1. SIGALOVADA SUTTA

Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu, di Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapatta). Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu menyembah ke berbagai arah dan bertanya :
“O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?”

“Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali, saya menyembah ke enam arah.”

Sang Buddha lalu berkata, “Tetapi anakKu, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian.”

Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
“Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya.”

“O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini. Karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat penghancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga. Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? Yaitu membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong. Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan?

Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan :

  • atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
  • atas dorongan kebencian (dosa gati),
  • atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
  • atas dorongan rasa takut (bhaya gati).

Tetapi karena para siswa Ariya tidak terseret oleh keempat dorongan-dorongan tersebut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat.”

Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut :
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap.”

“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang.”

“Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?” Yaitu :

  1. Gemar minum minuman yang memabukkan,
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan,
  4. Gemar berjudi,
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat,
  6. Kebiasaan malas.

“O putera kepala keluarga, terdapat pula enam bahaya karena :

  1. Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :
    • Kerugian harta secara nyata,
    • Bertambahnya pertengkaran,
    • Tubuh mudah terserang penyakit,
    • Kehilangan sifat yang baik,
    • Terlihat tidak sopan,
    • Kecerdasan menjadi lemah.
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu:
    • Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
    • Menjadi sasaran desas-desus palsu,
    • Ia akan menjumpai banyak kesulitan.
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir :
    • Dimanakah ada tari-tarian,
    • Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
    • Dimanakah ada pertunjukan musik,
    • Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
    • Dimanakah ada permainan tambur,
    • Dimanakah ada permainan genderang.
  4. Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :
    • Bila menang, ia memperoleh kebencian,
    • Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
    • Kerugian harta benda secara nyata,
    • Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
    • Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
    • Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat dari :
    • Setiap penjudi,
    • Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
    • Setiap pemabuk,
    • Setiap penipu,
    • Setiap orang yang kejam.
  6. Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata:
    • ‘Terlalu dingin’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu panas’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu pagi’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu siang’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Aku terlalu lapar’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Aku terlalu kenyang’ dan ia tidak bekerja.

Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis.”

Sang Buddha kemudian menerangkan :
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :

  1. Orang yang tamak,
  2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
  3. Penjilat,
  4. Kawan pemboros.

Terdapat pula empat dasar yang menyebabkan orang yang seharusnya dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :

  1. Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia tamak,
    • Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
    • Ia melakukan kewajibannya karena takut,
    • Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.
  2. Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
    • Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
    • Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.
  3. Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menyetujui hal-hal yang salah,
    • Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
    • Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
    • Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
  4. Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.”

Sang Bhagava lalu mengucapkan syair berikut :
“Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.”

“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada), yaitu :

  1. Sahabat penolong,
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah,
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
  4. Sahabat yang bersimpati.

Atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus:

  1. Sahabat penolong berhati tulus karena :
    - Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
    - Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
    - Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
    - Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan.
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena :
    - Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
    - Ia menjaga rahasia dirimu,
    - Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan
    - Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena :
    - Ia mencegah engkau berbuat jahat,
    - Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar,
    - Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
    - Ia menunjukkan engkau jalan ke surga.
  4. Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena :
    - Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
    - Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
    - Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
    - Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.

“O putera kepala keluarga, bagaimanakah caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu?
Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut :

  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur,
  2. Para guru seperti arah Selatan,
  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat,
  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara,
  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah,
  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas,

“AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :

  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur.
    Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah
    Timur :
    - Aku harus merawat mereka,
    - Aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka,
    - Aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga,
    - Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan,
    - Aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal dunia

    Dalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:
    - Mencegah anaknya berbuat jahat,
    - Mendorong mereka berbuat baik,
    - Melatihnya dalam suatu profesi,
    - Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
    - Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  2. Para guru seperti arah Selatan.
    Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan :
    - Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
    - Dengan melayani mereka,
    - Dengan bersemangat untuk belajar,
    - Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
    - Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.

    Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:
    - Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
    - Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
    - Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
    - Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
    - Menjaga keselamatannya di semua tempat.

    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.
    Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat :
    - Dengan menghormati,
    - Dengan bersikap ramah-tamah,
    - Dengan kesetiaan,
    - Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
    - Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.

    Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat dengan :
    - Mencintainya,
    - Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
    - Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
    - Dengan kesetiaan,
    - Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
    - Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.

    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya seperti arah Barat. Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya. Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.
    Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara dengan :
    - Bermurah hati,
    - Berlaku ramah,
    - Memberikan bantuan,
    - Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
    - Berbuat sebaik ucapannya.

    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya dengan :
    - Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
    - Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
    - Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
    - Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
    - Mereka menghormati keluarganya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabat-sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah.
    Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah :
    - Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
    - Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
    - Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
    - Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
    - Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan cara :
    - Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
    - Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
    - Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
    - Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
    - Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya.
    Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.
    Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas :
    - Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
    - Dengan cinta kasih dalam perkataan,
    - Dengan cinta kasih dalam pikiran,
    - Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
    - Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka :
    - Mereka mencegah ia berbuat jahat,
    - Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
    - Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
    - Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
    - Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
    - Mereka menunjukkan ia jalan ke surga.

    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya.
    Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.”

    Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putera kepala keluarga itu, berkata dengan amat gembira :
    “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan, agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepada saya. Dan sekarang, Yang Mulia, saya menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha. Semoga Yang Mulia berkenan menerima saya sebagai seorang upasaka, yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.”

Posting ini telah dilihat sebanyak :8665

Filed under: Artikel dan Kisah LainnyaCerita BuddhisKetika Anak BertanyaNaskah Dhamma

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!