Melaksanakan Tradisi Imlek Sesuai Buddha Dhamma – B. Uttamo
Melaksanakan Tradisi Imlek
Sesuai Buddha Dhamma
oleh Bhikkhu Uttamo
Posting ini telah dilihat sebanyak :2058
Posting ini telah dilihat sebanyak :2058
06 Desember 2010 s.d. 15 Desember 2010
01. Silvie
Monday, 6 December 2010
Hal yang dilakukan sewaktu meditasi
Namo Buddhaya,
Bhante, saya ingin bertanya. Ketika bermeditasi apa yg harus saya renungkan atau apa yang harus saya pikirkan? Kemudian apa yang dimaksud dengan dassana?
Mohon petunjuk dan pejelasannya Bhante.. Terima kasih.
Jawaban :
Meditasi dalam pengertian Buddhis adalah latihan mengembangkan keterampilan memusatkan pikiran pada satu hal. Meditasi dilatih secara rutin. Biasanya meditasi dilatih setiap pagi bangun tidur dan malam menjelang tidur. Lama waktu yang diperlukan setiap kali berlatih meditasi paling sedikit 15 menit sampai dengan 60 menit. Selama berlatih meditasi, seseorang hendaknya memposisikan duduk bersila dengan nyaman terlebih dahulu, kemudian pikiran diarahkan untuk berlatih fokus pada satu hal yang disebut obyek meditasi. Obyek meditasi yang dipergunakan biasanya adalah mengamati udara masuk dan keluar melalui lubang hidung saat seseorang bernafas secara normal. Dengan demikian, pelaku meditasi bukan merenungkan atau memikirkan hal lainnya. Selama meditasi seseorang hanya memusatkan pikiran pada kesadaran bahwa ‘saat ini saya sedang bernafas’.
Apabila kesadaran pada saat ini telah dilatih secara rutin setiap hari, maka tahap selanjutnya adalah mempergunakan kesadaran pada satu obyek tersebut untuk menyadari segala tindakan yang dilakukan dengan badan, ucapan serta pikiran. Usahakan untuk selalu sadar, ‘saat ini saya sedang apa?’ Dengan kesadaran setiap saat, maka lama kelamaan timbullah pengertian bahwa hidup hanyalah proses yang selalu berubah. Pengertian ini akan mengurangi kemelekatan sehingga kebencian maupun ketamakan juga berkurang. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :679529 November 2010 s.d. 05 December 2010
1. Hendra Sutanto
Monday, 29 November 2010
Meditasi dan mahluk halus
Namo Buddhaya,
Bhante…mohon petunjuknya. Apakah betul pada saat melakukan meditasi, sebelum mencapai jhana, meditator akan mengalami fase dimana kelima panca indra akan sementara “tertutup”.
Apabila betul demikian, pertanyaan saya adalah : pada saat tersebut, bukankah mahluk halus dapat memasuki ke tubuh meditator tersebut?
Mohon petunjuk Bhante untuk mengurai keraguan saya.
Terima kasih.
Jawaban :
Meditasi adalah melatih pikiran untuk tetap fokus atau terpusat pada satu obyek meditasi yang telah dipilih. Ada cukup banyak obyek meditasi. Salah satu obyek meditasi yang sangat sering dipergunakan adalah perhatian pada pernafasan. Ketika melatih meditasi dengan obyek pernafasan, upayakan untuk selalu memperhatikan serta merasakan saat udara masuk dan keluar secara alamiah melalui lubang hidung.
Setelah berlatih secara rutin, maka pikiran dapat lebih mudah terpusat pada obyek meditasi dalam waktu relatif cukup lama. Pikiran tidak lagi memperhatikan hal lain kecuali obyek meditasi. Pikiran tidak lagi terpengaruh oleh obyek-obyek indria yang lain. Dalam kondisi demikian, indria seolah tertutup. Namun, saat indria tertutup karena pikiran terpusat pada obyek, mahluk halus tentu saja tidak bisa mempengaruhi apalagi memasuki tubuh meditator tersebut.Mahluk halus membutuhkan sedikit ‘kerja sama’ agar dapat mempengaruhi seseorang. Saat seseorang fokus pada obyek meditasi, kerjasama yang diharapkan tidak ada. Mahluk halus akan mencari orang lain yang dapat diajak kerja sama. Salah satunya, orang yang sedang melamun.
