"Tetapi, Gotama, apakah tingkah laku dan apakah pengetahuan
itu ?"
"Ambattha, seandainya di dunia ini muncul seorang Tathagata,
Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna
pengetahuan serta tingkah laku-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal
segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia
untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang Sadar, Yang
Patut Dimuliakan, Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh
melalui usaha-Nya sendiri kepada orang-orang lain, dalam dunia
ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahma; para petapa, brahmana,
raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan Dhamma (Kebenaran)
yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada
akhir dalam isi, maupun bahasanya. Beliau mengajarkan cara hidup
petapa (brahma cariya) yang sempurna dan suci."
"Kemudian, Ambattha, seorang yang berkeluarga atau salah
seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga-rendah
datang untuk mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya
ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki
keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya : "Sesungguhnya,
-hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh
dengan nafsu. Bebas seperti udara adalah hidup pabbaja. Sungguh
sukar bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup
brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta sungguh gemilang
kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku,
mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup-keluarga untuk
menempuh hidup Pabbaja."
"Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai
dengan Patimokkha (peraturan-peraturan bhikkhu), sempurna kelakuan
dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan
yang paling kecil sekali pun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya
dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan
dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya sempurna silanya, terjaga
pintu-pintu indrianya. Ia memiliki perhatian-murni dan pengertian-jelas
(sati - sampajanna); dan hidup puas."
"Bagaimanakah, Ambattha, seorang bhikkhu yang sempurna silanya?
Dalam hal ini, Ambattha seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan
diri dari pembunuhan mahluk-mahluk. Ia membuang alat pemukul dan
pedang, malu dengan perbuatan-kasar; ia hidup dengan penuh cinta-kasih,
kasih sayang dan bajik terhadap semua mahluk, semua yang hidup.
Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang
tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung
pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah, Ambattha, sila
yang dimilikinya."
"Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan Brahmacariya (tidak
kawin); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan
kelamin. Inilah, Ambattha, Sila yang dimilikinya."
"Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta; ia berbicara
benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya,
serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia."
"Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari memfitnah; apa
yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain
karena akan menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini.
Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di
sini yang akan menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di
sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, menganjurkan
persahabatan di antara mereka, pemersatu, mencintai persatuan,
mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pembicaraannya.
Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata
kasar; ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan,
menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi
orang. Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan
yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai
dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan Vinaya. Pada saat
yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar,
penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas
dan tidak berbelit-belit. Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh-tumbuhan.
Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari. Ia menahan
diri dari menonton pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian
dan musik. Ia menahan diri dari penggunaan alat-alat kosmetik,
karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan.
Ia menahan diri dari penggunaan tempat-tidur yang besar dan mewah.
Ia menahan diri dari menerima emas dan perak. Ia menahan diri
dari menerima gandum (padi) yang belum dimasak. Ia menahan diri
dari menerima daging yang belum dimasak. Ia menahan diri menerima
wanita dan perempuan-perempuan muda. Ia menahan diri dari menerima
budak belian lelaki dan budak belian perempuan. Ia menahan diri
dari menerima biri-biri atau kambing. Ia menahan diri dari menerima
babi dan unggas. Ia menahan diri dari menerima tanah-tanah pertanian.
Ia menahan diri dari berlaku sebagai duta atau pesuruh. Ia menahan
diri dari membeli dan menjual. Ia menahan diri dari menipu dengan
timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran. Ia menahan diri dari
perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan. Ia menahan diri dari
perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan
menganiaya. Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak
bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti : tumbuhan yang berkembang
biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari dahan-dahanan,
tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang
berkembang biak dari ruas-ruas atau tumbuhan yang berkembang biak
dari kecambah-kecambahan; namun, seorang bhikkhu menahan diri
dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah, Ambattha,
sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan
barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti : bahan makan simpanan,
minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan,
alat-alat tidur simpanan, wangi-wangian simpanan, bumbu makanan
simpanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan
barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah, Ambattha, sila
yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton
aneka macam pertunjukan, seperti : tari-tarian, nyanyi-nyanyian,
musik, pertunjukan panggung, opera, musik yang diiringi dengan
tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian,
permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu-kuda, adu-sapi,
adu-banteng, pertandingan bela-diri dengan menggunakan tingkat,
pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang-perangan, pawai,
inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton
aneka macam pertunjukan semacam itu. Inilah, Ambattha, sila yang
dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat
dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti : permainan
catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan
papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada
diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan
benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncangkannya,
permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan
kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna
dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan
meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku
dengan luku-mainan, permainan jungkir-balik (salto), permainan
dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan tembangan-mainan
yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta-perang-mainan,
bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang
digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran
teman bermain, menirukan gerak-gerik orang cacad; namun, seorang
bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam
itu. Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan
aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti : dipan
tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki,
dipan dengan tiang-tiang berukirkan gambar binatang-binatang,
seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan
bordiran warna-warni, selimut putih, seprei dari wol yang disulam
dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan
wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei
dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan bulu binatang
pada salah satu tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei
dari sutra, selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang,
selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit
kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani
dengan tutup di atasnya, sofa dengan bantal merah untuk kepala
dan kaki; namun, seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan
aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah,
Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti; mereka masih memakai
perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri, seperti melumuri,
mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukul tubuhnya
dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca,
minyak-mata (bukan obat), bunga-bunga, pemerah-pipi, kosmetika,
gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk
menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam,
sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih
panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan
diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah
diri semacam itu. Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat
dalam percakapan-percakapan, seperti : percakapan tentang raja-raja,
percakapan tentang pencuri, percakapan tentang menteri-menteri,
percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang
pembunuh-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran,
percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan
tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang
karangan-karangan bunga, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan
tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang
desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan
tentang negara, percakapan tentang wanita, percakapan tentang
lelaki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan di tempat-tempat
pengambilan air, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu,
percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang
terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan
tentang perwujudan dan bukan-perwujudan (eksistensi dan non-eksistensi);
namun, seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan
yang semacam itu. Inilah Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlihat
dalam kata-kata perdebatan, seperti : "Bagaimana seharusnya
engkau mengerti Dhamma Vinaya ini ?" "Engkau menganut
pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan
benar." "Aku berbicara langsung pada pokok persoalan,
tetapi engkau tidak berbicara langsung pada pokok persoalan."
"Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya
dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan
tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir."
"Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan,
semuanya itu telah usang." "Kata-kata bantahanmu itu
telah ditentang, dan engkau ternyata salah." "Berusahalah
untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; bebaskanlah dirimu bila
kau sanggup", namun, seorang bhikkhu menahan diri dari
kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku
sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara
dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, brahmana, orang
berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata : "Pergilah
ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana",
namun, seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai
pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah Ambattha,
sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan
tindakan-tindakan penipuan dengan cara : merapalkan kata-kata
suci, meramal tanda-tanda dan mengusir setan dengan tujuan memperoleh
keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun,
seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam
itu. Inilah Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa-petapa dan brahmana hidup dari
makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih
mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah,
seperti : meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal
melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari
halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal
dengan mengartikan mimpi-mimpi, meramal dengan melihat tanda-tanda
pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang
digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan
yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam
untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa,
memberikan persembahan dengan beras untuk dewa-dewa, memberikan
persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa, memberikan persembahan
dengan minyak untuk dewa-dewa, mempersembahkan biji wijen dengan
cara menyemburkannya dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari
lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat
pada buku jari, setelah itu mengucapkan mantra dan meramalkan
apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah
letak rumah itu baik atau tidak; menasehati cara-cara pengukuran
tanah; mengusir setan-setan di kuburan; mengusir hantu, mantra
untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk menjinakkan
ular, mantra racun, mantra kalajengking, mantra tikus, mantra
burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah,
keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu
menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui
ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari
penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti
: pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau
buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan
dari pemiliknya, seperti : batu-batu permata, tongkat, pedang,
panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak
lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan; gajah,
kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, kambing, biri-biri, burung
hantu, burung gereja, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang
lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan
dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah
sila Ambattha, yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari
penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti
: meramal dengan akibat : pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur,
pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin
musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita
akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan
menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak
ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun, seorang bhikkhu
menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui
ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah, Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari
penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti
: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang,
matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari
atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang akan
kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa
bumi, halilintar; matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam,
bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut
akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu, namun, seorang
bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara
salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah Ambattha, sila
yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari
penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti
: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang
tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan
bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah
sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung
jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian
rakyat yang populer dan adat kebiasaan : namun, seorang bhikkhu
menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui
ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari
penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah seperti
: mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa
pulang, mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk
dikirim pergi, menentukan saat yang baik untuk menentukan perjanjian
damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra),
menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan
saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi
pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan
mantra untuk membuat orang sial, menggunakan mantra untuk menggugurkan
kandungan, menggunakan mantra untuk menyebabkan kebisuan, menggunakan
mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk
membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk
menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat kaca-ajaib,
mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari
jawaban dari dewa, memuja matahari, memuja maha-ibu (dewa tanah),
mengeluarkan api dari mulut, mohon kepada dewi Sri, atau dewi
keberuntungan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari
penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam
itu. Inilah Ambattha, sila yang dimilikinya."
"Meskipun beberapa petapa dan brahmana hidup dari makanan
yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari
penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti
: berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para
dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam
itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari
tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat
pria menjadi impoten, menentukan letak yang tepat untuk membangun
rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan
upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan
korban, memberikan obat tumpah dan penguras perut, memberikan
obat bersin untuk mengobati sakit kepala, meminyaki telinga orang
lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberikan
collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan
praktek sebagai okultis, menjalankan praktek sebagai dokter bedah,
menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan
dari bahan akar-akaran, membuat obat-obatan; namun, seorang
bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara
salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah Ambattha, sila
yang dimilikinya."
