BRAHMAJALA SUTTA

Sumber: Brahmajala Sutta , Oleh: Tim Penterjemah
Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993
  1. Demikianlah yang telah kami dengar:
    Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berjalan di jalan antara kota Rajagaha dan Nalanda, diikuti oleh 500 orang Bhikkhu. Pada saat itu pula Suppiya paribbajaka1) bersama muridnya seorang pemuda bernama Brahmadatta sedang dalam perjalanan antara Rajagaha dan Nalanda. Ketika itu Suppiya paribbajaka mengucapkan bermacam-macam kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Tetapi sebaliknya muridnya Brahmadatta memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikianlah antara guru dan murid masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, sambil berjalan mengikuti rombongan Sang Bhagava.
     
  2. Kemudian Sang Bhagava bersama-sama dengan para bhikkhu berhenti dan bermalam di Ambalatthika, tempat peristirahatan raja. Demikian pula Suppiya paribbajaka dan muridnya Brahmadatta berhenti di Ambalatthika. Di tempat itu pula mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka tadi.
     
  3. Pagi harinya, sekelompok bhikkhu berkumpul di Mandalamale2) sambil membicarakan beberapa hal sebagai berikut: "Avuso3), aneh dan sungguh mengherankan bukankah Sang bhagava sebagai seorang Arahat, Sammasambuddha telah melihat dan menyadari serta telah melihat dengan jelas kecenderungan yang beraneka ragam yang ada di dalam diri manusia. Bukankah Beliau mengetahui bagaimana Suppiya paribbajaka merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikian pula bukankah Sang Bhagava mengetahui pula pandangan yang berbeda antara guru dan murid yang berjalan mengikuti rombongan Beliau.
     
  4. Ketika Sang Bhagava mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan, beliau lalu pergi ke Mandalamale, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Setelah duduk beliau bertanya: "Apakah yang kalian sedang bicarakan dan apakah yang menjadi pokok pembicaraan dalam pertemuan ini?" Mereka lalu menceritakan masalah yang mereka bicarakan.
     
  5. "Para Bhikkhu, bilamana orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan saya4) Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal itu kamu membenci, dendam atau memusuhinya. Bilamana karena hal tersebut kalian marah atau merasa tersinggung, maka hal itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian, dan mengakibatkan kalian marah dan tidak senang. Apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka itu baik atau buruk?"
    "Tidak demikian, Bhante".
    "Tetapi bilamana ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan saya, Dhamma dan Sangha, maka kalian harus menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar, atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami, dan bukan kami".
     
  6. Tetapi para bhikkhu, bilamana orang lain memuji Saya, Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga, gembira dan bersuka cita. Bila kamu bersikap demikian maka hal itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian. Bilamana orang lain memuji Saya, Dhamma dan Sangha, maka kamu harus menyatakan apa yang benar dan menunjukkan faktanya dengan mengatakan bahwa, 'berdasarkan hal ini atau itu, ini benar, itu memang begitu, hal demikian ada pada kami, dan benar pada kami".
     
  7. Walaupun hanya hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga, atau pun karena sila5), maka orang-orang memuji Tathagata6). Apakah hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga atau pun sila yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata?
     

    Cula Sila

  8. 'Tidak membunuh makhluk, Samana Gotama menjauhkan diri dari membunuh makhluk. Ia telah membuang alat pemukul dan pedang, ia malu melakukan kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang dan kebaikan hatinya kepada semua makhluk, menyebabkan semua orang memuji Sang Tathagata.'
    Atau ia berkata: "Tidak mengambil apa yang tidak diberikan, Samana Gotama tidak mau memiliki apa yang bukan kepunyaan-Nya. Ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian. Ia hidup dengan jujur dan suci"7). Atau ia berkata: "Tidak melakukan hubungan kelamin8), Samana Gotama hidup membujang9). Ia menjauhkan diri dari perbuatan yang ternoda dan tidak melakukan hubungan kelamin".
     
