AMBALATTHIKARAHULOVADDHA SUTTA

Nasihat kepada Rahula di Ambalatthika

Sumber : Majjhima Nikaya 4
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris
Oleh : Dra. Wena Cintiawati, Dra. Lanny Anggawati
Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, 2007

[414]1. DEMIKIAN YANG SAYA DENGAR. Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha di Hutan Bambu, Taman Tupai.

2. Pada waktu itu, Y. M. Rahula sedang berdiam di Ambalatthika .637 Kemudian, ketika petang menjelang, Yang Terberkahi bangkit dari meditasinya dan pergi ke Y M. Rahula di Ambalatthika. Y M. Rahula melihat Yang Terberkahi datang dari kejauhan dan menyediakan tempat duduk serta menyiapkan air untuk membasuh kaki. Yang Terberkahi duduk di tempat yang telah disediakan dan mencuci kaki Beliau. Y M. Rahula memberi hormat dan duduk di satu sisi.

3. Kemudian Yang Terberkahi menyisakan sedikit air di tempayan air dan bertanya kepada Y M. Rahula: “Rahula, apakah engkau melihat sedikit air yang tersisa di tempayan air ini?” – ‘’Ya, Bhante.” – “Bahkan jauh lebih sedikit daripada ini, Rahula, kepetapaan dari mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja.”

4. Kemudian Yang Terberkahi membuang sedikit air yang tersisa itu dan bertanya kepada Y M. Rahula: “Rahula, apakah engkau melihat sedikit air yang dibuang itu?” – ‘’Ya, Bhante.” ‘Demikian pula, Rahula, mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja membuang kepetapaan mereka.”

5. Kemudian Yang Terberkahi menjungkir-balikkan tempayan air itu dan bertanya kepada Y. M. Rahula: “Rahula, apakah engkau melihat tempayan air yang dijungkir-balikkan ini?” – “Ya, Bhante.” – ‘Demikian pula, Rahula, mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja telah menjungkir-balikkan kepetapaan mereka.”

6. Kemudian Yang Terberkahi menegakkan tempayan air itu lagi dan bertanya kepada Y M. Rahula: “Apakah engkau melihat tempayan air yang hampa dan kosong ini?” – “Ya, Bhante.” Demikian hampa dan kosong pula, Rahula, kepetapaan dari mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja.”

7. “Andaikan saja, Rahula, ada seekor gajah jantan kerajaan dengan gading sepanjang tiang kereta kencana, dengan tubuh yang sudah dewasa, dari keturunan-tinggi, dan sudah terbiasa bertempur. Di medan pertempuran ia melaksanakan tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya, dengan tubuh bagian depan dan tubuh bagian belakangnya, dengan kepala dan telinganya, dengan gading dan ekornya, [415] namun ia tetap menahan belalainya. Maka penunggangnya akan berpikir: ‘Gajah jantan kerajaan dengan gading sepanjang tiang kereta kencana ini … melaksanakan tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya … namun tetap menahan belalainya. la belum menyerahkan hidupnya.’Tetapi ketika gajah jantan kerajaan ini… melaksanakan tugasnya di medan pertempuran dengan kaki depan dan kaki belakangnya, dengan tubuh bagian depan dan tubuh bagian belakangnya, dengan kepala dan telinganya, dengan gading dan ekornya, serta dengan belalainya juga, maka penunggangnya akan berpikir: ‘Gajah jantan kerajaan dengan gading sepanjang tiang kereta kencana ini … melaksanakan tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya … serta dengan belalainya juga. la telah menyerahkan hidupnya. Kini tak ada yang tidak akan dilakukan oleh gajah jantan kerajaan ini.’Demikian juga, Rahula, bila seseorang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja, maka tak ada kejahatan, kukatakan, yang tidak akan dilakukan oleh orang ini. Oleh karenanya, Rahula, engkau harus berlatih demikian: ‘Aku tidak akan mengucapkan kebohongan sekalipun hanya sebagai lelucon.’

8. “Bagaimana pendapatmu, Rahula? Apakah tujuan cermin?”

“Untuk tujuan refleksi, Bhante.”

