha dapat menuntun kita dengan menunjukkan jalan menuju kebenaran, kita sendiri yang harus mengikuti cara-cara meditasi untuk menyadari kebenaran dan menjadikannya milik sendiri.

Buddha adalah Pengendali Pikiran. Beliau mengembangkan pengendalian pikiran berkat meditasi dan berbagai bentuk peningkatan spiritual lain dalam rangkaian kehidupan berturut-turut. Dengan inilah Beliau dapat memahami dan menyatakan kebenaran pokok mengenai kehidupan, mengenai arti dan tujuannya. Meskipun begitu kebanyakan orang yang tertarik pada agama Buddha dewasa ini bukanlah memperhatikan kebenaran-kebenaran pokok ini, tetapi mempelajari, bagaimana ia dapat menghasilkan penyelesaian yang berguna untuk mengatasi keragu-raguan dan kesulitan yang mengacaukan dan membingungkan dirinya dalam usaha untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan.

Salah satu kebenaran pokok yang telah dinyatakan oleh Buddha adalah kekuatan yang luar biasa dari pikiran. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang siswa-Nya, Beliau menjelaskan kebenaran ini dengan tegas sekali, “Dunia dikuasai oleh pikiran, dengan pikiran dunia terbentuk; semuanya terjadi di bawah kekuasaan pikiran.”1) Ilmu pengetahuan belum sepenuhnya menyelidiki kekuatan dan pikiran, tetapi lebih dari 2500 tahun yang lalu Buddha telah menyadari keunggulannya dalam setiap aspek kehidupan. Agama Buddha di masa awal memandang pikiran merupakan suatu kekuatan besar yang harus dikembangkan dalam usaha untuk mencapai tujuan tertinggi, Nirwana (Nibbana). Agama Buddha yang juga tidak mengingkari dunia yang penuh persoalan dan dampak luar biasa yang diakibatkan oleh dunia fisik terhadap kehidupan rohani, menekankan lebih pentingnya pikiran manusia. Kekuatan pikiran merupakan hal yang sangat nyata.

Banyak orang yang mencari ilham dan kebahagiaan dari sumber-sumber di luar dirinya merasa kecewa. Hanya ketika seseorang menyadari keunggulan pikiran dan mengerti bahwa pikiran yang dimiliki seseorang dapat membuat dunia ini menjadi surga atau neraka bagi dirinya sendiri, maka ia akan belajar bagaimana untuk merasa bahagia. Sang Pengendali Pikiran memberikan pertolongan lebih lanjut, seperti yang dikatakan dalam Dhammapada (165):

“Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan.
Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan.
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci itu tergantung pada diri sendiri.
Tak seorang pun dapat membuat orang lain suci.”

Selain itu Sang Pengendali Pikiran berkata: “Engkau sendirilah yang harus berusaha, Para Buddha hanya menunjukkan jalan.”2) Kebenaran-kebenaran yang berharga ini mengajarkan manusia untuk menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri dan melalui dirinya sendiri.

Kebenaran pokok lain yang datang dari Sang Pengendali Pikiran adalah:

“Segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal,
Mereka timbul dan lenyap, itulah sifat dasarnya;
Mereka dilahirkan dan meninggal dunia,
Terbebas dari hal ini merupakan kebahagiaan tertinggi.”
(D. ii.157)

“Segala hal yang memiliki sifat untuk timbul, memiliki sifat untuk lenyap.”3) Perubahan ini merupakan inti dari segala sesuatu. Manusia tidak berbahagia karena semua hal yang diinginkannya – istri dan anak-anak, kekayaan dan kekuasaan – tidak bertahan selamanya. Dalam pekerjaan apa pun setiap orang mengalami kecemasan yang sama untuk mempertahankan apa yang dicintainya. Hanya jika manusia menyadari kebenaran pokok mengenai ketidakkekalan segala sesuatu maka ia akan melatih dirinya sendiri untuk melepaskan diri dari nafsu keinginan, karena nafsu keinginan rendah membawa ketidakbahagiaan.
Dalam hubungan ini, Sang Pengendali Pikiran mengucapkan sabda sebagai berikut:

“Dari nafsu keinginan timbul kesedihan,
Dari nafsu keinginan timbul ketakutan,
Bagi orang yang telah bebas dari nafsu keinginan,
Tiada lagi kesedihan maupun ketakutan” (Dhp. 216)

Buddha kadangkala lebih memperhatikan tujuan yang mengandung unsur pengobatan daripada analisis obyektif. Akan tetapi yang terutama mendapat perhatian-Nya adalah pandangan analitis terhadap segala sesuatu, karena hal ini membantu seseorang untuk memahami sesuatu sebagaimana hakekat yang sesungguhnya. Melalui meditasi, Buddha menemukan akar dari penyakit-penyakit universal yang terdapat di hati dan pikiran manusia. Pengetahuan-Nya yang luar biasa sampai ke dalam cara berpikir menempatkan Buddha sebagai Pengendali Pikiran, seorang ahli psikologi, dan seorang ilmuwan terbesar. Tidak disangkal, caranya mencapai kebenaran-kebenaran dari kehidupan rohani ini tidak selalu bersifat eksperimen, namun apa yang ditemukan oleh Buddha tetap benar, dan dalam kenyataannya telah dibuktikan oleh para ahli percobaan. Akan tetapi tujuan Buddha terkait dengan penyelidikan ini berbeda dengan tujuan para ilmuwan. Para ilmuwan lebih memusatkan perhatian untuk memperoleh pengetahuan objektif mengenai sifat-sifat dasar, tetapi pernyataan Buddha tentang sifat-sifat dasar dari pikiran dan jasmani di arahkan untuk mencapai kebebasan, pembebasan tertinggi dari keterikatan. Ajaran-Nya banyak menekankan fenomena pikiran dan mental karena hal ini memainkan peranan penting dalam menimbulkan perbuatan. Dalam agama Buddha pikiran merupakan basis, “Pikiran mendahului segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran membentuk segalanya.” (Dhp.1)

Buddha adalah seorang manusia. Bahkan sesudah Beliau menjadi Buddha Beliau tidak menyatakan diri-Nya sebagai Dewa, Tuhan atau Brahma, yang menciptakan dunia dan mengadili nasib manusia. Ia adalah seorang MANUSIA di antara banyak manusia. Bila ditanya siapakah Dia, jawabannya adalah: “Aku seorang yang telah sadar” dan Beliau menyimpulkan pencapaianNya dalam kata-kata berikut ini:

“Aku mengetahui apa yang harus diketahui,
Apa yang harus dikembangkan telah Kukembangkan.
Apa yang harus ditinggalkan telah Kutinggalkan,
Maka, Aku adalah BUDDHA, Dia yang bangun.”
(Sn. 558)

Pengikut-Nya, menyadari bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah akibat dari perbuatan baik dan perbuatan tidak baik yang dilakukan seseorang, tidak memohon kepada-Nya dan tidak mengharapkan dari-Nya balas jasa ataupun hukuman. Mereka berlindung kepada Buddha dengan menyadari bahwa hidup-Nya dan ajaran-Nya menawarkan pada mereka sebuah teladan dan tuntunan. Dengan mengikuti ajaran-Nya mereka mampu meningkatkan kehidupan rohani dari tingkat yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi, dan akhimya mencapai kebahagiaan yang merupakan hasil dari perkembangan spiritual tertinggi, kebahagiaan Nirwana.

Buddha dapat juga disebut sebagai seorang revolusioner dalam pengertian sesungguhnya. Tujuan-Nya yang utama adalah mengadakan perubahan dalam kehidupan rohani manusia, termasuk dunia dan menunjukkan jalan menuju kesucian batin, kedamaian dan kebahagiaan. Akan tetapi Beliau menemukan bahwa masyarakat India sangat memerlukan perubahan secara radikal, karena begitu banyaknya ketimpangan sosial, serta diskriminasi ekonomi dan sosial. Sejauh mengenai perhatian pada ketimpangan ekonomi, Buddha berhasil menciptakan jaminan ekonomi yang stabil dalam kelompok para bhikkhu dan bhikkhuni. Apa pun dasarnya wihara dan dana yang disumbangkan oleh umat awam kepada Sangha selalu merupakan milik Sangha, dan bukan milik perseorangan.