"Selanjutnya, O Tuanku, seorang bhikkhu yang sempurna silanya,
tidak melihat adanya bahaya dari jurusan mana pun sejauh berkenaan
dengan pengendalian terhadap sila. O Tuanku, sama seperti seorang
kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuhnya
telah dikalahkan, tidak melihat bahaya dari arah mana pun sejauh
berkenaan dengan pengendalian terhadap sila. Demikian pula, seorang
bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari arah
mana pun sejauh berkenaan dengan pengendalian sila. Dengan memiliki
kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan
murni (anavajja-sukham). Demikianlah, Ambattha, seorang bhikkhu
yang memiliki sila sempurna."
"Bagaimanakah, Ambattha bila seorang bhikkhu memiliki penjagaan
atas pintu-pintu indrianya ? O Tuanku, bilamana seorang bhikkhu
melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk
keseluruhan atau bentuk bagian kecilnya. Ia berusaha menahan diri
terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya
keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian;
yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa
pengendalian diri terhadap indria penglihatannya. Ia menjaga indria
pengelihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indria pengelihatannya.
Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat
dengan bentuk-keseluruhan atau bentuk bagian kecilnya. Ia berusaha
menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan
bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan
dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu
ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indria pendengarannya.
Ia menjaga indria pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap
indria pendengarannya.
Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan
bentuk keseluruhan atau bentuk bagian kecilnya. Ia berusaha menahan
diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi
tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan
kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia
berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indria penciumannya.
Ia menjaga indria penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap
indria penciumannya.
Bilamana ia mengecap rasa dengan lidahnya, ia tidak terpikat
dengan bentuk keseluruhan atau bentuk-bagian kecilnya. Ia berusaha
menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan
bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan
dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu
ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indria pengecapannya.
Ia menjaga indria pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap
indria pengecapannya.
Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak
terpikat dengan bentuk-bentuk keseluruhan atau bentuk-bagian kecilnya.
Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan
kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk,
keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya
sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indria perabanya.
Ia menjaga indria perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap
indria perabanya.
Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia
tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk-bagian kecilnya.
Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan
kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk;
keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya
sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indria pikirannya.
Ia menjaga indria pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap
indria pikirannya.
"Dengan memiliki pengendalian diri terhadap indria-indrianya,
ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak ternoda - sedikitpun.
Demikianlah, Ambattha, seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian
atas pintu-pintu indrianya."
"Bagaimanakah, Ambattha, bila seorang bhikkhu memiliki perhatian-murni
dan pengertian yang benar ? Dalam hal ini, Ambattha, seorang bhikkhu
mengerti dan sadar sewaktu ia pergi atau sewaktu ia kembali; ia
mengerti dan sadar sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping;
ia mengerti dan sadar sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati),
jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk (patta); ia mengerti
dan sadar sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan; ia mengerti
dan sadar sewaktu buang air atau sewaktu kencing; ia mengerti
dan sadar sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur,
bangun, berbicara atau diam. Demikianlah, Ambattha, seorang bhikkhu
yang memiliki perhatian-murni dan pengertian-jelas."
"Bagaimanakah, Ambattha bila seorang bhikkhu merasa puas
? Dalam hal ini, Ambattha, seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan
jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan
makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan
kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya membawa hal-hal ini.
Ambattha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, kemana pun
akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya.
Demikian pula, Ambattha, seorang bhikhu merasa puas hanya dengan
jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan
makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka,
kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal
ini. Demikianlah, Ambattha, seorang bhikkhu merasa puas."
"Setelah memiliki kelompok-sila yang mulia ini, memiliki
pengendalian terhadap indria-indria, memiliki perhatian-murni
dan pengertian benar yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia
ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon,
di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur,
di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami
untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana
makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil
memusatkan perhatiannya ke depan."
Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dengan
pikiran yang bebas dari kehidupan, membersihkan pikirannya dari
nafsu-nafsu. Dengan menyingkirkan itikad-jahat, ia berdiam dengan
pikiran yang bebas dari itikad jahat; dengan pikiran bersahabat
serta penuh kasih sayang terhadap semua mahluk, semua yang hidup,
ia membersihkan pikirannya dari itikad-jahat. Dengan menyingkirkan
kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari
kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada
pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya
dari kemalasan dan kelambanan. Dengan menyingkirkan kegelisahan
dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin
tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran.
Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan;
dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan
pikirannya dari keragu-raguan."
"Ambattha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang,
ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar
kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat
seorang istri. Dan ia berpikir : "Dahulu aku berhutang dan
berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar
kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat
seorang istri." Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang
hati atas hal itu."
"Ambattha, sama halnya seperti seseorang yang diserang penyakit,
berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna
makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun
setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna
makanannya sehingga kekuatannya pulih. Dan ia berpikir : "Dahulu
aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku,
tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan
dalam diriku : namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit
itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih." Dengan
demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu."
