1.
(209) |
Orang yang memperjuangkan
apa yang seharusnya dihindari,
dan tidak memperjuangkan
apa yang seharusnya diperjuangkan;
melepaskan apa yang baik
dan melekat pada apa yang tidak menyenangkan,
akan merasa iri terhadap mereka
yang tekun dalam latihan. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
2.
(210) |
Janganlah melekat pada apa yang dicintai
atau yang tidak dicintai.
Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai
dan bertemu dengan mereka yang tidak dicintai,
keduanya merupakan penderitaan. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
3.
(211) |
Oleh sebab itu, janganlah mencintai apapun,
karena berpisah dengan apa yang dicintai adalah menyedihkan.
Tiada lagi ikatan bagi mereka yang telah bebas
dari mencintai dan tidak mencintai. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
4.
(212) |
Dari yang disayangi timbul kesedihan,
dari yang disayangi timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari yang disayangi,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
5.
(213) |
Dari cinta timbul kesedihan,
dari cinta timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
6.
(214) |
Dari kemelekatan timbul kesedihan,
dari kemelekatan timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
7.
(215) |
Dari nafsu timbul kesedihan,
dari nafsu timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari nafsu,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
8.
(216) |
Dari keinginan timbul kesedihan,
dari keinginan timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari keinginan,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
9.
(217) |
Barang siapa sempurna dalam sila
dan mempunyai pandangan terang,
teguh dalam Dhamma, selalu berbicara benar
dan memenuhi segala kewajibannya,
maka semua orang akan mencintainya. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
10.
(218) |
Barang siapa bermaksud ingin mencapai
‘Yang Tak Dinyatakan’ (nibbana),
yang batinnya tidak lagi terikat oleh kesenangan indria,
orang seperti itu disebut “yang telah pergi ke hilir arus kehidupan”. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
11.
(219) |
Setelah lama seseorang pergi jauh
dan kemudian pulang ke rumah dengan selamat,
maka keluarga, kerabat dan sahabat
akan menyambutnya dengan senang hati. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |
12.
(220) |
Begitu juga, perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan
akan menyambut pelakunya yang telah pergi dari dunia ini
ke dunia selanjutnya,
seperti keluarga yang menyambut pulangnya orang tercinta. |
| Cerita terjadinya syair ini:… |