Bagaimanapun juga, Bhagawa menentang semua bentuk diskriminasi sosial. Ketika membicarakan Dharma dalam ajaran-Nya, Beliau tidak membeda-bedakan kasta, suku, kelas, jenis kelamin ataupun perbedaan lainnya Pria dan wanita dari berbagai pekerjaan – kaya dan miskin, kalangan rendah dan kalangan atas, yang terpelajar dan yang buta huruf, brahmana dan luar kasta, pangeran dan fakir miskin, orang suci dan penjahat — semuanya mengindahkan Buddha, berlindung kepada-Nya dan mengikuti jalan menuju kedamaian dan penerangan yang telah ditunjukkan oleh Beliau kepada mereka. Jalan ini terbuka bagi semua orang.

Sebagai orang yang bertingkah laku sesuai dengan apa yang di- khotbahkan-Nya, Buddha selalu memusatkan perbuatan kepada Empat Keadaan Luhur (brahmavihara): cinta kasih (metta), belas kasih (karuna), simpati atau bahagia melihat kebahagiaan orang lain (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha). Buddha dikenal sebagai orang yang telah meletakkan gada (nihita danda), seseorang yang telah meletakkan senjata (nihita sattha). Satu-satunya senjata yang berhasil digunakan-Nya adalah cinta kasih dan belas kasih. Beliau mempersenjatai diri dengan kebenaran dan belas kasih.

Beliau adalah penjelajah terbesar di dunia. Ia berjalan dan berjalan terus sepanjang jalan raya dan jalan kecil di India, merangkul semuanya kedalam pancaran kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas.

Ia bergerak di antara pria dan wanita, bukan sebagai manusia super atau penjelmaan dewa, tetapi sebagai manusia seutuhnya. Dalam kenyataannya, sifat dasar kemanusiannyalah yang terlihat nyata dalam catatan kehidupan dan kegiatan-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci. Buddha membuat orang-orang mengerti bahwa semua orang dapat menjadi Buddha asalkan mau mengembangkan sifat dasar penting yang dapat menuntun menuju penerangan.

Buddha memiliki rasa humor yang tinggi dan sifat ramah yang membuah orang-orang yang datang berhubungan dengan-Nya merasa senang. Namun, agak lucu pula bila kita perhatikan bahwa sebagian orang pada zaman itu, terutama anggota kepercayaan lain, merasa takut kepada Buddha dan tidak berani mengirimkan para murid dan pengikut mereka kepada Buddha, takut kalau-kalau mereka beralih agama. Hal ini tampak jelas dalam catatan berikut ini:

Suatu ketika Nigantha Nataputta (Jaina Mahavira) ingin mengirim seorang siswanya yang terkenal, Upali, menemui Buddha untuk menyangkal kata-kata-Nya dalam perdebatan. Kemudian Dighatapassin, pengikut Jaina, berkata kepada Nataputta: “Bagiku, Yang Mulia, sebenarnya tidak perlu sekali mengirim Upali untuk menyangkal kata-kata Petapa Gotama, karena Petapa Gotama penuh tipu daya; Ia tahu mantra sihir yang dengan itu menarik para pengikut dari sekte-sekte lain. (Gotamo mayavi avattananim mayam janati)” (M.56; A. ii, 190).

Mereka mungkin tidak menyadari bahwa metta yang dimiliki Buddha, kebesaran cinta kasih dan kebaikan hatinyalah yang menarik orang- orang kepada-Nya dan bukan dengan “muslihat yang menarik hati.”