  9. Atau ia berkata: "Tidak berdusta, Samana Gotama telah menjauhkan diri dari dusta. Ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, dan tidak mengingkari kata-kataNya di dunia".
    Atau ia berkata: "Tidak memfitnah, Samana Gotama menjauhkan diri dari fitnah. Apa yang Ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain yang dapat menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat ini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakan-Nya di sini sehingga tidak menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat lain. Dalam hidupnya Ia menyatukan mereka yang berlawanan, mengembangkan persahabatan di antara mereka, pemersatu, mencintai persatuan, menyenangi persatuan, membicarakan kesatuan10). Atau ia berkata: "Tidak mengucapkan kata-kata kasar, Samana Gotama menjauhkan diri dari ucapan-ucapan kasar. Ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, yang menyenangkan, menarik, mengena di hati, sopan, menggembirakan orang dan disukai orang".

    Atau ia berkata: "Tidak menghabiskan waktu dengan ceritera yang tidak berguna, Samana Gotama menjauhkan diri dari obrolan tentang hal-hal yang tidak berguna. Ia berbicara pada waktu yang tepat, sesuai dengan kenyataan, bermanfaat, yang berhubungan dengan Dhamma dan Vinaya. Ia berbicara pada saat yang tepat dengan kata-kata yang bermanfaat bagi pendengar dan dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tepat".
     

  10. Atau ia berkata: "Samana Gotama tidak merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak tumbuh-tumbuhan. Ia makan sekali sehari, tidak makan setelah tengah hari atau tidak makan di malam hari. Ia tidak menyaksikan pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
    Ia tidak menggunakan alat-alat merias, bunga-bunga, wangi-wangian dan perhiasan. Ia tidak menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah. Ia tidak menerima: emas, perak, padi, daging mentah, wanita, budak, biri-biri atau kambing, babi, gajah, sapi, kuda dan unggas. Ia tidak bertani. Ia tidak melakukan perdagangan, penipuan dengan timbangan atau dengan ukuran, penyogokan, penipuan atau pemalsuan, melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.
    Demikianlah para bhikkhu, yang menyebabkan orang-orang memuji sang Tathagata.

    Majjhima Sila 11)

  11. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap merusak : biji-bijian yang masih dapat tumbuh, akar yang masih dapat tumbuh, potongan, ruas, tunas yang masih dapat tumbuh. Tetapi Samana Gotama hidup dengan tanpa merusak biji-bijian maupun tumbuh-tumbuhan".
     
  12. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap melakukan penimbunan makanan, minuman, jubah, alat-alat tidur, alat-alat lainnya, wangi-wangian, bumbu makanan. Tetapi Samana Gotama sama sekali tidak mau menimbun barang-barang demikian".
     
  13. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mengunjungi pertunjukan-pertunjukan seperti: tari-tarian, nyanyi-nyanyian, musik tontonan, nyanyian epis, musik, pelafalan syair, permainan tam-tam, drama, akrobat yang dimainkan oleh orang-orang mengadu gajah, kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, ayam dan burung; pertandingan dengan menggunakan pemukul, tinju, gulat; perang-perangan, pawai dan parade. Tetapi Samana Gotama sama sekali tidak mau melihat pertunjukan demikian".
     
  14. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap malakukan permainan-permainan atau rekreasi sebagai berikut: permainan dengan papan yang berpetak-petak delapan atau sepuluh baris, permainan dengan melangkah pada diagram yang digariskan di tanah dengan cara hanya melangkah sekali; permainan dengan cara memindahkan benda atau orang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tanpa melepaskan benda atau orang tersebut; main dadu, kayu pendek dipukul dengan kayu panjang, mencelupkan tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, main bola, meniup pipa yang dibuat dari daun, menggali dengan alat mainan, bersalto, main kincir angin yang dibuat dari daun palem, main kereta-keretaan atau panah-panahan, menebak tulisan di udara atau di punggung seseorang, menebak pikiran orang lain, atau bertingkah laku seperti orang cacad. Tetapi Samana Gotama tidak pernah melakukan permainan-permainan tersebut".
     
