AMBATTHA SUTTA
Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Badan Penerbit Ariya Surya Chandra, 1992
Bagian I
- Demikian yang telah kami dengar. Pada suatu ketika, sewaktu Sang
Bhagava bepergian menjelajahi negara Kosala bersama dengan lima
ratus orang Bhikkhu. Beliau tiba di suatu desa yang bernama Icchanankala,
desa tempat tinggal kaum brahmana. Setelah berada di sana, Sang
Bhagava tinggal di Hutan Icchanankala.
Pada waktu itu brahmana Pokkharasadi sedang berdiam di Ukkattha,
suatu tempat yang padat penduduknya, banyak padang rumput, hutan
kayu dan ladang; tanah kerajaan yang dihadiahkan oleh Raja Pasenadi
Kosala kepadanya, dan ia berkuasa penuh atas tempat itu seakan-akan
ia seorang raja layaknya.
- Brahmana Pokkharasadi mendengar berita bahwa Samana Gotama dari
suku Sakya, yang telah meninggalkan keluarga Sakya untuk menjalankan
hidup pabbajja; bepergian menjelajahi negara Kosala bersama dengan
lima ratus orang bhikkhu dan sekarang tiba di Icchanankala dan berdiam
di Hutan Icchanankala. Demikianlah kabar baik mengenai Sang Gotama,
Sang Bhagava yang telah tersebar luas: "Sang Bhagava, yang
Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan
serta tindak-tanduk-Nya, sempurna dalam menempuh Jalan, Pengenal
segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia
untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut
Dimuliakan. Beliau mengajarkan Pengetahuan yang telah diperoleh
melalui usaha-Nya sendiri kepada orang orang lain dalam dunia ini
yang terdiri dari para dewa, mara dan Brahma; para petapa, brahmana,
raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan Dhamma (Kebenaran) yang
indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya,
baik dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan cara hidup pertapa
(brahmacariya) yang sempurna dan suci".
'Sungguh baik sekali untuk pergi mengunjungi Arahat seperti
itu'.
- Pada waktu itu seorang brahmana muda bernama Ambattha menjadi
murid brahmana Pokkharasadi. Ia adalah seorang yang hafal membaca
mantra; menguasai Tri-Veda dengan indeks, upacara, fonologi, keterangan-keterangan
dan cerita-ceritanya sebagai yang kelima; pandai dalam ungkapan-ungkapan
dan tata bahasa; ahli ilmu lokayata (materialisme) dan pengetahuan
tentang tanda-tanda tubuh manusia besar (mahapurisa-lakkhana). Dan
karena dikenal sebagai seorang yang ahli dalam sistim pengetahuan
Tri-Veda (tevijja), maka ia dapat berkata: 'Apa yang aku ketahui,
engkau juga tahu; apa yang engkau ketahui, aku juga tahu.'
- Kemudian brahmana Pokkharasadi memberitahu Ambattha, demikian:
"Ambattha, itulah Samana Gotama dari suku Sakya, yang telah
meninggalkan keluarga Sakya untuk menjalankan hidup pabbajja; bepergian
menjelajahi negara Kosala bersama dengan lima ratus orang, bhikkhu,
sekarang tiba di Icchanankala dan berdiam di Hutan Icchanankala.
Demikianlah kabar baik mengenai Sang Gotama, Sang Bhagava yang telah
tersebar luas: 'Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai
Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya,
sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang
tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para
dewa dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan. Beliau mengajarkan
Pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada
orang orang lain dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan
Brahma; para petapa, brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan
Dhamma (Kebenaran) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan
dan indah pada akhir, baik dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan
cara hidup petapa (brahmacariya) yang sempurna dan suci.' Sungguh
baik pergi mengunjungi arahat seperti itu. Sekarang, Ambattha, pergilah
mengunjungi Samana Gotama; setelah bertemu dengan Samana Gotama
selidiki apakah kabar baik yang telah tersebar luas mengenai Sang
Gotama itu sesuai dengan kenyataan atau tidak; apakah keadaan diri
Sang Gotama seperti yang mereka katakan itu atau tidak'.
