ANGULIMALA SUTTA

Tentang Angulimala

Sumber : Majjhima Nikaya 5
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris
Oleh : Dra. Wena Cintiawati, Dra. Lanny Anggawati
Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, 2008

1. DEMIKIAN YANG SAYA DENGAR. Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika.

2. Pada saat itu ada seorang bandit bernama Angulimala di wilayah Raja Pasenadi dari kosala. Bandit ini membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota,[98] dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung.820

3. Suatu pagi, Yang Terberkahi berpakaian, mengambil mangkuk dan jubah luar Beliau, lalu pergi ke Savathi untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah Beliau berkelana untuk mengumpulkan dana makanan di Savatthi dan telah kembali, setelah selesai makan Beliau merapikan tempat istirahatnya, mengambil mangkuk dan jubah luarnya, lalu berangkat menuju jalan yang mengarah ke Angulimala. Para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah yang lewat melihat Yang Terberkahi berjalan menuju Angulimala dan memberitahu Yang Terberkahi: “Jangan mengambil jalan ini, petapa. Dijalan ini ada bandit Angulimala, membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tanpa kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung. Orang-orang lewat jalan ini dalam kelompok sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh, tetapi tetap saja mereka menjadi korban tangan Angulimala.” Ketika hal ini disampaikan, Yang Terberkahi meneruskan perjalanannya dengan diam.

Untuk kedua kalinya… Untuk ketiga kalinya para penggemala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah memberitahukan hal ini kepada Yang Terberkahi, tetapi tetap saja Yang Terberkahi meneruskan perjalanannya dengan diam.

4. Bandit Angulimala melihat Yang Terberkahi datang dari kejauhan. Ketika melihat Beliau, dia berpikir. “Ini bagus, ini luar biasa! Orang-orang melewati jalan ini dalam kelompok sepuluh, dua puluh,[99] tiga puluh, dan bahkan empat puluh, dan tetap saja mereka menjadi korban tanganku. Dan sekarang petapa ini datang sendiri, tidak ditemani, seolah-olah, di dorong oleh nasib. Mengapa aku tidak membunuh petapa ini saja?” Angulimala kemudian mengambil pedang dan tamengnya, memasang busur dan tempat anak paahnya, dan mengikuti dari dekat di belakang yang terbekahi.

5. Maka Yang Terberkahi menunjukkan kekuatan supranormal yang sedemikian sehingga bandit Angulimala, walaupun berjalan secepatnya yang dia bisa, tidak sanggup mengejar Yang Terberkahi yang berjalan dengan kecepatan normal. Kemudian bandit Angulimala berpikir; “Ini hebat, ini luar biasa! Aku bisa mengejar bahkan gajah yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kuda yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kereta yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan rusa yang cepat dan menangkapnya; tetapi sekarang, walaupun aku berjalan secepat yang aku bisa, aku tidak sanggup mengejar petapa yangberjalan dengan kecepatan normal ini!” Dia pun berhenti dan berteriak kepada Yang Terberkahi: “berhenti, petapa! Berhenti, petapa!”

“Aku telah berhenti, Angulimala, engkau pun berhentilah juga.”

Kemudian bandit Angulimala berpikir: “Petapa-petapa ini, putra -putra Sakya, berbicara kebenaran, menegaskan kebenaran; tetapi walaupun petapa ini masih berjalan, dia mengatakan: ‘Aku telah berhenti, Angulimala, engkau pun berhentilah juga.’ Sebaliknya kutanya petapa ini.”

6. Maka bandit Angulimala berkata kepada Yang Terberkahi dalam bait-bait demikian:

“Sementara engkau sedang berjalan, petapa, kau katakan padaku engkau telah berhenti;
Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, kau katakan aku belum berhenti.
Aku bertanya kepadamu kini, O petapa, tentang artinya:
Bagaimana bisa engkau telah berhenti dan aku belum?”
“Angulimala, aku telah berhenti selamanya,
Aku bebas dari kekerasan terhadap makhluk hidup;
Tetapi engkau tidak punya pengendalian diri terhadap makhluk-makhluk hidup:
Itulah sebabnya aku telah berhenti dan engkau belum.” [100]

“Oh, akhirnya petapa ini, orang suci yang dihormati,
Telah datang ke hutan besar ini demi aku.821
Setelah mendengar baitmu yang mengajarkan Dhamma kepadaku,
Aku benar-benar akan meninggalkan kejahatan selamanya.”

