BRAHMAJALA SUTTA
Sumber: Brahmajala Sutta , Oleh: Tim Penterjemah
Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993
- Demikianlah yang telah kami dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berjalan di jalan antara kota
Rajagaha dan Nalanda, diikuti oleh 500 orang Bhikkhu. Pada saat itu
pula Suppiya paribbajaka1) bersama
muridnya seorang pemuda bernama Brahmadatta sedang dalam perjalanan
antara Rajagaha dan Nalanda. Ketika itu Suppiya paribbajaka mengucapkan
bermacam-macam kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha.
Tetapi sebaliknya muridnya Brahmadatta memuji Sang Buddha, Dhamma
dan Sangha. Demikianlah antara guru dan murid masing-masing memiliki
pandangan yang berbeda, sambil berjalan mengikuti rombongan Sang Bhagava.
- Kemudian Sang Bhagava bersama-sama dengan para bhikkhu berhenti
dan bermalam di Ambalatthika, tempat peristirahatan raja. Demikian
pula Suppiya paribbajaka dan muridnya Brahmadatta berhenti di Ambalatthika.
Di tempat itu pula mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka tadi.
- Pagi harinya, sekelompok bhikkhu berkumpul di Mandalamale2)
sambil membicarakan beberapa hal sebagai berikut: "Avuso3),
aneh dan sungguh mengherankan bukankah Sang bhagava sebagai seorang
Arahat, Sammasambuddha telah melihat dan menyadari serta telah melihat
dengan jelas kecenderungan yang beraneka ragam yang ada di dalam diri
manusia. Bukankah Beliau mengetahui bagaimana Suppiya paribbajaka
merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikian pula bukankah
Sang Bhagava mengetahui pula pandangan yang berbeda antara guru dan
murid yang berjalan mengikuti rombongan Beliau.
- Ketika Sang Bhagava mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan,
beliau lalu pergi ke Mandalamale, dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah duduk beliau bertanya: "Apakah yang kalian sedang bicarakan
dan apakah yang menjadi pokok pembicaraan dalam pertemuan ini?"
Mereka lalu menceritakan masalah yang mereka bicarakan.
- "Para Bhikkhu, bilamana orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan
saya4) Dhamma dan Sangha, janganlah
karena hal itu kamu membenci, dendam atau memusuhinya. Bilamana karena
hal tersebut kalian marah atau merasa tersinggung, maka hal itu akan
menghalangi jalan pembebasan diri kalian, dan mengakibatkan kalian
marah dan tidak senang. Apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka
itu baik atau buruk?"
"Tidak demikian, Bhante".
"Tetapi bilamana ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan
saya, Dhamma dan Sangha, maka kalian harus menyatakan mana yang salah
dan menunjukkan kesalahannya dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal
ini atau itu, ini tidak benar, atau itu bukan begitu, hal demikian
tidak ada pada kami, dan bukan kami".
- Tetapi para bhikkhu, bilamana orang lain memuji Saya, Dhamma dan
Sangha, janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga, gembira
dan bersuka cita. Bila kamu bersikap demikian maka hal itu akan menghalangi
jalan pembebasan diri kalian. Bilamana orang lain memuji Saya, Dhamma
dan Sangha, maka kamu harus menyatakan apa yang benar dan menunjukkan
faktanya dengan mengatakan bahwa, 'berdasarkan hal ini atau itu, ini
benar, itu memang begitu, hal demikian ada pada kami, dan benar pada
kami".
- Walaupun hanya hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga, atau
pun karena sila5), maka orang-orang
memuji Tathagata6). Apakah hal-hal
kecil, hal-hal yang kurang berharga atau pun sila yang menyebabkan
orang-orang memuji Tathagata?
Cula Sila
- 'Tidak membunuh makhluk, Samana Gotama menjauhkan diri dari membunuh
makhluk. Ia telah membuang alat pemukul dan pedang, ia malu melakukan
kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang dan kebaikan hatinya kepada
semua makhluk, menyebabkan semua orang memuji Sang Tathagata.'