- "Tetapi, Guru, bagaimana aku dapat mengetahui keadaan Sang
Gotama; apakah kabar baik yang telah tersebar luas mengenai diri
Sang Gotama itu sesuai dengan kenyataan atau tidak; apakah keadaan
Sang Gotama seperti yang mereka katakan itu atau tidak ?"
"Ambattha, dalam syair-syair mantra kita telah diajarkan
tiga puluh dua tanda tubuh manusia besar; yang apabila seseorang
memiliki tanda-tanda ini, maka ia akan menjadi salah satu dari
dua hal, bukan lainnya. Bila ia hidup berumahtangga, ia akan menjadi
raja yang memerintah dunia (cakkavatti-raja), seorang Raja Kebenaran
(Dhamma-raja), bahkan menguasai sampai seberang empat lautan,
seorang penakluk, pelindung rakyatnya, pemilik tujuh-mustika (satta-ratana).
Dan inilah tujuh mustika yang ia miliki, yaitu: mustika Roda (cakka-ratana),
mustika Gajah (hatthi-ratana), mustika Kuda (assa-ratana), mustika
Permata (mani-ratana), mustika Wanita (itthi-ratana), mustika
Harta (gahapati-ratana) dan mustika Panglima (parinayaka-ratana)
sebagai yang ketujuh. Dan ia memiliki putra lebih dari seribu,
memiliki pahlawan-pahlawan yang kuat untuk menghancurkan tentara
musuh. Dan ia berkuasa penuh atas tanah luas yang berbataskan
lautan; memerintah dengan adil tanpa mempergunakan tongkat dan
pedang. Tetapi, apabila ia pergi meninggalkan hidup keluarga,
mengembara sebagai petapa tanpa rumah; maka ia akan menjadi seorang
Buddha, Arahat, yang menyingkirkan kegelapan dari mata dunia.
Ambattha, aku pemberi syair-syair mantra; engkau telah menerimanya
dariku".
-
"Baiklah, Guru" jawab Ambattha. Kemudian ia bangkit
dari duduknya dan memberi hormat pada brahmana Pokkharasadi; kemudian
ia naik kereta yang ditarik oleh kuda betina dan berangkat bersama
dengan serombongan pemuda brahmana menuju ke Hutan Icchanankala.
Setelah melanjutkan perjalanan dengan naik kereta sejauh jalan
masih dapat dilalui oleh kendaraan, selanjutnya ia turun dari
keretanya dan berjalan kaki ke arama.
- Pada waktu itu sejumlah bhikkhu sedang berjalan-jalan di udara
terbuka, Kemudian Ambattha pergi mendekati para bhikkhu itu dan
berkata: "Di manakah yang Mulia Gotama sekarang berdiam ? Kami
datang ke mari ingin menjumpai Yang Mulia Gotama"
- Selanjutnya para bhikkhu itu berpikir: "Pemuda Ambattha ini
berasal dari keluarga ternama dan menjadi murid brahmana Pokkharasadi
yang terkenal. Sang Bhagava tentu tidak akan mengalami kesukaran
untuk bercakap-cakap dengan dirinya." Dan mereka berkata kepada
Ambattha: "Ambattha, Beliau tinggal di sana, di rumah yang
pintunya tertutup; pergilah ke sana dengan diam-diam dan masuk perlahan-lahan
melalui serambi muka; berikan tanda batuk dan ketuklah palang pintunya.
Sang Bhagava akan membukakan pintu bagimu".
- Kemudian Ambattha menuju ke tempat tinggal Beliau yang pintunya
tertutup. Ia pergi ke sana dengan diam-diam dan masuk perlahan-lahan
melalui serambi muka; memberikan tanda batuk dan mengetuk palang
pintunya. Sang Bhagava membuka pintu dan Ambattha masuk. Para pemuda
brahmana itu juga ikut masuk, mereka bersama-sama saling bertukar
salam dengan Sang Bhagava dengan kata-kata ramah dan menyenangkan;
kemudian mereka duduk. Tetapi, sewaktu Sang Bhagava duduk, Ambattha
berjalan kian kemari, mengucapkan sesuatu yang tidak sopan sambil
berjalan kian kemari atau berdiri menghadap Sang Bhagava yang duduk
di sana.