Ketika seseorang melamun, mungkin saja indrianya seolah tertutup tetapi pikiran tidak fokus. Kondisi yang lemah ini seolah mengundang kerja sama dengan mahluk halus. Akibatnya, orang yang sedang melamun akan mudah dipengaruhi oleh mahluk halus.
Sebagai kesimpulan, seorang yang berlatih meditasi tidak perlu takut dengan gangguan mahluk halus selama ia tetap fokus dan tidak memperhatikan berbagai gejala yang mungkin ditimbulkan oleh mahluk halus tersebut. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :492122 November 2010 s.d. 28 November 2010
01. Rayno
Monday, 22 November 2010
Pencapaian jhana
Bhante, saya ingin bertanya tentang apakah benar memang ada kelompok orang yang tidak bisa mencapai jhana apabila dia bukan tihetuka puggala? Saya mendapat informasi ini dari buku ulasan ttg Abhidhamma.
Apakah benar jika seseorang hermaprodit maka tidak bisa mencapai jhana?
Apakah benar orang yang lesbian juga tidak bisa mencapai jhana?
Bagaimana seseorang bisa mengetahui jika dia itu tihetuka puggala?
Apakah pencapaian jhana juga tergantung apakah dia itu cacat atau tidak?
Terima kasih Bhante Uttamo.
Jawaban :
Meneliti pertanyaan di atas, kiranya cukup banyak yang disampaikan dan hampir semua berada dalam area teori. Diskusi teori Dhamma maupun meditasi dapat dilakukan dalam banyak forum tanya jawab lain yang mudah ditemukan lewat internet. Jadi, di sini semua pertanyaan di atas hanya akan dijawab secara umum. Semoga keterbatasan ini tidaklah mengecewakan.
Jhana adalah pencapaian meditasi dengan tingkat konsentrasi yang baik. Untuk mencapai jhana diperlukan latihan yang tekun dan penuh semangat.
Apabila seseorang – tanpa harus memikirkan kondisi dirinya sebagai hemaprodit, lesbian dsb – berusaha dengan sungguh-sungguh untuk berlatih konsentrasi secara rutin, maka mungkin saja ia mencapai jhana dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya.
Semoga dengan jawaban ini semakin banyak orang berlatih meditasi untuk mengembangkan konsentrasi. Hanya saja perlu diingat bahwa tingkat konsentrasi tinggi bukanlah tujuan dalam Ajaran Sang Buddha. Dalam pelaksanaan Dhamma, tingkat konsentrasi hendaknya dipergunakan untuk mengembangkan kesadaran setiap saat. Jadi, selalu gunakanlah konsentrasi pada saat bekerja, berbicara maupun berpikir agar mampu selalu sadar setiap saat pada semua segi kehidupan sebagai tujuan praktek Dhamma. Baca Selengkapnya…
Posting ini telah dilihat sebanyak :459313 November 2010 s.d. 20 November 2010
01. Handoyo Tejasoewita
Saturday, 13 November 2010
Meditasi
Di saat meditasi saya fokus pernafasan pikiran terasa fokus ke jasmani. Dan pikiran seolah hanya melihat jasmani tanpa ada reaksi apapun seperti diam tanpa reaksi.
Mohon petunjuk dari Bhante.
Namo Buddhaya.
Terima kasih.
Jawaban :
Dalam meditasi, bila menggunakan obyek pernafasan, maka pikiran hendaknya tetap dipusatkan pada obyek yang sudah dipilih tersebut.
Namun, bila terasa fokus pada jasmani yaitu lubang hidung, misalnya, maka konsentrasi meditasi sudah benar.
Bila fokus terasa bukan pada jasmani yang berhubungan dengan obyek yang sudah dipilih, hendaknya pikiran dikembalikan pada obyek pernafasan lagi. Baca Selengkapnya…