  15. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah sebagai berikut: dipan yang tinggi, panjang enam kaki dan dapat dipindah-pindahkan; dipan dengan tiang-tiangnya diukir bergambar binatang; menggunakan selimut yang berwarna-warni; menggunakan selimut putih; menggunakan seprei disulam dengan motif bunga-bungaan; menggunakan selimut dari wol dan kapas; menggunakan seprei yang disulam dengan gambar singa atau harimau; menggunakan seprei dengan bulu binatang di kedua tepinya; menggunakan seprei dengan bulu binatang di salah satu tepinya; menggunakan seprei dari sutra; menggunakan selimut yang dapat digunakan oleh enam belas orang; menggunakan selimut gajah, kuda atau kereta; menggunakan selimut antelope yang dijahit; menggunakan selimut dari kulit sebangsa kijang; menggunakan permadani yang berpenutup di atasnya; menggunakan tempat duduk dengan bantal merah untuk kepala dan kaki. Tetapi Samana Gotama tidak menggunakan barang-barang tersebut".
     
  16. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap menggunakan perhiasan dan mempercantik diri dengan cara: menggunakan bedak harum, shampoo, mandi dengan bunga-bungaan; tubuh dipukul-pukul secara perlahan dengan tongkat seperti tukang gulat; menggunakan cermin meminyak diri (bukan untuk obat); menggunakan bunga-bungaan, pemerah pipi, kosmetik, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya saja), kotak bulu untuk obat, pedang, penahan sinar matahari, sandal bersulam, turban, perhiasan di dahi, alat mengkebut dibuat dari ekor yak, jubah putih berumbai. Tetapi Samana Gotama tidak menggunakan benda-benda tersebut".
     
  17. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap membicarakan hal-hal yang rendah seperti berikut: ceritera tentang kepala negara, menteri, pencuri, peperangan, terror, makanan dan minuman, pakaian, tempat tidur, bunga kalung, wangi-wangian, keluarga, kendaraan, desa, kampung, kota, negara, pertempuran, pahlawan, gosip jalanan, ditempat pengambilah air, setan, yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan dan lautan atau tentang eksistensi dan non eksistensi. Tetapi Samana Gotama tidak membicarakan hal-hal tersebut".
     
  18. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap menggunakan kata-kata bantahan, seperti:
    "Kamu tidak mengerti dhamma vinaya ini, seperti apa yang saya ketahui. Bagaimanakah kamu dapat mengetahui dhamma vinaya ini? Kamu berpandangan salah. Saya benar". "Saya bicara langsung ke pokok persoalan, kamu tidak".
    "Kamu membicarakan bagian akhir lebih dahulu daripada bagian permulaan".
    "Apa yang telah kamu persiapkan untuk dibicarakan, itu telah usang". "Kata-kata bantahanmu diterima". "Kamu terbukti salah". "Bebaskanlah dirimu bila kau sanggup". Tetapi Samana Gotama tidak melakukan bantahan-bantahan seperti itu".
     
  19. Atau ia berkata: "Sementara pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh, sebagai perantara sebagai berikut: perantara raja-raja, menteri, kesatria, brahmana, atau pemuda dengan berkata, 'pergilah kesana, kesitu, bawalah ini, dan bawalah itu dari sana. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
     
  20. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap melakukan penipuan dengan cara: berkomat-kamit dengan kata-kata tertentu berlaku seperti orang suci, mengusir setan atau kesialan, dan kehausan untuk menambah keuntungan karena serakah. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".

    Maha Sila 12)

  21. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, yaitu dengan cara yang rendah seperti: meramal nasib orang dengan melihat garis-garis telapak tangan untuk mengetahui umur dan kebahagiaan dan seterusnya; meramal dan melihat untuk mengetahui alamat yang baik dengan mendengarkan halilintar; meramal mimpi; meramal tanda-tanda yang diakibatkan oleh gigitan tikus; melakukan persembahan dengan sekam, bekatul, beras, mentega dan minyak untuk dewa; mempersembahkan biji sesame dengan cara menyembahkannya dari mulut ke api; mengeluarkan darah dari lutut untuk dipersembahkan kepada dewa; melihat pada ruas jari-jari dan lain-lain sesudah itu membaca mantra dan meramalkan apakah orang itu mujur atau sial; menentukan lokasi rumah supaya baik; menasehati cara-cara untuk mengerjakan ladang; mengusir hantu atau setan di kuburan; mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah; mantra ular, mantra tikus; mantra burung; mantra gagak; meramal untuk panjang umur; mantra melepaskan panah; atau membicarakan kehidupan rusa. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
     