- Kemudian Sang Bhagava berkata kepadanya: "Ambattha, apakah
begitu caranya engkau bercakap-cakap dengan para brahmana yang lanjut
usianya, dengan para guru dari guru-gurumu yang berusia tua, seperti
yang sekarang engkau lakukan, sambil mengucapkan sesuatu yang tidak
sopan dengan sikap yang kasar sambil berjalan kian kemari atau berdiri
sewaktu aku sedang duduk ?"
"Sudah tentu tidak. Gotama, Gotama, adalah pantas untuk berbincang-bincang
dengan brahmana sambil berjalan hanya sewaktu brahmana itu sendiri
sedang berjalan. Gotama, adalah pantas untuk berbincang-bincang
dengan brahmana sambil berdiri hanya sewaktu brahmana itu sendiri
sedang berdiri. Gotama, adalah pantas untuk berbincang-bincang dengan
brahmana sambil duduk hanya sewaktu brahmana itu sendiri sedang
duduk. Gotama, adalah pantas untuk berbincang-bincang dengan brahmana
sambil berbaring hanya sewaktu brahmana itu sendiri sedang berbaring.
Tetapi, Gotama, dengan orang berkepala gundul, petapa palsu, kaum
budak hitam, keturunan kaum Sudra - dengan mereka aku akan berbincang
seperti yang sekarang aku lakukan dengan engkau, Gotama"
- "Tetapi, Ambatha, sewaktu datang ke mari engkau pasti menginginkan
sesuatu. Kembalikanlah pikiranmu pada obyek yang kau miliki sewaktu
datang. Pemuda Ambattha ini tidak terdidik baik, walaupun ia bangga
dengan pendidikannya; apakah ini bukannya karena kurang pendidikan
?"
- Kemudian Ambattha menjadi tidak senang dan marah kepada Sang Bhagava
yang mengatakannya kurang pendidikan; dan mengira Sang Bhagava menyesal
kepadanya. Samana Gotama mengatakan diriku jahat, katanya sambil
mengejek Sang Bhagava, mengolok-ngoloknya dan mencemoohkannya. Ia
lalu berkata kepada Sang Bhagava : "Gotama, keturunan Sakya
kejam; Gotama, keturunan Sakya kasar; Gotama, keturunan Sakya mudah
tersinggung; Gotama, ¾ keturunan sebangsa budak; mereka tidak
menghormati kaum brahmana, mereka tidak menghargai kaum brahmana,
mereka tidak mengindahkan kaum brahmana, mereka tidak memuja kaum
brahmana, mereka tidak memberikan persembahan persembahan kepada
kaum brahmana. Gotama, sesungguhnya hal itu tidak pantas, hal itu
tidak sopan. Suku Sakya itu adalah budak-budak, sebangsa budak;
mereka tidak menghormati kaum brahmana, mereka tidak menghargai
kaum brahmana, mereka tidak mengindahkan kaum brahmana, mereka tidak
memuja kaum brahmana; mereka tidak memberikan persembahan-persembahan
kepada kaum brahmana."
Demikianlah untuk pertama kalinya pemuda Ambattha menghina suku
Sakya sebagai budak-budak.
- Tetapi dengan cara bagaimana suku Sakya pernah berbuat salah kepadamu,
Ambattha ?
"Pada suatu waktu, Gotama, ketika aku harus pergi ke Kapilavatthu
untuk urusan pekerjaan guruku brahmana Pokkharasadi, aku mengunjungi
balaikota (santhagara) suku Sakya. Dan pada waktu itu, di dalam
gedung balaikota terdapat sekelompok suku Sakya, pemuda-pemuda Sakya
sedang duduk di atas kursi-kursi megah; mereka saling menggelitik
dengan jari-jari tangan satu sama lain, tertawa-tawa dan bergembira;
dan kupikir, pastilah diriku yang dijadikan bahan tertawaan mereka;
dan bahkan tak seorang pun di antara mereka yang memberikan tempat
duduk kepadaku. Gotama, sesungguhnya hal itu tidak pantas, hal itu
tidak sopan. Suku Sakya itu adalah budak-budak, sebangsa budak;
mereka tidak menghormati kaum brahmana, mereka tidak menghargai
kaum brahmana, mereka tidak mengindahkan kaum brahmana, mereka tidak
memuja kaum barahmana, mereka tidak memberikan persembahan-persembahan
kepada kaum brahmana."