Setelah berkata demikian, bandit itu mengambil pedang dan senjatanya
Dan melemparkannya ke kedalaman jurang yang menganga;
Si bandit menyembah di kaki Yang Tertinggi,
Dan saat itu dan di sana juga memohon pentahbisan.

Yang tercerahkan, Manusia Suci dengan Kasih Sayang yang Besar,
Sang Guru dunia dengan [semua] dewanya,
Berkata kepadanya dengan kata-kata ini, Datanglah, bhikkhu.”
Dan demikianlah dia menjadi bhikkhu.822

7. Kemudian Yang Terberkahi mulai berkelana kembali ke Savantthi dengan Angulimala sebagai pelayan Beliau. Berkelana secara bertahap, Beliau akhirnya tiba di Savatthi, dan di sana Beliau berdiam di Hutan Jeta, Taman Anathapindika.

8. Pada kesempatan itu, banyak sekali orang yang berkumpul di gerbang-gerbang bagian dalam istana Raja Pasenadi, dengan sangat keras dan bising mereka berteriak: “Baginda, bandit Angilamala ada di wilayahmu; dia membunuh, bertangan-berlumur-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota,[98] dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung Raja harus menumpangnya!”

9. Dan di tengah hari, Raja Pasenadi dari Kosala pergi keluar dari Savatthi dengan lima ratus pasukan kuda dan berangkat menuju taman itu. Dia pergi sejauh jalan dapat dilewati kereta dan kemudian turun dari keretanya untuk melanjutkan perjalanan berjalan kaki menuju Yang Terberkahi.[101] Setelah memberi hormat kepada Yang Terberkahi, ia duduk di satu sisi, dan Yang Terberkahi berkata kepadanya: “Ada apa, raja yang agung? Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menyerangmu, atau para Licchavi dari Vesali, atau raja-raja lain yang bermusuhan?”

10. “Bhante, Raja Seniya Bimbisara dari Maghada tidak menyerangku, tidak juga para Licchavi dari Vesali maupun raja-raja lain yang bermusuhan. Tetapi di wilayahku ada seorang bandit bernama Angulimala, yang membunuh, bertangan-berlumuran-darah, terbiasa memukul dan suka kekerasan, tak kenal ampun kepada makhluk hidup. Berbagai desa, kota, dan daerah dihancurkan olehnya. Dia terus saja membunuh orang dan jari-jari korban digunakannya sebagai untaian kalung. Sayaa tidak akan pernah bisa menumpasnya, Bhante.”

11. Raja yang agung, seandainya engkau melihat bahwa Angulimala telah mencukur rambut dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan berumah menuju tak-berumah, bahwa dia tidak lagi membunuh makhluk hidup tidak lagi, mengambil apa yang tidak diberikan dan tidak lagi bicara bohong; bahwa dia tidak makan di malam hari melainkan makan hanya di satu bagian hari, dan hidup selibat, luhur, dengan watak baik. Seandainya engkau melihat dia demikian, bagaimana raja akan memperlakukannya?”

“Bhante, kami akan memberi hormat dia, atau bangkit untuk menghormati dia, atau mempersilahkan dia duduk; atau kami akan mengundang dia untuk menerima jubah, dana makanan, tempat istirahat, atau kebutuhan-kebutuhan obat; atau kami akan mengatur bagimua penjagaan, pertahanan, dan perlindungan. Tetapi, Bhante, dia adalah manusia yang tak-bermoral, manusia yang berwatak jahat. Bagaimana mungkin dia memiliki moralitas dan pengendalian semacam itu?”

12. Pada saat itu, Angulimala sedang duduk tidak jauh dari Yang Terberkahi. Maka Yang Terberkahi mengulurkan tangan kanannya dan berkata kepada Raja Pasenadi dari Kosala; “Raja Yang agung, inilah Angulimala.”

Raja Pasenadi menjadi ketakutan, khawatir, dan ngeri, ketika mengetahui ini, Yang Terberkahi berkata: “Jangan takut, raja yang agung, jangan takut. Tidak ada yang perlu engkau takuti dari dia.”