“Demikian juga, Rahula, suatu tindakan melalui tubuh seharusnya dilakukan setelah refleksi berulang kali; tindakan melalui ucapan seharusnya dilakukan setelah refleksi berulang kali; tindakan melalui pikiran seharusnya dilakukan setelah refleksi berulang kali.

9. “Rahula, bila engkau ingin melakukan suatu tindakan melalui tubuh, engkau seharusnya merefleksikan tindakan fisik yang sama itu demikian:’Apakah tindakan yang ingin kulakukan melalui tubuh ini akan menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya? Apakah tindakan fisik ini tak-bajik dengan konsekuensi yang menyakitkan, dengan akibat yang menyakitkan?’ Bila engkau merenung, jilka engkau tahu: ‘Tindakan yang ingin kulakukan melalui tubuh ini akan menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya; tindakan fisik ini tak-bajik dengan konsekuensi yang menyakitkan, dengan akibat yang menyakitkan,’ maka jelas engkau tidak boleh melakukan tindakan fisik semacam itu. [416] Tetapi bila engkau merenung, jika engkau tahu:’Tindakan yang ingin kulakukan melalui tubuh ini tidak akan menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya; tindakan fisik ini bajik dengan konsekuensi yang menyenangkan, dengan akibat yang menyenangkan,’ maka engkau boleh melakukan tindakan fisik semacam itu.

10. “Juga, Rahula, sementara engkau sedang melakukan suatu tindakan melalui tubuh, engkau seharusnya merefleksikan tindakan fisik yang sama itu demikian: ‘Apakah tindakan yang sedang kulakulkan melalui tubuh ini menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya? Apakah tindakan fisik ini tak-bajik dengan konsekuensi yang menyakitkan, dengan akibat yang menyakitkan?’ Bila engkau merenung, jika engkau tahu: ‘Tindakan yang sedang kulakukan melalui tubuh ini menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya; tindakan fisik ini tak-bajik dengan konsekuensi yang menyakitkan, dengan akibat yang menyakitkan,’ maka engkau seharusnya menghentikan tindakan fisik semacam itu. Tetapi bila engkau merenung, jika engkau tahu: ‘Tindakan yang sedang kulakukan melalui tubuh ini tidak menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya; tindakan fisik ini bajik dengan konsekuensi yang menyenangkan, dengan akibat yang menyenangkan,’maka engkau boleh melanjutkan tindakan fisik semacam itu.

11. “Juga, Rahula,setelah engkau melakukan suatu tindakan melalui tubuh, engkau seharusnya merefleksikan tindakan fisik yang sama itu demikian:’Apakah tindakan yang telah kulakulkan melalui tubuh ini menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya? Apakah tindakan fisik itu tak-bajik dengan konsekuensi yang menyakitkan, dengan akibat yang menyakitkan?’ Bila engkau
merenung, jika engkau tahu: Tindakan yang telah kulakukan melalui tubuh ini menyebabkan mala petakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya; tindakan fisik itu tak-bajik dengan konsekuensi yang menyakitkan, dengan
akibat yang menyakitkan,’maka engkau seharusnya mengakui tindakan fisik semacam itu, mengungkapkannya, dan membukanya kepada Guru atau kepada para sahabatmu yang bijak dalam kehidupan suci. Setelah mengakuinya, mengungkapkannya, dan membukanya, [417] engkau harus menjalankan pengendalian diri di masa depan.638 Tetapi bila engkau merenung, jika engkau tahu: ‘Tindakan yang telah kulakukan melalui tubuh itu tidak menyebabkan malapetakaku sendiri, atau mala petaka orang lain, atau mala petaka keduanya; tindakan fisik itu bajik dengan konsekuensi yang menyenangkan, dengan akibat yang menyenangkan,’ maka engkau dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalarn keadaan-keadaan bajik.

12. “Rahula, bila engkau ingin melakukan tindakan melalui ucapan … (lengkap seperti di §9, namun tubuh, fisik” diganti dengan “ucapan, verbal”) … engkau boleh melakukan tindakan verbal semacam itu.