Atau ia berkata: "Tidak mengambil apa yang tidak diberikan, Samana
Gotama tidak mau memiliki apa yang bukan kepunyaan-Nya. Ia hanya mengambil
apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian. Ia hidup dengan
jujur dan suci"7). Atau ia
berkata: "Tidak melakukan hubungan kelamin8),
Samana Gotama hidup membujang9).
Ia menjauhkan diri dari perbuatan yang ternoda dan tidak melakukan
hubungan kelamin".
- Atau ia berkata: "Tidak berdusta, Samana Gotama telah menjauhkan
diri dari dusta. Ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran,
jujur dan dapat dipercaya, dan tidak mengingkari kata-kataNya di dunia".
Atau ia berkata: "Tidak memfitnah, Samana Gotama menjauhkan diri
dari fitnah. Apa yang Ia dengar di sini tidak akan diceritakannya
di tempat lain yang dapat menyebabkan timbulnya pertentangan dengan
orang di tempat ini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan
diceritakan-Nya di sini sehingga tidak menyebabkan timbulnya pertentangan
dengan orang di tempat lain. Dalam hidupnya Ia menyatukan mereka yang
berlawanan, mengembangkan persahabatan di antara mereka, pemersatu,
mencintai persatuan, menyenangi persatuan, membicarakan kesatuan10).
Atau ia berkata: "Tidak mengucapkan kata-kata kasar, Samana Gotama
menjauhkan diri dari ucapan-ucapan kasar. Ia hanya mengucapkan kata-kata
yang tidak tercela, yang menyenangkan, menarik, mengena di hati, sopan,
menggembirakan orang dan disukai orang".
Atau ia berkata: "Tidak menghabiskan waktu dengan ceritera
yang tidak berguna, Samana Gotama menjauhkan diri dari obrolan tentang
hal-hal yang tidak berguna. Ia berbicara pada waktu yang tepat,
sesuai dengan kenyataan, bermanfaat, yang berhubungan dengan Dhamma
dan Vinaya. Ia berbicara pada saat yang tepat dengan kata-kata yang
bermanfaat bagi pendengar dan dengan gambaran yang tepat, memberikan
uraian yang jelas dan tepat".
- Atau ia berkata: "Samana Gotama tidak merusak biji-bijian
yang masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak tumbuh-tumbuhan. Ia
makan sekali sehari, tidak makan setelah tengah hari atau tidak makan
di malam hari. Ia tidak menyaksikan pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian,
nyanyian dan musik.
Ia tidak menggunakan alat-alat merias, bunga-bunga, wangi-wangian
dan perhiasan. Ia tidak menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah.
Ia tidak menerima: emas, perak, padi, daging mentah, wanita, budak,
biri-biri atau kambing, babi, gajah, sapi, kuda dan unggas. Ia tidak
bertani. Ia tidak melakukan perdagangan, penipuan dengan timbangan
atau dengan ukuran, penyogokan, penipuan atau pemalsuan, melukai,
membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.
Demikianlah para bhikkhu, yang menyebabkan orang-orang memuji sang
Tathagata.