"Ambattha, sama halnya seperti seseorang yang ditahan dalam
rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya,
aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Dan
ia berpikir : "Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan
sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku
tidak ada yang dirampas." Dengan demikian ia merasa gembira,
bersenang hati atas hal itu."
"Ambattha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak,
bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak
dapat pergi kemana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan
dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak
tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas pergi kemana
ia suka. Dan ia berpikir : "Dahulu aku seorang budak, bukan
tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat
pergi kemana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan,
menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain,
seorang yang bebas, bebas pergi kemana aku suka." Dengan
demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu."
"Ambattha, sama halnya seperti seseorang yang dengan membawa
kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir,
di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah
beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat
tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada
bahaya. Dan ia berpikir : "Dahulu, dengan membawa kekayaan
dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di
mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang
aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba
di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya."
Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu."
"Demikianlah, Ambattha, selama lima rintangan (panca nivarana)
belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti
orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak,
melakukan perjalanan di padang pasir. Tetapi Ambattha, setelah
lima rintangan itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya
seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit,
keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang
aman."
"Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan itu telah disingkirkan
dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira
maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh
tubuhnya terasa nyaman, karena tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa
bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat. Kemudian,
setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan
tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu
keadaan batin yang nikmat dan bahagia (piti-sukha), yang timbul
dari kebebasan, yang masih disertai dengan vitakka (pengarahan
pikiran pada obyek) dan vicara (mempertahankan pikiran pada obyek).
Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi
dengan perasaan nikmat dan bahagia, yang timbul dari kebebasan;
dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi
oleh perasaan nikmat dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan
(viveka).
"Ambattha, sama halnya seperti tukang rias yang pandai atau
pembantunya akan menebarkan bubuk-sabun wangi dalam sebuah mangkuk
logam, memercikinya dengan air setetes air demi setetes, dan kemudian
ia meramasnya bersama sehingga bubukan sabun itu dapat menyerap
seluruh cairan; dibasahi, diresapi dan diliputi dengannya, baik
dalam maupun luar, dan tidak ada yang mengalir keluar."
"Demikian pula, Ambattha, bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi,
digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan
bahagia, yang timbul dari kebebasan; sehingga tidak ada satu bagian
pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan nikmat dan
bahagia, yang timbul dari kebebasan itu."
"Inilah, Ambattha, carana yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Selanjutnya, Ambattha, seorang bhikkhu yang telah membebaskan
diri dari vitakka dan vicara, memasuki dan berdiam dalam Jhana
kedua; yaitu keadaan batin yang tergiur dan bahagia, yang timbul
dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan vitakka dan
vicara, keadaan batin yang memusat. Demikianlah bahagia, yang
timbul dari konsentrasi; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya
yang tidak diliputi oleh perasaan nikmat dan bahagia itu, yang
timbul dari konsentrasi."
"Ambattha, bagaikan sebuah kolam yang dalam, yang mempunyai
sumber air di bawahnya, tanpa lubang masuk dari Timur atau Barat,
dari Utara atau Selatan. Sekalipun dari waktu ke waktu tidak turun
hujan; namun, arus air yang sejuk yang berasal dari sumber itu
akan tetap memenuhi; menggenangi, meresapi dan meliputi kolam
itu, sehingga tidak ada satu bagian pun dari kolam itu yang tidak
diliputi oleh air yang sejuk itu."
"Demikian pula, Ambattha, bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi,
digenangi, diresapi serta diliputi oleh perasaan nikmat dan bahagia,
yang timbul dari konsentrasi; sehingga tidak ada satu bagian pun
dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan nikmat dan bahagia
yang timbul dari konsentrasi itu."
"Inilah, Ambattha, carana yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Selanjutnya, Ambattha, seorang bhikkhu yang telah membebaskan
dirinya dari perasaan nikmat, berdiam dalam keadaan seimbang yang
disertai dengan perhatian-murni dan pengertian jelas. Tubuhnya
diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para ariya
sebagai "kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya
seimbang dan penuh perhatian murni", ia memasuki dan berdiam
dalam Jhana ketiga. Demikianlah seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi,
diresap serta diliputi dengan perasaan bahagia yang tanpa disertai
dengan perasaan nikmat; dan tidak ada satu bagianpun dari tubuhnya
yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia yang tanpa disertai
dengan perasaan nikmat itu."
"Ambattha, seperti dalam sebuah kolam yang berisi bunga-bunga
teratai : merah, putih atau biru, yang beberapa di antara bunga-bunga
teratai merah, putih atau biru yang bersemi dalam air, tumbuh
dalam air, tidak muncul di atas permukaan air serta menghisap
makanan dari dalam air itu adalah dipenuhi, digenangi diresapi
serta diliputi dengan air dingin; sehingga tidak ada satu bagian
pun dari bunga-bunga teratai merah, putih atau biru itu mulai
dari ujung daun sampai ke akarnya yang tidak diliputi dengannya."