Demikianlah untuk kedua kalinya pemuda Ambattha menghina suku
Sakya sebagai budak-budak.
- "Ambattha, mengapa seekor burung walaupun kecil, dapat mengatakan
apa yang disenangi dalam sarangnya sendiri. Dan demikian pula halnya
dengan suku Sakya yang berada di tempatnya sendiri, di Kapilavatthu.
Adalah tidak patut bagimu, Ambattha, untuk merasa tersinggung dengan
suatu hal yang tidak berarti seperti itu."
- "Gotama, ada empat kasta (vanna) ini : Khattiya (ksatria),
Brahmana, Vessa dan Sudda. Dan di antara keempat kasta ini, Gotama,
tiga kasta, yaitu Khattiya, Vessa dan Sudda sesungguhnya hanya merupakan
pelayan dari kaum brahmana."
"Karena itu, Gotama, sesungguhnya hal itu tidak pantas,
hal itu tidak sopan. Suku Sakya itu adalah budak-budak, sebangsa
budak; mereka tidak menghormati kaum brahmana, mereka tidak menghargai
kaum brahmana, mereka tidak mengindahkan kaum brahmana, mereka
tidak memuja kaum brahmana, mereka tidak memberikan persembahan-persembahan
kepada kaum brahmana."
Demikianlah untuk ketiga kalinya Pemuda Ambattha menghina suku
Sakya sebagai budak-budak.
-
Kemudian Sang Bhagava berpikir demikian: "Pemuda Ambattha
ini terlalu menghina suku Sakya dengan mencelanya berasal dari
keturunan rendah. Bagaimana bila Aku menanyakan asal keturunannya
sendiri?" Dan Sang Bhagava bertanya: "Ambattha, berasal
dari keturunan apakah engkau?"
"Gotama, aku berasal dari keturunan Kanhayana."
"Ya, tetapi bila menyelidiki nama keturunanmu di masa lampau
dari pihak ayah dan ibu, Ambattha, nampaknya suku Sakya pernah
menjadi majikanmu, dan engkau adalah anak dari salah satu pelayan
wanita suku Sakya. Tetapi suku Sakya mengusut kembali garis keturunan
ayahnya dari Raja Okkaka."
"Pada jaman dahulu, Ambattha, karena Raja Okkaka ingin mengalihkan
penggantian (kedudukan raja) pada seorang putra dari permaisuri
kesayangannya, telah mengusir putra-putranya yang lebih tua: Okkamukha,
Karanda, Hatthinika dan Sinipura - keluar dari kerajaan. Setelah
diusir keluar dari kerajaan, mereka tinggal di lereng gunung Himalaya,
pada tepi sebuah danau di mana tumbuh sebatang pohon Saka besar.
Dan karena takut merusak kemurnian keturunan, mereka saling menikah
dengan adik-adik perempuannya sendiri."
Kemudian Raja Okkaka bertanya kepada kumpulan para menterinya:
"Kawan-kawan, di manakah sekarang putra-putraku berada?"
"Tuanku, ada suatu tempat di lereng gunung Himalaya, pada
tepi sebuah danau di mana tumbuh sebatang pohon Saka besar. Di
sanalah putra-putra Baginda berdiam. Dan karena takut merusak
kemurnian keturunannya, mereka saling menikah dengan adik-adik
perempuannya sendiri."
Kemudian, Ambattha, Raja Okkaka berseru dengan gembira : "Pemuda-pemuda
itulah Sakya (hati pohon Ara). Sungguh sempurna-pemuda pemuda
itu mempertahankan kemurniannya sendiri (parama-sakya)."