Buddha merupakan perwujudan dari metta, contoh dari cinta kasih dalam tuntunan dan keteladanan. Dalam perdebatan, Beliau selalu tenang dan menghadapi penantang tanpa merasa terganggu, tanpa menunjukkan kemarahan. Saccaka, lawan debatnya, pada akhir perdebatan dengan Buddha, tidak dapat menahan diri untuk berkata: “Bagus sekali, mengagumkan, Gotama yang baik, walau dicecar secara bertubi-tubi, walau diserang dengan kata-kata yang penuh tuduhan, sifat Gotama yang baik begitu jelas, dan wajahnya menunjukkan kebahagiaan sebagai seorang Arahat, yang sempuma, yang telah mencapai Penerangan Tertinggi.” (M36)

Bahkan ketika orang-orang menyerang-Nya dan berusaha mempermalukan dengan kata-kata kasar, air muka Buddha tidak pernah berubah. Dikatakan bahwa Beliau tersenyum, senyuman selalu mengawali ucapan-Nya (mihita pubbangama).

Ernest F. Fenollosa menilai: “Kesan terhadap tokoh ini (Buddha), berdasar pandangan orang untuk pertama kali, menunjukkan Dia memiliki kesucian yang hebat. Anggaplah berkelakar, seorang Kristiani yang berwawasan luas (=dirinya sendiri) juga dapat dengan bebas terdorong untuk membungkukkan diri di hadapan senyuman-Nya yang manis dan penuh kekuatan.”

Tak ada sifat manusia yang menjadi milik khusus (prerogatif) agama, negara, ras atau kebudayaan tertentu. Bagi mereka, semua memiliki mata untuk melihat dan pikiran untuk mengerti akan menyadari bahwa sifat-sifat seperti persahabatan, belas kasih dan kebesaran hati umumnya terdapat dalam diri setiap umat manusia. Akan tetapi ketika orang-orang itu salah jalan dan tersesat, mereka membicarakan dan merencanakan “perang demi keadilan” – kita bahkan membaca mengenai “perang suci”. Perang adalah perang; “adil ataupun suci”; tidak pemah membawa kedamaian. Semua bentuk perang adalah biadab.

Suatu kejadian pada suatu ketika membawa Buddha menuju medan perang. Sakya dan Koliya, dua negara yang bertetangga sampai di ambang peperangan karena memperebutkan air Sungai Rohini. Mengetahui bencana yang akan timbul, Bhagawa lalu menghampiri mereka dan menanyakan kepada mereka manakah yang lebih berharga, air atau darah manusia. Me. reka mengakui bahwa darah manusia lebih berharga. Bhagawa berbicara kepada mereka dan perang yang hampir pecah dapat dicegah.4)

Dalam bidang agama dan filosofi, perubahan terbesar yang dilakukan, oleh Buddha ketika Beliau mengecam konsep atta atau atman, roh yang kekal, diri atau aku yang kekal. Ajaran mengenai anatta, tanpa roh yang kekal, semata-mata merupakan ajaran agama Buddha. Buddha menunjukkan bahwa menjadi apapun, dengan berbagai maksud kita menamakan pria, wanita atau pribadi, bukanlah merupakan sesuatu yang statis melainkan dinamis. Perpaduan antara jasmani dan rohani selalu dan terus menerus berubah.

Kini jika seseorang melihat kehidupan dari pandangan ini dan mengerti secara analitis bahwa keberadaannya merupakan rangkaian agregat rohani dan jasmani secara keseluruhan, ia melihat benda-benda sebagaimana yang sesungguhnya. la tidak berpegang pada pandangan salah mengenai “kepercayaan akan adanya pribadi” (sakkaya ditthi), kepercayaan terhadap adanya roh atau diri yang kekal, abadi, tidak berubah dan tetap, karena ia mengetahui melalui pengertian benar bahwa seluruh bentuk kehidupan yang nyata merupakan rangkaian sebab-musabab yang saling bergantungan (paticca samuppada). Melihat bahwa segala sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lain dan kehidupan berhubungan dengan keadaan itu, ia menyadari bahwa sebenarnya tak ada “aku”, tidak ada prinsip aku yang kekal, tak ada diri atau sesuatu mengenai diri, tidak dalam proses kehidupan sekarang maupun di luar kehidupan saat ini. Oleh karena itu, ia bebas dari pikiran mengenai jiwa mikrokosmis (jivatma) atau jiwa makrokosmis (paramatma) atau bahkan jiwa kosmis.