"Demikian pula, Ambattha, bhikkhu itu seluruh tubuhnya dipenuhi,
digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan bahagia yang
tanpa disertai dengan perasaan nikmat; sehingga tidak ada satu
bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan bahagia
yang tanpa disertai dengan perasaan nikmat itu."
"Inilah, Ambattha, carana yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Selanjutnya, Ambattha, dengan menyingkirkan perasaan bahagia
dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang
dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, bhikkhu itu
memasuki dan berdiam dalam Jhana keempat, yaitu suatu keadaan
yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian-murni (satiparisuddhim),
bebas dari perasaan bahagia dan tidak-bahagia. Demikianlah ia
duduk di sana, meliputi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin
yang bersih dan jernih."
"Ambattha, sama seperti seorang yang sedang duduk, diselubungi
dengan jubah putih mulai dari kepala sampai ke kaki, sehingga
tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak bersentuhan
dengan jubah putih itu."
"Demikian pula, Ambattha, bhikkhu itu duduk di sana, meliputi
seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih;
sehingga tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi
dengan perasaan batin yang bersih dan jernih itu."
"Inilah, Ambattha, carana yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh
dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya ke pandangan-terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana).
Demikianlah ia mengerti : "Tubuhku ini mempunyai bentuk,
terdiri atas empat unsur-pokok (maha-bhuta), berasal dari ayah
dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus menerus,
bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran
dan kematian; begitu pula halnya dengan kesadaranku (vinnana)
yang terikat dengannya."
"Ambattha, sama seperti halnya dengan permata Veluriya,
yang gemerlapan, bersih, mempunyai delapan sudut yang terpotong
rapi, jernih, murni, tanpa cacat, sempurna dalam keadaan apa pun.
Dan di tengahnya dimasuki seutas benang, yang berwarna biru, jingga,
merah, putih atau kuning. Seandainya seseorang yang memiliki mata
meletakkannya di atas tangannya, maka ia akan merenung : "Permata
Veluriya ini adalah gemerlapan, bersih, mempunyai delapan sudut
yang terpotong rapi, jernih, murni, tanpa cacat, sempurna dalam
keadaan apa pun. Sekarang, permata itu diikatkan pada seutas benang
yang berwarna biru, jingga, merah, putih atau kuning."
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikiran yang telah terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan-terang
yang timbul dari pengetahuan. Dan demikianlah ia mengerti : "Tubuhku
ini mempunyai bentuk, terdiri atas empat unsur pokok, berasal
dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang
terus menerus, bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan,
kelapukan, kehancuran dan kematian. Begitu pula halnya dengan
kesadaranku yang terikat dengannya."
"Inilah, Ambattha, vijja yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap untuk dipergunakan,
teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya pada penciptaan "wujud-ciptaan batin" (mano-maya-kaya).
Dari tubuh ini, ia menciptakan ''tubuh-ciptaan-batin"
melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggauta-anggauta
dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ
apapun."
"Ambattha, sama seperti halnya seorang menarik sebatang
ilalang keluar dari pelepahnya. Maka ia akan mengerti : "Inilah
ilalang, inilah pelepah. Ilalang adalah satu hal, pelepah adalah
hal yang lain. Adalah dari pelepah bahwasanya ilalang itu telah
ditarik keluar."
"Ambattha, sama seperti halnya seseorang mengeluarkan ular
dari selongsongnya. Maka ia akan tahu : "Inilah ular, inilah
selongsong. Ular adalah satu hal, selongsong adalah hal yang lain.
Adalah dari selongsong bahwasanya ular itu telah dikeluarkan."
"Ambattha, sama seperti halnya seseorang menghunus pedang
dari sarungnya. Maka ia akan tahu : "Inilah pedang, inilah
sarung-pedang. Pedang adalah satu hal, sarung-pedang adalah hal
yang lain. Adalah dari sarung-pedang bahwasanya pedang itu telah
dihunus."
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikiran yang telah terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan "wujud-ciptaan-batin"
(mano-maya-kaya). Dari tubuh ini, ia menciptakan "tubuh-ciptaan-batin"
melalui pikirannya; yang memiliki bentuk, memiliki anggauta-anggauta
dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ
apapun."
"Inilah Ambattha, vijja yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh
dan tidak dapat digoncangkan; ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan-perbuatan gaib).
Ia melakukan iddhi dalam aneka ragam bentuknya : dari satu ia
menjadi banyak, atau dari banyak kembali menjadi satu; ia menjadikan
dirinya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang,
ia berjalan menembusi dinding, benteng atau gunung, seolah-olah
berjalan melalui tanah, seolah-olah berenang dalam air; ia berjalan
di atas air tanpa tenggelam, seolah-olah berjalan di atas tanah;
dengan duduk bersila ia melayang-layang di udara, seperti seekor
burung dengan sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba
bulan dan matahari yang begitu dahsyat dan perkasa; ia dapat pergi
mengunjungi alam-alam Brahma dengan membawa tubuh kasarnya."
