Jutawan Menjadi Bhikkhu
Jutawan Menjadi Bhikkhu
Mengapa seorang playboy yang mencintai olahraga croquet melepaskan segalanya untuk mencari penerangan.
Agustus 2001, Daily Telegraph, Australia
Oleh STAVRO SOFIOS
Sebulan yang lalu Jose Sanz memiliki satu juta dollar rumah mewah besar dan tiga kekayaan eksklusif lainnya, menghibur kaum elit Sidney dan pewaris sejuta dollar dinasti tembakau.
Saat ini, mantan dokter ahli kandungan Sidney dan dosen universitas akan bangun pada jam 5:30 pagi dan memakai satu-satunya pakaian yang ia miliki – satu set empat potong jubah berwarna coklat dan oranye, kekayaan terakhir yang dimilikinya.
Dr. Sanz – sekarang dikenal sebagai Venerable Yanatharo – telah menyumbangkan harta pribadinya yang lebih dari $ 5 juta demi suatu usaha mencari keharmonian spiritual sebagai seorang Bhikkhu di sebuah vihara di bagian barat Sidney. Dokter yang dihormati, juara olahraga croquet dan pendiri the Double Bay Bridge Club sekarang setiap hari menghabiskan 12 jam bermeditasi dan berdoa di vihara Wat Phrayorthkeo Laotian di Edensor Park.
Kehidupan barunya juga mengajaknya bekerja dengan remaja yang kurang mampu di Cabramatta dan para tawanan penjara yang dibebaskan siang hari. Kekayaan pribadi bhikkhu tersebut – lebih dari $ 5 juta dalam bentuk rumah-rumah, mobil-mobil dan tunai – diberikan kepada anak-anaknya, yang menurutnya marah atas keputusannya (menjadi bhikkhu) ini. Dr. Sanz, 55 tahun, juga memberikan harta sejuta dollarnya kepada saudara perempuannya – satu perkebunan tembakau 3000 hektar di Argentina yang telah menjadi milik keluarganya sejak tahun 1580.
Ia berkata “Saya sama sekali tidak mempunyai ide (jumlah kekayaan sesungguhnya) dan saya tidak peduli”. “Kita hidup bersusah payah demi rumah, mobil, uang. Saya hendak menjauhi semuanya ini. Saya keluar dari rumah dan memberikan kuncinya kepada anak-anak saya. Mereka adalah umat Katolik Roman yang setia dan mereka berpikiran bahwa saya telah dibawa oleh suatu pengikut (aliran tertentu).” Umat Buddha yang taat selama 15 tahun ini diperbolehkan menjadi seorang bhikkhu dengan tradisi Laos setelah membuktikan bahwa ia tidak mempunyai hutang-hutang dan kewajiban-kewajiban terhadap orang-orang lain setelah kematian istrinya 18 bulan yang lalu.
“Saya merindukan minum bir bersama teman-teman setelah berolah raga,” Saya merindukan pergi ke kedai minuman dan berjumpa dengan gadis-gadis. Saya melepaskan empat bulldog kesayangan saya – karena saya tidak diperbolehkan memelihara mereka. Kita harus tidak melekat sama sekali, tetapi saya masih merindukan anjing-anjing saya, mobil saya – tetapi tidak keluarga saya.”
Sekretaris Cammeray Croquet Club, Mila Kotala berkata bahwa Dr. Sanz meninggalkan karir olah raga yang sedang menanjak, “Olah raga croquetnya sangat dikagumi di NSW.”Ia sangat ramah, jejaka yang sangat gembira.” Kehidupan Dr Sanz melibatkan pelajaran harian tentang cerita-cerita yang berisi ajaran Buddhist dan meditasi berjam-jam. Filsafat Buddhist membolehkan sedikit ruang untuk teknologi baru: Dr. Sanz tidak dapat melihat TV tetapi ia dapat belajar dengan para pemimpin di Laos melalui Internet.
“Saya berusaha berkonsentrasi tetapi pikiran saya pergi kemana-mana. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, masa depan tidak menentu maka kita hidup di saat ini. Kita berusaha sebaik mungkin, kita berusaha menambah karma baik.”
Catatan : croquet – permainan yang mendorong bola kayu ke dalam gawang di lapangan.