  22. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah seperti: membicarakan tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dengan benda-benda, dan alamat-alamat dan tanda-tanda yang berkenaan dengan kesehatan atau keberuntungan bagi mereka yang memiliki: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, gendewa, senjata-senjata lainnya; wanita, pria, anak pria, anak perempuan, budak pria atau wanita, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan atau betina, biri-biri, biawak, kura-kura, itik, burung dan binatang-binatang lainnya, atau anting-anting. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
     
  23. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara yang rendah yaitu meramalkan akibat dari: keberangkatan pemimpin, akan tibanya pemimpin, rumah pemimpin akan diserang dan musuh akan menyerang dan kita akan mundur; pemimpin kita akan menang, musuh kalah, pemimpin kita akan kalah, musuh menang, salah satu pihak akan menang dan pihak lain kalah. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
     
  24. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih tetap mencari pendapatan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah, yaitu meramalkan: adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari dan bulan akan menyimpang dari orbitnya, matahari dan bintang akan kembali pada orbitnya, bintang-bintang akan menyimpang dari orbitnya, bintang-bintang akan kembali pada orbitnya, meteor akan jatuh, hutan akan terbakar, akan terjadi gempa bumi, dewa akan membuat halilintar, matahari, bulan dan bintang-bintang akan terbit atau terbenam, bersinar; kurang bercahaya; atau meramalkan lima belas hal tersebut akan terjadi dan akan mengakibatkan sesuatu. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
     
  25. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah, yaitu meramalkan: akan ada hujan yang lebat, kurang hujan, panen akan baik atau akan buruk, akan ada kedamaian, akan terjadi kekacauan, akan ada penyakit sampar, akan ada musim yang baik, meramal dengan menghitung-hitung jari, meramal tanpa cara menjumlah dengan cepat; menyusun lagu sanjak, atau membuat masalah menjadi kabur. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
     
  26. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut: menentukan hari baik untuk perkawinan, menentukan hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk pergi, menentukan hari baik untuk keharmonisan, menentukan hari baik untuk perpisahan, menentukan hari baik untuk menagih hutang, menentukan hari baik untuk memberikan pinjaman, menggunakan mantra untuk keberuntungan, menggunakan mantra untuk kesialan, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk menyebabkan orang lain menjadi bisu, menggunakan mantra untuk menghentikan gerak rahang orang lain, menggunakan mantra untuk menggoyang-goyangkan lengan orang lain, menggunakan mantra untuk menyebabkan orang lain menjadi tuli, mencari inspirasi dengan melihat kaca, mencari inspirasi dengan melihat gadis, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari, memuja maha ibu 13), mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewa atau dewi keberuntungan. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
     
  27. Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka masih tetap mencari pendapatan dengan mata pencaharian yang salah, dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut: berjanji akan berdana bila keinginannya terkabul, melaksanakan janji itu, mengucapkan mantra dalam rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menambah kejantanan laki-laki, mengucapkan mantra untuk membuat laki-laki menjadi impoten, menentukan tempat yang tepat untuk dijadikan tempat tinggal, mensucikan tempat, melakukan upacara suci mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, melakukan cara untuk menyebabkan orang muntah dan mengosongkan perut, melakukan suatu cara untuk mengurangi sakit kepala, meminyaki telinga orang, merawat mata orang lain, memberikan obat ke hidung orang lain, memberikan collyrium di mata orang lain, memberikan obat ke mata orang lain, berpraktek seperti ocultis, berpraktek seperti dokter bedah, berpraktek seperti dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari akar-akaran, atau membuat obat-obatan. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
    Para bhikkhu, inilah hal-hal kecil yang diuraikan dengan terperinci yang berkenaan dengan peraturan-peraturan yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata".
     