"Itulah sebabnya, Ambattha, mengapa mereka dikenal sebagai
suku Sakya. Mereka adalah nenek moyang suku Sakya. Selanjutnya,
Ambattha, Raja Okkaka mempunyai seorang pelayan wanita bernama
Disa. Ia melahirkan seorang anak hitam. Dan tak lama setelah lahir,
anak hitam itu berkata: "Cucilah aku, ibu; mandikanlah aku,
ibu. Ibu, bersihkanlah aku dari kotoran ini; maka aku akan memberikan
manfaat kepadamu."
"Ambattha, sama seperti sekarang orang-orang menyebut setan-setan
dengan sebutan 'setan': selanjutnya mereka menyebut setan-setan
dengan sebutan 'mahluk-mahluk hitam' (kanhi). Dan mereka
berkata: "Anak ini dapat berbicara segera setelah ia dilahirkan.
Ini adalah mahluk hitam (kanha) yang lahir, seorang setan telah
lahir."
"Itulah, Ambatha, asal-usul suku Kanhayana. Ia adalah nenek
moyang suku Kanhayana. Dan itulah Ambattha, apabila menyelidiki
nama keturunanmu di masa lampau dari pihak ayah dan, ibu, nampaknya
suku Sakya pernah menjadi majikanmu dan engkau adalah anak dari
salah seorang pelayan wanita suku Sakya."
-
Setelah Beliau berbicara demikian, para pemuda brahmana itu berkata
kepada Sang Bhagava: "Janganlah kawan Gotama terlalu menghina
Ambattha dengan mengatakan berasal dari keturunan seorang pelayan
wanita. Kawan Gotama, pemuda Ambattha lahir dari keluarga baik-baik,
pemuda Ambattha adalah putra dari keluarga baik-baik, pemuda Ambattha
terpelajar, pemuda Ambattha pandai berdebat, pemuda Ambattha bijaksana,
pemuda Ambattha dapat memberikan jawaban kepada kawan Gotama tentang
hal ini."
-
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para pemuda brahmana itu
: "Baiklah, kawan-kawan, bila engkau berpikir bahwa pemuda
Ambattha lahir dari keluarga yang tidak baik, pemuda Ambattha
adalah putra dari keluarga yang tidak baik, pemuda Ambattha tidak
terpelajar, pemuda Ambattha tidak pandai berdebat, pemuda Ambattha
tidak bijaksana, pemuda Ambattha tidak dapat memberikan jawaban
kepada Samana Gotama tentang hal ini, biarlah pemuda Ambatttha
sendiri yang melanjutkan percakapan tentang hal ini. Bila engkau
berpikir bahwa Ambattha lahir dari keluarga baik-baik, pemuda
Ambattha adalah putra dari keluarga baik-baik, pemuda Ambattha
terpelajar, pemuda Ambattha pandai berdebat, pemuda Ambattha bijaksana,
pemuda Ambattha dapat memberikan jawaban kepada Samana Gotama
tentang hal ini, biarlah pemuda Ambattha sendiri yang melanjutkan
percakapan tentang hal ini."
-
"Kawan gotama, pemuda Ambattha lahir dari keluarga baik-baik,
pemuda Ambattha adalah putra dari keluarga baik-baik, pemuda Ambattha
terpelajar, pemuda Ambattha pandai berdebat, pemuda Ambattha bijaksana;
pemuda Ambattha dapat memberikan jawaban kepada kawan Gotama tentang
hal ini. Dan kita akan berdiam diri. Pemuda Ambattha dapat memberikan
jawaban kepada kawan Gotama tentang hal ini."
-
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ambattha : "Selanjutnya
timbul pertanyaan lagi, Ambattha, suatu pertanyaan yang walaupun
tidak diinginkan, engkau harus menjawabnya. Apabila engkau tidak
memberikan jawaban yang jelas atau memberikan jawaban yang lain;
atau engkau tetap diam atau pergi, maka kepalamu akan pecah berkeping-keping
di tempat ini juga. Bagaimanakah pendapatmu, Ambattha? Apakah
engkau pernah mendengar, sewaktu para brahmana yang lanjut usianya
atau para guru dari guru-gurumu yang berusia tua sedang bercakap-cakap
bersama mengenai darimana asalnya suku Kanhayana dan siapa yang
menjadi nenek moyang suku Kanhayana ?"