Buddha tidak mengakui segala bentuk atman, jiwa atau diri, besar atau kecil yang kekal, karena hal-hal itu hanya merupakan bayangan dalam pikiran. Beliau bertanya: “Ketika suatu atman, jiwa atau diri tidak ditemukan, bukankah bodoh untuk menyatakan alam semesta sebagai atman atau diri dan mengatakan: aku akan menjadi atman setelah kematian, kekal, abadi, tidak berubah dan akan tetap sebagai atman untuk selama nya?”‘5)

Barang siapa yang berakar pada pemikiran mengenai jiwa atau diri itu akan merasa takut dan khawatir ketika ia mendengar bahwa segala keindahan yang disenanginya akan hancur dan ia akan dihancurkan. Oleh karenanya ia menyukai pemikiran mengenai atman, jiwa atau diri yang kekal untuk mempertahankan dirinya sendiri. Itu sebabnya mengapa Buddha mengingatkan para pengikut-Nya agar memandang Beliau bukan sebagai juru selamat yang menyelamatkan jiwa makhluk ciptaannya, tetapi sebagai seorang guru yang menuntun mereka pada jalan yang benar dan mendorong mereka untuk memiliki kepercayaan pada diri sendin. Beliau juga menerangkan kepada para siswa-Nya bahwa jika Beliau meninggal dunia nanti, mereka harus mencari tempat berlindung dan perlindungan dalam diri mereka sendiri sebagaimana juga di dalam Dharma, ajaran-Nya dan bukan pada tempat lain (attasarana anannasarana dhammasarana anannasarana)6)

Namun, sebagian orang terpelajar, tidak dapat menerima ajaran tanpa aku ini, dan oleh karena itu mereka mencoba untuk mengubah ajaran Buddha dengan mengakui pemikiran mengenai “diri” (atta).
Radhakrishnan, contohnya, salah menerjemahkan Dhammapada ayat 160 yang berbunyi: “Diri sendiri adalah tuan dari diri sendiri, siapa pula yang dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri? Setelah dapat menaklukkan dirinya sendiri dengan baik, seseorang akan menemukan tuan yang hanya sedikit orang saja dapat menemukannya.”7)
Di sini kata “atta” tidak memiliki hubungan dengan jiwa atau diri. Kata itu digunakan sebagai refleksi atau kata ganti tak tentu yang berarti saya sendiri, kau sendiri, aku sendiri, diri sendiri atau lain-lain. Berikut ini adalah terjemahan yang benar: “Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengenali dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.”

Para peterjemah juga salah mengartikan kata kunci “natha” yang berarti perlindungan, pertolongan dan bukan “tuan”. Penjelasan pada ayat itu mengatakan “nattho ti patitha”; nattha artinya perlindungan (bantuan, tempat berlindung, pertolongan). Pikirkan lawan katanya “anatha“. Apakah artinya menjadi “tanpa tuan”‘? Tidak, ini artinya tanpa bantuan, tanpa perlindungan, tanpa pertolongan. Terjemahan yang salah menimbulkan pemikiran yang keliru mengenai diri yang besar menguasai diri yang kecil, jiwa makrokosmis menguasai jiwa mikrokosmis.

Sebagian orang suka berpikir keliru bahwa Buddhisme dapat diperbandingkan dengan filsafat Marxisme karena keduanya dianggap menyangkal Dewa yang kekal dan roh yang kekal. Salah bila mengatakan bahwa agama Buddha mempengaruhi filsafat Marx, atau ajaran agama Buddha mendekati dasar-dasar ajaran Marxisme. Ajaran Buddha mengenai hukum sebab akibat moral (kamma), kehidupan sebelum kelahiran, kehidupan setelah kematian (punnabhava) dan kebebasan tertinggi dari keterikatan (Nibbana), sama sekali asing bagi Marxisme.

Penganut Marxisme percaya bahwa tidak ada yang hidup terpisah dari materi. Bahkan pikiran merupakan hasil dari materi. Mereka percaya bahwa setelah kematian badan jasmani, “kepribadian” yang berhenti hidup.