  28. "Para bhikkhu, ada 'hal-hal lain' 14), yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas, dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata. Apakah yang dimaksudkan dengan hal-hal lain itu, para bhikkhu?"
     
  29. "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajarannya berpedoman pada 'hal-hal yang telah lampau 15), mendasarkan pandangan atau spekulasi mereka pada hal-hal yang lampau 16), mereka mendasarkan ajaran tersebut dalam delapan belas pandangan. Apakah asal mula dan dasar maka mereka berpandangan demikian?"
     
  30. "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan 'Eternalis' 17), dan mereka menyatakan bahwa 'atta' 18) dan 'loka' 19) adalah kekal, pandangan ini diuraikan dalam empat cara. Apakah asal mula dan dasar maka mereka berpendapat demikian?"
     
  31. "Pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupan yang lampau pada1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupannya yang lampau, dan berpendapat bahwa, 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu, mengalami kesenangan dan penderitaan, hidup dengan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini.' Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa begitu? Karena dengan usaha, semangat, tekad kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, pikiran menjadi tenang, sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai tempat kehidupanku yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah maka saya mengetahui bahwa 'atta' adalah kekal dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang, atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap kekal selamanya.
    Para bhikkhu, inilah pandangan pertama yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".
     
  32. "Kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10 kali masa 'bumi berevolusi' 20), dan berpendapat bahwa 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu, mengalami kesenangan dan penderitaan, dan hidup dengan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini'. Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa demikian? Karena dengan semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, batin menjadi tenang, sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupan yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah saya mengetahui bahwa 'atta' adalah kekal, dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Para bhikkhu, inilah pandangan kedua yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".
     
  33. "Ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau 10, 20, 30, sampai 40 kali masa 'bumi berevolusi', dan berpendapat bahwa, 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu mengalami kesenangan dan penderitaan, dan hidup dan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini'. Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata kepada diri sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya! Mengapa demikian? Karena dengan semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, batin menjadi tenang, sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupanku yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah saya mengetahui bahwa 'atta adalah kekal', dan loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan tiang yang kokoh, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya.
    Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis".
     
  34. "Keempat, para bhikkhu, apakah asal mula dan dasar pandangan yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari para Eternalis? Para bhikkhu, dalam hal ini ada beberapa pertapa dan brahmana yang mendasarkan pandangannya pada pikiran dan logika saja. Ia menyatakan pendapatnya yang didasarkan pada argumentasinya dan dilandaskan pada kesanggupannya saja dan menyatakan bahwa 'atta' adalah kekal dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka tetap, kekal selamanya".
    Para bhikkhu, inilah pandangan keempat yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Eternalis". 
     
  35. Para bhikkhu, inilah empat pandangan yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan brahmana. Demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan pandangan mereka dengan empat cara ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan itu tidak ada lagi pandangan lain".
     
  36. Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan tersebut pada waktu akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisasikan jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
  37. "Para bhikkhu, inilah hal-hal yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata". 

Catatan :
1) pertapa
2) paviliyun
3) panggilan kepada sesama bhikkhu yang sama kebhikkhuannya atau lebih muda masa kebhikkhuannya.
4) Buddha
5) peraturan-peraturan
6) Tathagata = salah satu julukan dari Sang Buddha.
7) puthujjano
8) abrahma cariya
9) brahmacari (celebacy)
10) samagga.
11) peraturan-peraturan
12) peraturan-peraturan besar
13) siri - avhayanam
14) anna dhamma
15) pubbantakappika
16) pubbantanuditthino
17) sassata vada
18) zat yang kekal dan tidak bersyarat, yang terdapat dalam makhluk atau yang mendasari alam semesta, yang sering diterjemahkan dengan 'aku'.
19) alam, bumi, dunia, semesta, jagad.
20) samvattavivatta, evolusi tentang terjadi dan hancurnya bumi, dst.