Maka rasa takut, [102] khawatir, dan ngeri raja pun mereda, Dia mendekat pada Y.M. Angulimala dan berkata: “Bhante, apakah tuan yang terhormat ini benar-benar Angulimala?”

“Ya, raja yang agung.”

“Bhante, dari keluarga apakah ayah tuan yang terhormat? Dari keluarga manakah ibunya?”

“Ayahku adalah seorang Gagga, raja yang agung; ibuku seorang Mantani.”

“Semoga tuan Gagga Mantaniputta yang terhormat beristirahat dengan tenang. Saya akan menyediakan jubah, dana makanan, tempat istirahat, dan kebutuhan-kebutuhan obat untuk tuan Gagga Mantaniputta yang terhormat.”

13. Pada saat itu Y.M. Angulimala adalah penghuni-hutan, pemakan dana-makanan, pemakai kain-buangan, dan membatasi membatasi diri dengan jubah. Dia menjawab: “Cukup, raja yang agung, tiga jubahku sudah lengkap.”

Raja Pasenadi kemudian kembali kepada Yang Terberkahi, dan setelah memberi hormat, dia duduk di satu sisi dan berkata:

“Sungguh luar biasa, Bhante, sungguh hebat bagaimana Yang Terberkahi menjinakkan yang tak-terjinakkan, membawa kedamaian bagi yang tidak-damai, dan membimbing menuju Nibbana mereka yang belum mencapai Nibbana. Bhante, kami sendiri tidak bisa menjinakkannya dengan kekuatan dan senjata, tetapi Yang Terberkahi menjinakkannya tanpa kekuatan atau pun senjata. Dan sekarang, Bhante, kami berangkat. Kami sibuk dan banyak yang harus dilakukan.”

“Sekaranglah waktunya, raja yang agung, untuk melakukan apa yang kau anggap sesuai.”

Kemudian Raja Pasenadi di Kosala bangkit dari tempat duduknya. Setelah memberi hormat kepada Yang Terberkahi, dengan tetap menjaga agar Beliau di sisi kanannya, dia pergi.

14. Suatu pagi, Y.M. Angulimala berpakaian, mengambil mangkuk dan jubah luarnya, lalu pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika beliau berkelana untuk dana makanan dari rumah ke rumah di Savatthi, dia melihat seorang perempuan sedang melahirkan anak cacat. [103] Ketika melihat ini, dia berpikir: “Betapa menderitanya para makhluk! Sungguh, bepata menderitanya para makhluk!”

Setelah berkelana untuk mengumpulkan dana makanan di Savathi dan kembali, setelah makan Y.M. Angulimala menemui Yang Terberkahi. Setelah memberi hormat kepada Beliau, dia duduk di satu sisi dan berkata: “Bhante, di pagi hari saya berpakaian, mengambil mangkuk dan jubah luar saya, dan pergi ke Savathi untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika saya berkelana untuk mengumpulkan dana makanan dari rumah ke rumah di Savatthi, saya melihat seorang perempuan sedang melahirkan anak cacat. Ketika melihat ini, saya berpikir: “Betapa menderitanya para makhluk! Sungguh, betapa menderitanya para makhluk!”

15. “Kalau begitu, Angulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada perempuan itu: ‘Saudari, sejak saya terlahir di dalam kelahiran mulia, saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera!’”

“Bhante, apakah saya tidak menceritakan kebohongan yang disengaja, karena toh dengan sengaja saya telah membunuh banyak makhluk hidup?”

“Kalau begitu, Agulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada perempuan itu: ‘Saudari, sejak saya terlahir dengan kelahiran mulia, saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera!’”823

“Ya. Bhante,” Jawab Y.M. Angulimala, dan setelah pergi ke Savatthi dia berkata kepada perempuan itu: “Saudari, sejak saya terlahir dengan kelahiran mulia, Saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera!” Kemudian perempuan dan bayinya itu menjadi sejahtera.

16. Tak lama kemudian, dengan berdiam sendiri, melihat ke dalam diri, rajin, bersemangat, dan mantap, Y.M. Angulimala, dengan merealisasikan bagi dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung, di sini dan kini masuk dan berdiam di dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang untuknya para pria baik-baik dengan benar meninggalkan kehidupan berumah menuju tak-berumah. Dia langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak lagi ada kelahiran di alam mana pun juga.”[104] Dan Y.M. Angulimala menjadi salah satu Arahat.