"Ambattha, sama seperti halnya seorang pembuat barang-barang
tembikar atau pembantunya, dapat membuat, berhasil menciptakan
berbagai bentuk barang tembikar yang mengkilap menurut keinginannya."
"Ambattha, sama seperti halnya pemahat gading atau pembantunya,
dapat memilih gading serta berhasil memahatnya menjadi berbagai
bentuk pahatan-gading menurut keinginannya."
"Ambattha, sama seperti halnya tukang emas atau pembantunya,
dapat menjadikan, berhasil membuat berbagai bentuk barang dari
emas menurut keinginannya."
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikiran yang telah terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk
iddhi (perbuatan gaib). Demikianlah ia melakukan iddhi dalam aneka
ragam bentuknya : dari satu ia menjadi banyak, atau dari banyak
kembali menjadi satu; ia menjadikan dirinya dapat dilihat atau
tidak dapat dilihat atau tidak dapat dilihat; tanpa merasa terhalang,
ia berjalan menembus dinding, benteng atau gunung, seolah-olah
berjalan melalui ruang kosong; ia menyelam dan timbul melalui
tanah, seolah-olah berenang dalam air; ia berjalan di atas air
tanpa tenggelam, seolah-olah berjalan di atas tanah; dengan duduk
bersila ia melayang-layang di udara, seperti seekor burung dengan
sayapnya; dengan tangan ia dapat menyentuh dan meraba bulan dan
matahari yang begitu dahsyat dan perkasa; ia pergi mengunjungi
alam-alam Brahma dengan membawa tubuh kasarnya."
"Inilah, Ambattha, vijja yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikirannya yang terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh
dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya pada kemampuan-kemampuan dibba-sota (telinga-dewa).
Dengan kemampuan-kemampuan dibba-sota yang jernih, yang melebihi
telinga manusia, ia mendengar suara-suara manusia dan dewa, yang
jauh atau yang dekat."
"Ambattha, sama seperti halnya seseorang yang sedang berada
di jalan raya, dapat mendengar suara genderang-besar, suara tambur,
suara-tiupan terompet kulit-kerang, suara genderang kecil. Maka
ia akan tahu : "Ini suara genderang besar, ini suara tambur,
ini suara tiupan terompet kulit kerang, ini suara genderang kecil."
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikiran yang telah terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan
dibba-sota (telinga dewa). Dan dengan kemampuan-kemampuan dibba-sota
yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengar suara-suara
manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat."
"Inilah, Ambattha, vijja yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap untuk dipergunakan,
teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya pada ceto-pariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran
orang lain). Dengan menembus melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui
pikiran-pikiran mahluk lain, pikiran orang-orang lain."
"Ia mengetahui :
Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu.
Pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu.
Pikiran yang disertai kebencian sebagai pikiran yang disertai
kebencian.
Pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian.
Pikiran yang disertai ketidaktahuan sebagai pikiran yang disertai
ketidaktahuan.
Pikiran tanpa ketidaktahuan sebagai pikiran tanpa ketidaktahuan.
Pikiran yang teguh sebagai pikiran yang teguh.
Pikiran yang ragu-ragu sebagai pikiran yang ragu-ragu.
Pikiran yang berkembang sebagai pikiran yang berkembang.
Pikiran yang tidak-berkembang sebagai pikiran yang tidak berkembang.
Pikiran yang rendah sebagai pikiran yang rendah.
Pikiran yang luhur sebagai pikiran yang luhur.
Pikiran yang terpusat sebagai pikiran yang terpusat.
Pikiran yang berhamburan (kacau) sebagai pikiran yang berhamburan
(kacau).
Pikiran yang bebas sebagai pikiran yang bebas.
Pikiran yang tidak-bebas sebagai pikiran yang tidak-bebas.
"Ambattha, sama halnya seperti seorang wanita, lelaki atau
anak kecil, yang ingin memperindah diri dengan melihat wajahnya
pada permukaan sebuah kaca yang bersih dan jernih atau pada sebuah
tempayan yang berisikan air jernih; maka apabila wajahnya memiliki
tahi-lalat, ia tahu bahwa wajahnya memiliki tahi-lalat; apabila
wajahnya tidak memiliki tahi-lalat, ia tahu bahwa wajahnya tidak
memiliki tahi-lalat."
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikiran yang telah terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto-pariyanana
(pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus
melalui pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran mahluk
lain, pikiran orang-orang lain. Dan ia mengetahui :
Pikiran yang disertai nafsu sebagai pikiran yang disertai nafsu.
Pikiran tanpa-nafsu sebagai pikiran tanpa-nafsu.
Pikiran yang disertai kebencian sebagai pikiran yang disertai
kebencian.
Pikiran tanpa-kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian.
Pikiran yang disertai ketidaktahuan sebagai pikiran yang disertai
ketidaktahuan.
Pikiran tanpa ketidaktahuan sebagai pikiran tanpa ketidaktahuan.