13. “Demikian pula, Rahula, sementara engkau sedang melakukan tindakan melalui ucapan … (lengkap seperti di § 10, namun “tubuh, fisik” diganti dengan “ucapan, verbal” [418] … engkau boleh melanjutkan tindakan verbal semacam itu.

14. ‘Demikian pula, Rahula, setelah engkau melakukan tindakan melalui ucapan … (lengkap seperti di §11, namun “tubuh, fisik” diganti dengan “ucapan, verbal”) … engkau dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalarn keadaan-keadaan baijk.

15. “Rahula, bila engkau ingin melakukan tindakan melalui pikiran … (lengkap seperti di §9, namun “tubuh, fisik” diganti dengan “pikiran, mental”) [419]… engkau boleh melakukan tindakan mental semacam itu.

16. ‘Demikian pula, Rahula, sementara engkau sedang melakukan tindakan melalui pikiran … (lengkap seperti di § 10, namun “tubuh, fisik” diganti dengan “pikiran, mental”) … engkau boleh melanjutkan tindakan mental semacam itu.

17. ‘Demikian pula, Rahula, setelah engkau melakukan tindakan melalui pikiran … (lengkap seperti di §11, namun “tubuh, fisik” diganti dengan “pikiran, mental” 639) … engkau dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan baijk. [420]

18. “Rahula, petapa dan brahmana mana pun di masa lalu telah memurnikan tindakan fisik tindakan verbal, dan tindakan mental mereka, semuanya melakukan demikian dengan berulang-kali merenung seperti itu. Petapa dan brahmana mana pun di masa depan akan memurnikan tindakan fisik, tindakan verbal, dan tindakan mental mereka, semuanya akan melakukan demikian dengan berulang-kali merenung seperti itu. Petapa dan brahmana mana pun di masa sekarang ini sedang memurnikan tindakan fisik, tindakan verbal, dan tindakan mental mereka, sernuanya melakukan demikian dengan berulang-kali merenung seperti itu. Oleh karenanya, Rahula, engkau harus berlatih demikian: ‘Kami akan memurnikan tindakan fisik tindakan verbal, dan tindakan mental kami dengan berulang-kali merenungkan hal-hal itu.–

Dernikianlah yang dikatakan oleh Yang Terberkahi. Y. M. Rahula merasa puas dan bergembira di dalarn kata-kata Yang Terberkahi.

Catatan

637 Rahula adalah satu-satunya putra Sang Buddha, yang dilahirkan pada hari ayahnya meninggalkan istana untuk mencari pencerahan. Pada usia tujuh tahun, dia ditahbiskan sebagai samanera oleh Y M. Sariputta pada saat Sang Buddha pertama kalinya kembali ke Kapilavatthu setelah pencerahan Beliau. Sang Buddha menyatakan Rahula sebagai siswa utama di antara mereka yang menginginkan latihan. Menurut MA, khotbah ini diajarkan kepada Rahula ketika dia berusia tujuh tahun, jadi tak lama setelah pentahbisannya. Di MN 147 Rahula mencapai tingkat Arahat setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha tentang pengembangan pandangan terang.

638 Memahami tindakan salah sedemikian, mengakuinya, dan menjalankan pengendalian diri di masa depan akan menyebabkan pertumbuhan di dalam Vinaya Sang Yang Agung. Lihat MN 65.13.

639 Tetapi, di bagian ini, frasa “maka engkau harus mengakui tindakan fisik semacam itu … dan membukanya” digantikan dengan frasa berikut: “Kalau demikian, engkau seharusnya muak, malu, dan jijik dengan tindakan mental itu. Setelah merasa muak, malu, dan jijik dengan tindakan mental itu …” Penggantian ini dibuat karena, tidak seperti pelanggaran melalui tubuh dan ucapan, pemikiran tak-bajik tidak membutuhkan pengakuan sebagai sarana untuk membebaskan diri dari celaan. Baik Horner di MLS dan Nm di Ms melewatkan variasi ini.

Posting ini telah dilihat sebanyak :1642

Filed under: Majjhima NikayaSutta PitakaTipitaka

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!