17. Suatu pagi, Y.M. Angulimala berpakaian, mengambil mangkuk serta jubah luarnya, dan pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Pada waktu itu, seseorang melempar tongkat yang mengenai tubuhnya, lalu orang lain melempar pecahan tembikar yang mengenai tubuhnya. Kemudian, dengan darah yang mengalir dari kepalanya yang terluka, dengan mangkuknya yang pecah dan jubah luarnya yang robek, Y.M. Angulimala menemui yang Terberkahi. Yang Terberkahi melihat dia datang dari kejauhan dan berkata: “Tanggunglah, brahmana! Tanggunglah, brahmana! Engkau mengalami di sini dan kini akibat tindakan-tindakan yang karenanya engkau mungkin di siksa di neraka selama bertahun tahun selama beratus-ratus tahun, selama beribu-ribu tahun.”824

18. Pada suatu saat, ketika Y.M. Angulimala sedang sendirian bermeditasi dan mengalami kebahagiaan pembebasan, beliau mengucapkan ungkapan ini:825

“Dia yang pernah hidup lalai
Dan kemudian tidak lalai,
Dia menyinari dunia
Bagaikan rembulan yang terbebas dari awan

Yang menghentikan perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukannya
Dengan melakukan perbuatan-perbuatan bajik sebagai gantinya
Dia menyinari dunia
Bagaikan rembulan yang terbebas dari awan

Bhikku muda yang mengerahkan
Usaha-usahanya untuk Ajaran Buddha,
Dia menyinari dunia
Bagaikan rembulan yang terbebas dari awan.

Semoga musuh-musuhku mendengar khotbah Dhamma,
Semoga mereka tekun dalam Ajaran Buddha,
Semoga musuh-musuhku melayani orang-orang baik itu
Yang membimbing orang lain untuk menerima Dhamma.

[105] Semoga musuh-musuhku mau memasang telinga dari saat ke saat
Dan mendengar Dhamma dari mereka yang mengkotbahkan kesabaran,
Dari mereka yang juga menyampaikan pujian tentang kebaikan hati
Dan semoga mereka menjalankan Dhamma itu dengan perbuatan-perbuatan baik.

Karena tentu kemudian mereka tidak akan ingin menyakitiku,
Tidak juga mereka berpikir untuk merugikan makhluk lain,
Maka, mereka yang mau melindungi semuanya, yang lemah dan kuat,
Semoga mereka mencapai kedamaian yang melebihi semuanya.

Pembuat saluran mengarahkan air
Pembuat panah meluruskan batang anak-panah,
Tukang kayu meluruskan kayu,
Tetapi orang bijak berusaha untuk menjinakkan diri sendiri.

Ada beberapa yang menjinakkan dengan pukulan,
Beberapa dengan tongkat dan beberapa dengan cambuk;
Tetapi aku dijinakkan hanya oleh
Dia yang tidak memiliki tongkat maupun senjata.

‘Tak menyakiti’ adalah nama yang kini kutanggung,
Walaupun aku berbahaya di masa lalu.826
Nama yang kutanggung hari ini sungguh benar:
Aku sama sekali tidak menyakiti makhluk hidup.

Dan walaupun aku dulu hidup sebagai bandit
Dengan nama ‘Untaian-Jari,’
Orang yang disapu banjir deras,
Aku telah pergi untuk perlidungan kepada Buddha.

Dan walaupun aku dulu memiliki tangan yang terlumur darah
Dengan nama “Untaian-jari,”
Lihatlah perlindungan yang telah kutemukan:
Ikatan dumadi telah terpotong.

Walaupun aku dulu melaukan banyak perbuatan yang membawa
Menuju kelahiran di alam-alam yang jahat,
Namun akibatnya telah sampai padaku sekarang,
Maka kini aku makan bebas dari  hutang.827

Mereka adalah orang-orang tolol dan tidak punya akal sehat
Yang menyerahkan diri mereka  pada kelalaian,
Tetapi mereka yang punya kebijaksanaan menjaga ketekunan
Dan memperlakukannya sebagai kebaikan terbesar.