Bagi penganut agama Buddha pertanyaan mengenai agama dan asal mulanya bukanlah merupakan pertanyaan yang bersifat metafisika, tetapi merupakan pertanyaan yang bersifat psikologis dan intelektual. Baginya agama bukan semata-mata keyakinan atau kitab wahyu ataupun ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diketahui atau ketakutan terhadap makhluk gaib yang memberi pahala terhadap perbuatan baik dan memberi hukuman terhadap perbuatan jahat yang dilakukan oleh makhluk ciptaannya. Tidak hanya perhatian mengenai teologi, tetapi lebih kepada soal psikologis dan intelektual yang diakibatkan karena pengalaman merasa dukkha, yaitu penderitaan, konflik dan ketidakpuasan terhadap keberadaan empiris dalam sifat kehidupan.

Ketika kita mempertimbangkan isi ajaran agama Buddha, kita dapat melihat sesungguhnya ajaran agama Buddha berbeda dengan ajaran agama lain terutama mengenai konsep penciptaan. Ada banyak kepercayaan dalam agama Buddha, tetap tidak dapat dimasukkkan di antara agama-agama yang terpusat pada penciptaan dan kekuatan-kekuatan supranatural. Agama Buddha tidak mengenal Dewa pencipta yang kekal dan tidak menganjurkan upacara pemujaan dalam bentuk apa pun dan permohonan kepada para dewa. Tidak ada kepercayaan terhadap kekuatan supernatural di luar manusia yang menguasai nasibnya. Dalam agama Buddha manusia menghubungkan seluruh pencapaian dan prestasinya kepada usaha dan pengertiannya sendiri. Agama Buddha bersifat antroposentris, tidak teosentris. Bagi umat Buddha, agama merupakan pandangan hidup, kurang lebih mengenai pandangan moral, latihan spiritual dan intelektual yang menuntun ke arah pencapaian pengetahuan tertinggi, yang mengakhiri seluruh penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang dan berhasil mencapai kebebasan batin yang sempurna.

Dilihat dari pandangan filosofis, Buddha tidak merisaukan masalah yang dikhawatirkan oleh para ahli filsafat Timur maupun Barat dari zaman dahulu hingga sekarang. Dalam pandangan-Nya masalah-masalah metafisika hanya membingungkan manusia dan mengganggu keseimbangan rohaninya. Beliau tahu bahwa pemecahannya tidak akan menghindari seseorang dari penderitaan, dari ketidakpuasan terhadap sifat kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Beliau tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dan pada saatnya menahan diri untuk menjelaskan hal itu yang dirumuskan secara salah.

Tantangan dari agama Buddha merupakan sarana yang mendorong para pemikir keagamaan untuk meninjau kembali definisi kuno mereka tentang agama, dan menemukan definisi baru yang dapat selaras dengan agama Buddha. Cara umat Buddha memahami kebenaran tertinggi, bangun dari kebodohan untuk mencapai pengetahuan sempurna, tidak tergantung hanya kepada perkembangan kepandaian teoritis intelektual akademis, tetapi kepada pelaksanaan dari ajaran yang praktis. Gabungan yang menyenangkan dari teori dan praktik inilah yang menuntun penerangan dan pembebasan akhir.

Catatan:
1. A. ii, 117
2. Dhp. 276
3. Vin. i, 10; S. v, 420.
4. AA. I, 241; SnA 357; Thag A. 141.
5. Alagaddupama Sutta, M. 22, 138
6. Maha Parinibbana Sutta D. 16, 100.
7. S. Radhakrishnan, Gautama the Buddha (Hinds Kitabs, Bombay)

———————-
Sumber : Spektrum Ajaran Buddha, kumpulan tulisan Piyadassi Mahathera
Penerbit : Yayasan Pendidikan Buddhis Triratna, Jakarta, 2003

Y.A. Piyadassi adalah bhikkhu Srilanka. Beliau telah wafat pada tanggal 18 Agustus 1998 di Colombo, Srilanka.

Posting ini telah dilihat sebanyak :2703

Filed under: Artikel dan Kisah LainnyaNaskah Dhamma

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!