Setelah beliau berkata demikian, pemuda Ambattha tetap diam.
Dan untuk kedua kalinya Sang Bhagava bertanya kepada pemuda Ambattha:
"Bagaimanakah pendapatmu, Ambattha? Apakah engkau pernah
mendengar, sewaktu para brahmana yang lanjut usianya atau para
guru dari guru-gurumu yang berusia tua sedang bercakap-cakap bersama
mengenai darimana asalnya suku Kanhayana dan siapakah yang menjadi
nenek moyang suku Kanhayana ? Dan juga untuk kedua kalinya pemuda
Ambattha tetap diam.
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ambattha : "Engkau
lebih baik menjawab pertanyaan itu sekarang, Ambattha. Ini bukan
waktunya bagimu untuk tetap diam. Karena, Ambattha, siapapun juga
yang tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tathagata sampai
ketiga kalinya; maka kepalanya akan pecah berkeping-keping di
tempat itu juga."
-
Pada waktu itu Yakkha Vajirapani berada di atas Ambattha, berdiri
di udara dengan membawa pemukul besi besar yang membara, menyala-nyala
dan menyilaukan; dengan maksud apabila pemuda Ambattha tidak menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh Sang Bhagava yang ketiga kalinya;
segera aku akan memecahkan kepalanya berkeping-keping di tempat
ini juga.
Sang Bhagava melihat Yakkha Vajirapani itu, demikian pula pemuda
Ambattha. Dan Ambattha yang sadar akan hal itu merasa ketakutan,
panik serta seluruh rambutnya menjadi berdiri; mencari keselamatan
kepada Sang Bhagava, mencari perlindungan pada Sang Bhagava dan
mencari bantuan pada Sang Bhagava; ia duduk dekat Sang Bhagava
dan berkata: "Apakah yang telah dikatakan oleh Yang Mulia
Gotama? Katakanlah sekali lagi, Yang Mulia Gotama !"
"Bagaimanakah pendapatmu, Ambattha ? Apakah engkau pernah
mendengar, sewaktu para brahmana yang lanjut usianya atau para
guru dari guru-gurumu yang berusia tua sedang bercakap-cakap bersama
mengenai darimana asalnya suku Kanhayana dan siapa yang menjadi
nenek moyang suku Kanhayana ?"
"Demikianlah, Gotama, yang telah kudengar tentang asal-usul
suku Kanhayana dan tentang mereka yang menjadi nenek moyang suku
Kanhayana, sama seperti yang dikatakan oleh yang Mulia Gotama."
-
Setelah ia berkata demikian, para pemuda brahmana itu menjadi
gempar, ribut; dan mereka berkata: "Pemuda Ambattha benar-benar
lahir dari keluarga yang tidak baik, pemuda Ambattha benar-benar
putra dari keluarga yang tidak baik, pemuda Ambattha benar-benar
putra dari salah seorang pelayan wanita suku Sakya, pemuda Ambattha
benar-benar putra dari budak suku Sakya. Kita tidak mengira bahwa
Samana Gotama yang tidak kita percaya itu, sesungguhnya kata-kata-Nya
benar."
-
Dan Sang Bhagava berpikir: "Para pemuda brahmana ini terlalu
menghina Ambattha dengan mencelanya sebagai anak yang berasal
dari seorang budak wanita. Biarlah Aku membebaskannya dari celaan
mereka." Dan Sang Bhagava berkata kepada para pemuda brahmana
itu: "Kawan-kawan, janganlah terlalu menghina pemuda Ambattha
dengan mencelanya sebagai anak yang berasal dari seorang budak
wanita. Dan selanjutnya Kanha itu menjadi resi yang sakti. Setelah
pergi ke negara bagian selatan (Dekkan) untuk mempelajari mantra
gaib, ia kembali ke tempat Raja Okkaka untuk meminta putrinya
yang bernama Khudda-rupi menjadi isterinya. Sebagai jawaban kepadanya,
Sang Raja berkata: "Siapakah gerangan resi yang menjadi putra
pelayan wanitaku ini, yang meminta Khudda-rupi putriku sebagai
istrinya?" Karena marah serta merasa tidak senang, baginda
memasang sebatang anak panah pada busurnya. Tetapi ia tidak dapat
menerbangkan anak panah itu atau pun melepaskannya dari tali busur
lagi. Kemudian para menteri dan pembantu pembantu raja mendatangi
Kanha sang resi itu, dan berkata: "Bhadante, biarlah Baginda
selamat (sotthi hotu); bhadante, biarlah Baginda selamat."