Majjhima Sila 11)
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana
hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap merusak : biji-bijian yang masih dapat tumbuh,
akar yang masih dapat tumbuh, potongan, ruas, tunas yang masih dapat
tumbuh. Tetapi Samana Gotama hidup dengan tanpa merusak biji-bijian
maupun tumbuh-tumbuhan".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana
hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap melakukan penimbunan makanan, minuman, jubah, alat-alat
tidur, alat-alat lainnya, wangi-wangian, bumbu makanan. Tetapi
Samana Gotama sama sekali tidak mau menimbun barang-barang demikian".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana
hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap mengunjungi pertunjukan-pertunjukan seperti: tari-tarian,
nyanyi-nyanyian, musik tontonan, nyanyian epis, musik, pelafalan syair,
permainan tam-tam, drama, akrobat yang dimainkan oleh orang-orang
mengadu gajah, kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, ayam dan burung;
pertandingan dengan menggunakan pemukul, tinju, gulat; perang-perangan,
pawai dan parade. Tetapi Samana Gotama sama sekali tidak mau melihat
pertunjukan demikian".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana
hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap malakukan permainan-permainan atau rekreasi sebagai
berikut: permainan dengan papan yang berpetak-petak delapan atau sepuluh
baris, permainan dengan melangkah pada diagram yang digariskan di
tanah dengan cara hanya melangkah sekali; permainan dengan cara memindahkan
benda atau orang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tanpa
melepaskan benda atau orang tersebut; main dadu, kayu pendek dipukul
dengan kayu panjang, mencelupkan tangan ke dalam air berwarna dan
menempelkan telapak tangan ke dinding, main bola, meniup pipa yang
dibuat dari daun, menggali dengan alat mainan, bersalto, main kincir
angin yang dibuat dari daun palem, main kereta-keretaan atau panah-panahan,
menebak tulisan di udara atau di punggung seseorang, menebak pikiran
orang lain, atau bertingkah laku seperti orang cacad. Tetapi Samana
Gotama tidak pernah melakukan permainan-permainan tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana
hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah sebagai
berikut: dipan yang tinggi, panjang enam kaki dan dapat dipindah-pindahkan;
dipan dengan tiang-tiangnya diukir bergambar binatang; menggunakan
selimut yang berwarna-warni; menggunakan selimut putih; menggunakan
seprei disulam dengan motif bunga-bungaan; menggunakan selimut dari
wol dan kapas; menggunakan seprei yang disulam dengan gambar singa
atau harimau; menggunakan seprei dengan bulu binatang di kedua tepinya;
menggunakan seprei dengan bulu binatang di salah satu tepinya; menggunakan
seprei dari sutra; menggunakan selimut yang dapat digunakan oleh enam
belas orang; menggunakan selimut gajah, kuda atau kereta; menggunakan
selimut antelope yang dijahit; menggunakan selimut dari kulit sebangsa
kijang; menggunakan permadani yang berpenutup di atasnya; menggunakan
tempat duduk dengan bantal merah untuk kepala dan kaki. Tetapi
Samana Gotama tidak menggunakan barang-barang tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana
hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap menggunakan perhiasan dan mempercantik diri dengan
cara: menggunakan bedak harum, shampoo, mandi dengan bunga-bungaan;
tubuh dipukul-pukul secara perlahan dengan tongkat seperti tukang
gulat; menggunakan cermin meminyak diri (bukan untuk obat); menggunakan
bunga-bungaan, pemerah pipi, kosmetik, gelang, kalung, tongkat jalan
(untuk bergaya saja), kotak bulu untuk obat, pedang, penahan sinar
matahari, sandal bersulam, turban, perhiasan di dahi, alat mengkebut
dibuat dari ekor yak, jubah putih berumbai. Tetapi Samana Gotama
tidak menggunakan benda-benda tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap membicarakan hal-hal yang rendah seperti berikut: ceritera
tentang kepala negara, menteri, pencuri, peperangan, terror, makanan
dan minuman, pakaian, tempat tidur, bunga kalung, wangi-wangian, keluarga,
kendaraan, desa, kampung, kota, negara, pertempuran, pahlawan, gosip
jalanan, ditempat pengambilah air, setan, yang tidak ada ujung pangkalnya,
spekulasi tentang terciptanya daratan dan lautan atau tentang eksistensi
dan non eksistensi. Tetapi Samana Gotama tidak membicarakan hal-hal
tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap menggunakan kata-kata bantahan, seperti:
"Kamu tidak mengerti dhamma vinaya ini, seperti apa yang saya
ketahui. Bagaimanakah kamu dapat mengetahui dhamma vinaya ini? Kamu
berpandangan salah. Saya benar". "Saya bicara langsung ke
pokok persoalan, kamu tidak".
"Kamu membicarakan bagian akhir lebih dahulu daripada bagian
permulaan".
"Apa yang telah kamu persiapkan untuk dibicarakan, itu telah
usang". "Kata-kata bantahanmu diterima". "Kamu
terbukti salah". "Bebaskanlah dirimu bila kau sanggup".