Pikiran yang teguh sebagai pikiran yang teguh.
Pikiran yang ragu-ragu sebagai pikiran yang ragu-ragu.
Pikiran yang berkembang sebagai pikiran yang berkembang.
Pikiran yang tidak berkembang sebagai pikiran yang tidak berkembang.
Pikiran yang rendah sebagai pikiran yang rendah.
Pikiran yang luhur sebagai pikiran yang luhur.
Pikiran yang terpusat sebagai pikiran yang terpusat.
Pikiran yang berhamburan (kacau) sebagai pikiran yang berhamburan
(kacau).
Pikiran yang bebas sebagai pikiran yang bebas.
Pikiran yang tidak bebas sebagai pikiran yang tidak bebas.
"Inilah Ambattha, vijja yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap untuk dipergunakan,
teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya pada pengetahuan tentang pubbenivasanussati (ingat
terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Demikianlah ia ingat tentang
bermacam-macam kelahirannya yang lampau, seperti : satu kelahiran,
dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran,
sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran,
empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran,
seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, melalui banyak masa
perkembangan (samvata-kappa), melalui banyak masa kehancuran (vivatta-kappa),
melalui banyak masa perkembangan kehancuran (samvatta-vivatta-kappa).
'Di suatu tempat demikian, namaku adalah demikian, makananku
adalah demikian, keluargaku adalah demikian, suku bangsaku adalah
demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian,
batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari
keadaan itu, aku lahir kembali di suatu tempat demikian; disana,
namaku adalah demikian, makananku adalah demikian, keluargaku
adalah demikian, suku bangsaku adalah demikian, aku mengalami
kebahagiaan dan penderitaan yang demikian, batas umurku adalah
demikian. Setelah aku berlalu dari keadaan itu, kemudian aku lahir
kembali disini' Demikianlah ia mengingat kembali tentang bermacam-macam
kelahirannya di masa lampau, dalam seluruh seluk beluknya, dalam
seluruh macamnya."
"Ambattha, sama halnya seperti seseorang yang pergi dari
desanya menuju ke lain desa, dan dari desa itu ia pergi ke desa
lainnya lagi, serta dari desa itu ia pulang kembali ke desanya
sendiri; maka ia akan tahu : 'Dari desaku sendiri, aku pergi
ke lain desa. Di sana aku berdiri di tempat-tempat demikian, duduk
demikian, berbicara demikian, berdiam diri demikian. Dari tempat
itu aku datang ke desa lainnya; di sana aku berdiri di tempat-tempat
demikian, duduk demikian, berbicara demikian, berdiam diri demikian.
Dan sekarang, dari desa itu aku pulang ke desaku sendiri.'
"
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikirannya yang telah terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan
tentang pubbe-nivasanussati (ingat terhadap kelahiran-kelahiran
lampau). Demikian ia ingat tentang bermacam-macam kelahirannya
yang lampau, seperti : satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran,
empat kelahiran, lima kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran,
seratus ribu kelahiran, melalui banyak masa perkembangan (samvatta-kappa),
melalui banyak masa kehancuran (vivatta-kehancuran), dan melalui
banyak masa-perkembangan-kehancuran (samvatta-vivatta-kappa).
'Di suatu tempat kelahiran, namaku adalah demikian, makananku
adalah demikian, keluargaku adalah demikian, suku bangsaku adalah
demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan yang demikian,
batas umurku adalah demikian. Kemudian, setelah aku berlalu dari
keadaan itu, aku lahir kembali di suatu tempat demikian : di sana,
namaku adalah demikian, aku mengalami kebahagiaan dan penderitaan
yang demikian, batas umurku adalah demikian. Setelah aku berlalu
dari keadaan itu, kemudian aku lahir kembali di sini.' Demikianlah
ia mengingat kembali tentang bermacam-macam kelahirannya di masa
lampau, dalam seluruh seluk-beluknya, dalam seluruh macamnya."
"Inilah, Ambattha, vijja yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap untuk dipergunakan,
teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya mahluk-mahluk
(cutupapata-nana) Dan dengan kemampuan dibba-cakkhu (matadewa
yang jernih, yang melebihi mata manusia), ia melihat bagaimana
setelah mahluk-mahluk berlalu dari satu perwujudan, muncul dalam
perwujudan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita.
Ia melihat bagaimana mahluk-mahluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya
: 'Mahluk-mahluk ini, saudara, memiliki perbuatan, ucapan
dan pikiran yang jahat, penghina para Suci, pengikut pandangan-pandangan
keliru, dan melakukan perbuatan menurut pandangan keliru. Pada
saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali
dalam alam celaka, alam sengsara, alam neraka. Tetapi, mahluk-mahluk
yang lain, saudara, memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang
baik, bukan penghinaan para Suci, pengikut pandangan-pandangan
benar, dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat
kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam
alam bahagia, alam surga."
"Demikianlah, dengan kemampuan dibbacakkhu (mata dewa) yang
jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah
mahluk-mahluk berlalu dari satu perwujudan lain; rendah, mulia,
indah, jelek, bahagia dan menderita."