"Sang Raja akan selamat, bila ia memanahkan anak panahnya
ke bawah, maka tanah seluas wilayah kerajaannya akan mengering."
"Bhadante, biarlah Baginda selamat; biarlah negaranya selamat
juga."
"Sang Raja akan selamat, negaranya juga akan selamat; tetapi
bila ia memanahkan anak panahnya ke atas, maka hujan tidak akan
turun di seluruh wilayah kerajaannya selama tujuh tahun."
"Sang Raja akan selamat, negaranya akan selamat dan hujan
akan turun; tetapi biarlah Sang Raja memanahkan anak panahnya
kepada putranya yang tertua. Pangeran akan selamat dan tidak akan
mengalami cedera apa pun."
"Selanjutnya, kawan-kawan, para menteri memberitahukan hal
ini kepada Raja Okkaka, dan berkata: "Biarlah Baginda memanahkan
anak panahnya kepada putra tertua; Pangeran akan selamat dan tidak
akan mengalami cedera apa pun." Kemudian Raja Okkaka memanahkan
anak panahnya kepada putranya yang tertua dan Pangeran selamat,
tidak mengalami cedera apa pun. Demikianlah, baginda yang menjadi
takut dengan pelajaran yang diberikan kepadanya, telah menyerahkan
Khudda-rupi putrinya menjadi istri Kanha itu. Karenanya, kawan-kawan,
janganlah terlalu menghina pemuda Ambattha dengan mencelanya sebagai
anak yang berasal dari seorang budak wanita. Selanjutnya Kanha
itu menjadi resi yang sakti."
-
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ambattha : "Bagaimanakah
pendapatmu, Ambattha ? Seandainya seorang pemuda khattiya (kesatria)
mengadakan hubungan dengan seorang gadis brahmana. Dan sebagai
akibat dari hubungan mereka lahirlah seorang putra. Selanjutnya,
apakah putra yang lahir dari pemuda khattiya dan gadis brahmana
itu akan menerima tempat duduk dan air (sebagai tanda penghormatan)
dari kaum brahmana?"
"Ya, Gotama, ia akan menerimanya."
"Tetapi apakah kaum brahmana akan mengajarkan mantranya
atau tidak ?"
"Ya, Gotama, mereka akan mengajarkannya."
"Tetapi apakah ia akan dilarang untuk berhubungan dengan
gadis gadis mereka atau tidak?"
"Ia tidak akan dilarang, Gotama."
"Tetapi apakah kaum khattiya akan mengijinkan ia menerima
upacara penyucian seorang khattiya?"
"Tidak, Gotama."
"Apakah sebabnya?"
"Karena ia bukan keturunan murni pada pihak sang ibu, Gotama."
-
"Bagaimanakah pendapatmu, Ambattha ? Seandainya seorang
pemuda brahmana mengadakan hubungan dengan seorang gadis khattiya.
Dan sebagai akibat dari hubungan mereka lahirlah seorang putra.
Selanjutnya, apakah putra yang lahir dari pemuda brahmana dan
gadis khattiya itu akan menerima tempat duduk dan air (sebagai
tanda penghormatan) dari kaum brahmana ?"
"Ya, Gotama, ia akan menerimanya."
"Tetapi apakah kaum brahmana akan mengajarkan mantranya
atau tidak ?"
"Ya, Gotama, mereka akan mengajarkannya."