Tetapi Samana Gotama tidak melakukan bantahan-bantahan seperti
itu".
- Atau ia berkata: "Sementara pertapa dan brahmana hidup dari
makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih
tetap berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh, sebagai perantara sebagai
berikut: perantara raja-raja, menteri, kesatria, brahmana, atau pemuda
dengan berkata, 'pergilah kesana, kesitu, bawalah ini, dan bawalah
itu dari sana. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap melakukan penipuan dengan cara: berkomat-kamit dengan
kata-kata tertentu berlaku seperti orang suci, mengusir setan atau
kesialan, dan kehausan untuk menambah keuntungan karena serakah. Tetapi
Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Maha Sila 12)
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah,
yaitu dengan cara yang rendah seperti: meramal nasib orang dengan
melihat garis-garis telapak tangan untuk mengetahui umur dan kebahagiaan
dan seterusnya; meramal dan melihat untuk mengetahui alamat yang baik
dengan mendengarkan halilintar; meramal mimpi; meramal tanda-tanda
yang diakibatkan oleh gigitan tikus; melakukan persembahan dengan
sekam, bekatul, beras, mentega dan minyak untuk dewa; mempersembahkan
biji sesame dengan cara menyembahkannya dari mulut ke api; mengeluarkan
darah dari lutut untuk dipersembahkan kepada dewa; melihat pada ruas
jari-jari dan lain-lain sesudah itu membaca mantra dan meramalkan
apakah orang itu mujur atau sial; menentukan lokasi rumah supaya baik;
menasehati cara-cara untuk mengerjakan ladang; mengusir hantu atau
setan di kuburan; mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah;
mantra ular, mantra tikus; mantra burung; mantra gagak; meramal untuk
panjang umur; mantra melepaskan panah; atau membicarakan kehidupan
rusa. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah
seperti: membicarakan tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk
dengan benda-benda, dan alamat-alamat dan tanda-tanda yang berkenaan
dengan kesehatan atau keberuntungan bagi mereka yang memiliki: batu-batu
permata, tongkat, pedang, panah, gendewa, senjata-senjata lainnya;
wanita, pria, anak pria, anak perempuan, budak pria atau wanita, gajah,
kuda, kerbau, sapi jantan atau betina, biri-biri, biawak, kura-kura,
itik, burung dan binatang-binatang lainnya, atau anting-anting. Tetapi
Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah,
dengan cara yang rendah yaitu meramalkan akibat dari: keberangkatan
pemimpin, akan tibanya pemimpin, rumah pemimpin akan diserang dan
musuh akan menyerang dan kita akan mundur; pemimpin kita akan menang,
musuh kalah, pemimpin kita akan kalah, musuh menang, salah satu pihak
akan menang dan pihak lain kalah. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan
hal-hal tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih tetap
mencari pendapatan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara
yang rendah, yaitu meramalkan: adanya gerhana bulan, gerhana matahari,
gerhana bintang, matahari dan bulan akan menyimpang dari orbitnya,
matahari dan bintang akan kembali pada orbitnya, bintang-bintang akan
menyimpang dari orbitnya, bintang-bintang akan kembali pada orbitnya,
meteor akan jatuh, hutan akan terbakar, akan terjadi gempa bumi, dewa
akan membuat halilintar, matahari, bulan dan bintang-bintang akan
terbit atau terbenam, bersinar; kurang bercahaya; atau meramalkan
lima belas hal tersebut akan terjadi dan akan mengakibatkan sesuatu.
Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih tetap
mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara
yang rendah, yaitu meramalkan: akan ada hujan yang lebat, kurang hujan,
panen akan baik atau akan buruk, akan ada kedamaian, akan terjadi
kekacauan, akan ada penyakit sampar, akan ada musim yang baik, meramal
dengan menghitung-hitung jari, meramal tanpa cara menjumlah dengan
cepat; menyusun lagu sanjak, atau membuat masalah menjadi kabur. Tetapi
Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah,
dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut: menentukan hari baik
untuk perkawinan, menentukan hari baik bagi mempelai pria atau wanita
untuk pergi, menentukan hari baik untuk keharmonisan, menentukan hari
baik untuk perpisahan, menentukan hari baik untuk menagih hutang,
menentukan hari baik untuk memberikan pinjaman, menggunakan mantra
untuk keberuntungan, menggunakan mantra untuk kesialan, menggunakan
mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk menyebabkan
orang lain menjadi bisu, menggunakan mantra untuk menghentikan gerak
rahang orang lain, menggunakan mantra untuk menggoyang-goyangkan lengan
orang lain, menggunakan mantra untuk menyebabkan orang lain menjadi
tuli, mencari inspirasi dengan melihat kaca, mencari inspirasi dengan
melihat gadis, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari, memuja
maha ibu 13), mengeluarkan api dari mulut, memohon
kepada dewa atau dewi keberuntungan. Tetapi Samana Gotama tidak
melakukan hal-hal tersebut".
- Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap mencari pendapatan dengan mata pencaharian yang salah,
dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut: berjanji akan berdana
bila keinginannya terkabul, melaksanakan janji itu, mengucapkan mantra
dalam rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menambah
kejantanan laki-laki, mengucapkan mantra untuk membuat laki-laki menjadi
impoten, menentukan tempat yang tepat untuk dijadikan tempat tinggal,
mensucikan tempat, melakukan upacara suci mulut, melakukan upacara
mandi, mempersembahkan korban, melakukan cara untuk menyebabkan orang
muntah dan mengosongkan perut, melakukan suatu cara untuk mengurangi
sakit kepala, meminyaki telinga orang, merawat mata orang lain, memberikan
obat ke hidung orang lain, memberikan collyrium di mata orang lain,
memberikan obat ke mata orang lain, berpraktek seperti ocultis, berpraktek
seperti dokter bedah, berpraktek seperti dokter anak-anak, meramu
obat-obatan dari akar-akaran, atau membuat obat-obatan. Tetapi
Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Para bhikkhu, inilah hal-hal kecil yang diuraikan dengan terperinci
yang berkenaan dengan peraturan-peraturan yang menyebabkan orang-orang
memuji Tathagata".
- "Para bhikkhu, ada 'hal-hal lain' 14), yang
sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur
dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali,
itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas, dan telah ditinggalkan
oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan
kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata. Apakah yang dimaksudkan
dengan hal-hal lain itu, para bhikkhu?"
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajarannya
berpedoman pada 'hal-hal yang telah lampau 15),
mendasarkan pandangan atau spekulasi mereka pada hal-hal yang lampau
16), mereka mendasarkan ajaran tersebut dalam delapan
belas pandangan. Apakah asal mula dan dasar maka mereka berpandangan
demikian?"
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan
'Eternalis' 17), dan mereka menyatakan bahwa 'atta'
18) dan 'loka' 19) adalah kekal, pandangan
ini diuraikan dalam empat cara. Apakah asal mula dan dasar maka mereka
berpendapat demikian?"
- "Pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi,
ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat
mengingat alam-alam kehidupan yang lampau pada1, 2, 3, 4, 5, 10, 20,
30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupannya
yang lampau, dan berpendapat bahwa, 'pada kehidupan itu saya mempunyai
nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu, mengalami
kesenangan dan penderitaan, hidup dengan usia sepanjang sekian tahun.
Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini.'
Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi
dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata
pada dirinya sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk
suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau
bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah,
mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain,
namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa begitu?
Karena dengan usaha, semangat, tekad kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi,
maka saya dapat memusatkan pikiran, pikiran menjadi tenang, sehingga
saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai
tempat kehidupanku yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah maka saya
mengetahui bahwa 'atta' adalah kekal dan 'loka' tidak membentuk suatu
atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang, atau bagaikan
tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah,
mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain,
namun demikian mereka itu tetap kekal selamanya.
Para bhikkhu, inilah pandangan pertama yang merupakan asal mula dan
dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah
kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".