"Ambattha, sama halnya seperti di sana terdapat sebuah rumah
bertingkat, terletak di suatu tempat yang menghadap ke perempatan
jalan; dan seandainya seseorang yang memiliki mata berdiri di
atasnya, mengamati orang-orang memasuki rumah, keluar dari rumah,
berjalan hilir mudik sepanjang jalan, duduk di tengah perempatan
jalan; maka ia akan tahu : 'Orang-orang itu memasuki rumah;
orang-orang itu keluar dari rumah; orang-orang itu berjalan hilir-mudik
sepanjang jalan; orang-orang itu duduk di tengah perempatan jalan'"
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikirannya yang terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan
tentang timbul dan lenyapnya mahluk-mahluk (cutupapata nana).
Dan dengan kemampuan dibba-cakkhu (mata dewa) yang jernih, yang
melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah mahluk-mahluk
berlalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah,
mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana
mahluk-mahluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya
: 'Mahluk-mahluk ini, saudara memiliki perbuatan, ucapan dan
pikiran yang jahat, penghina para Suci, pengikut pandangan-pandangan
keliru, dan melakukan perbuatan menurut pandangan-pandangan keliru.
Pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali
dalam alam cela, alam sengsara, alam neraka. Tetapi, mahluk-mahluk
yang lain, saudara, memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang
baik, bukan penghinaan para Suci, pengikut pandangan-pandangan
benar, dan melakukan perbuatan menurut pandangan benar. Pada saat
kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam
alam bahagia, alam surga.' Demikianlah, dengan kemampuan dibba-cakkhu
(mata dewa) yang jernih, yang melebihi mata manusia, ia melihat
bagaimana setelah mahluk-mahluk berlalu dari satu perwujudan,
muncul dalam perwujudan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia
dan menderita."
"Inilah, Ambattha, vijja yang dimilikinya, yang lebih indah
dan lebih tinggi daripada yang terdahulu."
"Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas
dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap untuk dipergunakan,
teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan
pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin
(asava). Demikianlah, ia mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah
dukkha.' Ia mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah sebab
dukkha.' Ia mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah akhir
dukkha.' Ia mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah jalan
yang menuju pada lenyapnya dukkha.' Ia mengetahui sebagaimana
adanya : 'Inilah asava.' Ia mengetahui sebagaimana adanya
: 'Inilah sebab asava.' Ia mengetahui sebagaimana adanya
: 'Inilah akhir asava.' Ia mengetahui sebagaimana adanya:
'Inilah jalan yang menuju pada lenyapnya asava.' Dengan
mengetahui, melihat demikian, maka pikirannya terbebas dari noda-noda
nafsu (kamasava), noda-noda perwujudan (bhavasava), noda-noda
ketidaktahuan (avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah
pengetahuan tentang kebebasannya, dan ia mengetahui : 'Berakhirlah
kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang
harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini.'"
"Ambattha, sama halnya seperti dalam suatu lekukan gunung
terdapat sebuah kolam yang bersih, jernih dan terang airnya; dan
seandainya seseorang yang memiliki mata berdiri pada tepinya,
melihat di dalam kolam itu terdapat tiram-tiram, kerang-kerang,
batu-batu kerikil, pasir dan sekawanan ikan yang berenang kian
kemari maka ia akan tahu : 'Kolam ini bersih, jernih dan tenang
airnya. Di dalamnya terdapat tiram-tiram, kerang-kerang, batu-batu
kerikil, pasir dan sekawanan ikan yang berenang kian kemari.'"
"Demikian pula, Ambattha, dengan pikiran yang telah terpusat,
bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lembut, siap
untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, bhikkhu
itu mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan
tentang penghancuran noda-noda batin (asava). Demikianlah, ia
mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah dukkha.' Ia mengetahui
sebagaimana adanya 'Inilah sebab dukkha.' Ia mengetahui
sebagaimana adanya : 'Inilah akhir dukkha.' Ia mengetahui
sebagaimana adanya : 'Inilah jalan yang menuju pada lenyapnya
dukkha.' Ia mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah asava.'
Ia mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah sebab asava.'
Ia mengetahui sebagaimana adanya : 'Inilah akhir asava.'
Ia mengetahui sebagaimana adanya: 'Inilah jalan yang menuju
pada lenyapnya asava.' Dengan mengetahui, melihat demikian,
maka pikirannya terbebas dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda
perwujudan (bhavasava), noda-noda ketidaktahuan (avijjasava).
Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya,
dan ia mengetahui : 'Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani
kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi
kehidupan sesudah ini.'"
"Inilah, Ambattha, bhikkhu yang memiliki vijja-carana yang
sempurna. Ambattha, inilah vijja-carana yang sempurna, yang lebih
indah dan lebih tinggi daripada yang terdahulu. Tidak ada vijja-carana
yang lebih mulia dan lebih tinggi daripada ini."