"Tetapi apakah ia akan dilarang untuk berhubungan dengan
gadis- gadis mereka atau tidak?"
"Ia tidak akan dilarang, Gotama."
"Tetapi apakah kaum khattiya akan mengijinkan ia menerima
upacara penyucian seorang khattiya?"
"Tidak, Gotama."
"Apakah sebabnya ?"
"Karena ia bukan keturunan murni pada pihak sang ayah, Gotama."
-
"Maka, Ambattha, apakah seseorang dengan membandingkan wanita
dengan wanita, atau lelaki dengan lelaki, maka kaum khattiya adalah
lebih tinggi dan kaum brahmana lebih rendah ?"
"Bagaimanakah pendapatmu, Ambattha ? Seandainya seorang
brahmana berbuat suatu kesalahan dan diusir oleh kaum brahmana
keluar dari kerajaan atau keluar dari kota dengan menggunduli
dan menaburkan abu di atas kepalanya. Apakah ia akan menerima
tempat duduk dan air di antara kaum brahmana ?"
"Sudah tentu tidak, Gotama."
"Apakah kaum brahmana mengijinkannya untuk ikut ambil bagian
dalam upacara persembahan makanan kepada orang mati, atau dalam
upacara persembahan makanan yang dimasak dalam susu, atau dalam
upacara persembahan kepada para dewa, atau dalam upacara persembahan
makanan sebagai sajian ?"
"Sudah tentu tidak, Gotama."
"Apakah kaum brahmana akan mengajarkan mantra kepadanya
atau tidak ?"
"Sudah tentu tidak, Gotama."
"Apakah ia akan dilarang untuk berhubungan dengan gadis-gadis
mereka atau tidak ?"
"Ia akan dilarang, Gotama."
-
"Bagaimanakah pendapatmu, Ambattha ? Seandainya seorang
khattiya berbuat suatu kesalahan, dan diusir oleh kaum khattiya
keluar dari kerajaan atau keluar dari - kota dengan menggunduli
dan menaburkan abu di atas kepalanya. Apakah ia akan menerima
tempat duduk dan air di antara kaum brahmana ?"
"Ya, Gotama, ia akan menerimanya."
"Apakah kaum brahmana mengijinkannya untuk ikut ambil bagian
dalam upacara persembahan makanan kepada orang mati, atau dalam
upacara persembahan makanan yang dimasak dalam susu, atau dalam
upacara persembahan kepada para dewa, atau dalam upacara persembahan
makanan sebagai sajian ?"
"Ya, Gotama, mereka akan mengijinkannya."
"Apakah kaum brahmana akan mengajarkan mantra kepadanya
atau tidak ?"
"Ya, Gotama, mereka akan mengajarkannya."
"Apakah ia akan dilarang untuk berhubungan dengan gadis-gadis
mereka atau tidak ?"
"Ia tidak akan dilarang, Gotama."
"Dengan demikian, Ambattha, seorang khattiya akan merosot
rendah sekali karena diusir oleh kaum khattiya keluar dari kerajaan
atau keluar dari kota dengan menggunduli dan menaburkan abu di
atas kepalanya. Maka, Ambattha, walaupun seorang khattiya merosot
sekali, tetapi masih tetap kaum Khattiya lebih tinggi dan kaum
brahmana lebih rendah."
-
"Lagi pula, Ambattha, Sanam Kumara, salah seorang dari dewa-dewa
Brahma yang mengucapkan syair ini :
"Seorang khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan
ini, yang mempertahankan keturunannya.
Tetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, adalah
yang terbaik di antara para dewa dan manusia."
Syair ini, Ambattha, telah diucapkan dengan baik dan bukannya
diucapkan dengan tidak baik oleh Brahma Sanam Kumara; kata-kata
yang baik dan bukan kata-kata jahat ini; penuh arti dan bukan
kosong dari arti. Karenanya, Aku membenarkannya, Ambattha, Aku
juga menyatakan : "Seorang khattiya adalah yang terbaik di
antara kumpulan ini, yang mempertahankan keturunannya.
Tetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, adalah
yang terbaik di antara para dewa dan manusia." "
|