- "Kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi,
ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat
mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10
kali masa 'bumi berevolusi' 20), dan berpendapat
bahwa 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan,
hidup dengan makanan tertentu, mengalami kesenangan dan penderitaan,
dan hidup dengan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian saya meninggal
di alam itu dan saya terlahir kembali di sini'. Demikianlah ia dapat
mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai
alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata kepada dirinya sendiri
bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang baru,
itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh
kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah mati dan terlahir
kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian
mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa demikian? Karena dengan
semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya
dapat memusatkan pikiran, batin menjadi tenang, sehingga saya dapat
mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupan
yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah saya mengetahui bahwa 'atta'
adalah kekal, dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru, itu
tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh
kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir
kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian
mereka itu tetap, kekal selamanya. Para bhikkhu, inilah pandangan
kedua yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat
bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan brahmana
yang berpandangan Eternalis".
- "Ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi,
ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat
mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau 10, 20, 30, sampai 40
kali masa 'bumi berevolusi', dan berpendapat bahwa, 'pada kehidupan
itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu
mengalami kesenangan dan penderitaan, dan hidup dan usia sepanjang
sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir
kembali di sini'. Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas
tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau.
Dan ia berkata kepada diri sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka
tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung
karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk
berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke
kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya!
Mengapa demikian? Karena dengan semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan
bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, batin menjadi tenang,
sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari
berbagai alam kehidupanku yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah
saya mengetahui bahwa 'atta adalah kekal', dan loka tidak membentuk
suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan tiang yang kokoh, dan walaupun
makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu
kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap,
kekal selamanya.
Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga yang merupakan asal mula dan
dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah
kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".
- "Keempat, para bhikkhu, apakah asal mula dan dasar pandangan
yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari para Eternalis?
Para bhikkhu, dalam hal ini ada beberapa pertapa dan brahmana yang
mendasarkan pandangannya pada pikiran dan logika saja. Ia menyatakan
pendapatnya yang didasarkan pada argumentasinya dan dilandaskan pada
kesanggupannya saja dan menyatakan bahwa 'atta' adalah kekal dan 'loka'
tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung
karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, walaupun makhluk-makhluk
berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke
kehidupan yang lain, namun demikian mereka tetap, kekal selamanya".
Para bhikkhu, inilah pandangan keempat yang merupakan asal mula dan
dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah
kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".
- Para bhikkhu, inilah empat pandangan yang menyatakan bahwa 'atta'
dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan brahmana. Demikianlah
para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan
pandangan mereka dengan empat cara ini, atau dengan salah satu dari
pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan itu tidak ada lagi pandangan
lain".
- Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi,
tujuan, akibat dan hasil dari pandangan tersebut pada waktu akan datang
bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari
dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan
mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisasikan jalan
pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui
hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya,
bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata
telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
- "Para bhikkhu, inilah hal-hal yang sangat dalam, sulit sekali
dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat
dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan
oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan
jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap
dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
| Catatan : |
| 1) |
pertapa |
| 2) |
paviliyun |
| 3) |
panggilan kepada sesama bhikkhu yang sama kebhikkhuannya
atau lebih muda masa kebhikkhuannya. |
| 4) |
Buddha |
| 5) |
peraturan-peraturan |
| 6) |
Tathagata = salah satu julukan dari Sang Buddha. |
| 7) |
puthujjano |
| 8) |
abrahma cariya |
| 9) |
brahmacari (celebacy) |
| 10) |
samagga. |
| 11) |
peraturan-peraturan |
| 12) |
peraturan-peraturan besar |
| 13) |
siri - avhayanam |
| 14) |
anna dhamma |
| 15) |
pubbantakappika |
| 16) |
pubbantanuditthino |
| 17) |
sassata vada |
| 18) |
zat yang kekal dan tidak bersyarat, yang terdapat
dalam makhluk atau yang mendasari alam semesta, yang sering diterjemahkan
dengan 'aku'. |
| 19) |
alam, bumi, dunia, semesta, jagad. |
| 20) |
samvattavivatta, evolusi tentang terjadi dan hancurnya
bumi, dst. |
|