Kontak Email : sanz@northnet.com.au
Sumber : Majalah Eastern Horizon, Malaysia, Edisi Jan – Apr 2002 Hal. 12
Penerjemah : Jenny, Sby
Tidak ada posting yang berhubungan dengan artikel ini
Filed under: Kisah Nyata • Naskah Dhamma
Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!



Namo Buddhaya,
Semua berita ini semoga dapat disikapi dengan baik
http://www.dailytelegraph.com.au/news/no-jail-for-dope-selling-monk/story-e6freuy9-1111116743693
An ARGENTINIAN-born Buddhist monk who allegedly traded his tobacco fortune for a life of prayer has been placed on a good behaviour bond for selling cannabis from his inner-Sydney laundrette.
Jose Maria Sanz-Tonnelier, 63, last week pleaded guilty to possessing and supplying cannabis, following police stings and raids on his business.
He was caught selling $10 worth of the drug to a young woman at his Darlinghurst laundromat in May 2007.
A police search of the premises uncovered further stashes of 63.7g and 19.5g of cannabis, as well as “other paraphernalia such as plastic bags”, Deputy Chief Magistrate Helen Syme said.
It was the second time police had found cannabis and other items indicating that “drug supply was something that was going on”, Ms Syme told Sydney’s Downing Centre Local Court.
The magistrate today placed Sanz-Tonnelier on an 18-month good behaviour bond for the possession and supply charges, excusing him from jail time in recognition of his age and ill health.
Start of sidebar. Skip to end of sidebar.
End of sidebar. Return to start of sidebar.
Sanz-Tonnelier’s lawyer Shane McAnulty told the court his client was terminally ill and receiving treatment for a number of conditions, including cancer.
“He is self-medicating for the condition he has … he is smoking (cannabis),” Mr McAnulty said.
Mr McAnulty acknowledged it was illegal to smoke the drug in NSW, even for medicinal purposes, but asked the court to accept Sanz-Tonnelier possessed the 90g for personal use.
Ms Syme agreed Sanz-Tonnelier, a Theravadan Laotian monk, suffered a “number of illnesses” and received various treatments over a “substantial period of time”.
However, she did not accept that the cannabis was for such a use.
“Whilst I would like to accept that as the case, there’s simply no evidence to support the submission,” Ms Syme said.
She found Sanz-Tonnelier had no prospects of ceasing his drug use.
“But I trust that these charges themselves will have some impact in relation to your drug supply,” Ms Syme said.
Dressed in flowing orange robes, Sanz-Tonnelier was unable to stand as he was sentenced, but said: “Yes ma’am, thank you”, when asked whether he understood the proceedings.
The Argentinian-born Sanz-Tonnelier, reportedly once a millionaire and from a family of tobacco magnates, is currently residing at a Buddhist compound in Sydney’s southwest.
He will stand trial in October for commercially cultivating cannabis, after police allegedly found up to 35 plants in a hydroponic hothouse out the back of the laundrette.
Sanz-Tonnelier will also face a charge of falsely reporting his passport stolen, knowing it was in the custody of police as a condition of his bail, the following month.
@sabertooth
Terima kasih atas informasinya yang bermanfaat.
Sayang sekali melihat kenyataan yang dimuat dalam berita yang dimaksudkan.
Hal ini menjelaskan secara tegas kepada kita semua bahwa kondisi batin seseorang yang belum mencapai kesucian memang tidak kekal.
Karena itu, mereka yang pada mulanya berniat berbuat kebajikan, mungkin saja pada waktu berikutnya melakukan tindakan yang diluar atau bahkan bertentangan dengan niat awalnya tersebut.
Semoga kenyataan ini menjadi bahan pembelajaran untuk semua orang agar dapat lebih berhati-hati dalam bersikap, berbicara maupun berpikir.
Upaya seumur hidup untuk selalu meningkatkan kualitas perilaku, ucapan dan pikiran akan memperbesar kesempatan seeorang mencapai kesucian yang tidak akan pernah berubah atau kekal.
salam kenal,
setelah membaca cerita d atas saya mencoba mencari informasi di internet dan saya terkejut dg hasil yg muncul,
silakan moderator mengecek sendiri
http://www.dailytelegraph.com.au/news/no-jail-for-dope-selling-monk/story-e6freuy9-1111116743693
ad banyak hasil pencarian yg menjelskan bahwa bhikkhu tsb tersandung masalah penipuan maupun penjualan narkoba…..
Kisah yang luar biasa.