Jangan menyerah pada kelalaian
Jangan pula mencari sukacita dalam kesenangan-kesenangan indera,
Tetapi bermeditasilah dengan tekun
Agar supaya mencapai kebahagiaan sempurna.

Jadi silakan datang pada pilihanku itu
Dan biarlah hal itu bertahan, karena ia tidak salah dibuat;
Dari semua Dhamma yang diketahui manusia
Aku telah datang yang paling baik.

Jadi silakan datang pada pilihanku itu
Dan biarlah hal itu bertahan, karena ia tidak salah dibuat;
Aku telah mencapai tiga pengetahuan
Dan melaksanakan semua yang diajarkan Sang Buddha.”

Catatan

820
Nama “Angulimala” merupakan julukan yang berarti “untaian (mala) jari (anguli).” Dia adalah putra brahmana Bhaggava, pendeta bagi Raja Pasenadi dari Kosala. Nama yang diberikan sekarang adalah Ahimsaka, yang artinya “yang tidak merugikan.” Dia belajar di Takkasila, di mana dia menjadi kesayangan gurunya. Sesama siswa, karena iri kepadanya, memberitahu gurunya bahwa Ahimsaka telah melakukan perselingkuhan dengan istri gurunya itu. Dengan maksud menghancurkan Ahimsaka, guru itu memerintahkan dia untuk membawakan seribu jari sebagai bayaran. Ahimsaka hidup di hutan Jalini, menyerang para pelancong, memotong satu jari setiap korban, dan memakainya sebagai untaian kalung di lehernya. Pada saat sutta itu bermula, dia hanya kurang satu jari dan telah bertekad untuk membunuh orang berikutnya yang datang. Sang Buddha melihat ibu Angulimala sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi dia, dan sadar bahwa Angulimala mempunyai kondisi-kondisi pendukung untuk menjadi Arahat. Maka Beliau mencegat dia sebelum ibunya keburu tiba.

821
MA menjelaskan bahwa Angulimala baru saja menyadari bahwa bhikkhu di hadapannya adalah Sang Buddha sendiri dan bahwa Beliau telah datang ke hutan dengan tujuan yang jelas yaitu untuk mengubahnya.

822
MA: karena jasa kebajikannya di masa lalu, Angulimala memperoleh mangkuk dan jubah melalui kekuatan spiritual dari Sang Buddha segera setelah Sang Buddha berkata, “Datanglah, bhikkhu.”

823
Bahkan sampai sekarang cetusan ini sering diulang oleh para bhikkhu sebagai mantra pelindung (paritta) untuk perempuan-perempuan hamil yang mendekati masa melahirkan.

824
MA Menjalankan bahwa tindakan berkehendak apa pun (kamma) mampu menghasilkan tiga jenis akibat: akibat yang dialami di sini dan kini, yaitu, dalam kehidupan yang sama ini dimana perbuatan itu dilakukan; akibat yang dialami di kehidupan yang akan datang; dan akibat yang dialami di kehidupan mana pun setelah yang berikutnya, selama perjalanan seseorang di lingkaran samsara masih berlanjut. Karena telah mencapai tingkat arahat, Angulimala lolos dari dua jenis akibat yang terakhir, tetapi tidak bisa lolos dari yang pertama, karena bahkan Arahat pun masih mengalami akibat-akibat tindakan kehidupan masa-kini yang mereka lakukan sebelum mereka mencapai tingkat arahat.

825
Beberapa syair berikutnya juga muncul di Dhammapada Syair-syair Angulimala ditemukan utuh di Thag 866-91.

826
Walaupun MA mengatakan bahwa Ahimsaka, “Tidak merugikan,” adalah nama Angulimala sekarang, kitab Komentar untuk Theragatha mengatakan bahwa nama aslinya adalah Himsaka, yang artinya “berbahaya”.

827
Sementara bhikkhu-bhikkhu mulia yang belum Arahat dikatakan makan dana makanan negeri itu sebagai warisan dari Sang Buddha, para Arahat makan “bebas dari hutang” karena dia telah membuat dirinya sepenuhnya pantas untuk menerima dana makanan. Lihat Vism 125-27.

Posting ini telah dilihat sebanyak :3130

Filed under: Majjhima NikayaSutta PitakaTipitaka

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!