BRAHMAJALA SUTTA
Sumber: Brahmajala Sutta , Oleh: Tim Penterjemah
Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan
'Semi-Eternalis' 1) pada hal-hal tertentu, dengan
empat cara mereka berpendapatan bahwa 'atta' dan 'loka' ada bagian
yang kekal dan ada bagian yang tidak kekal. Apakah asal mula dan dasar
mereka berpandangan demikian?
- Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya
suatu masa yang lama sekali, 'bumi ini belum ada' 2).
Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara 3),
di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran,
dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi
kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.
- Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu
yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika
hal ini terjadi alam Brahma 1) kelihatan dan masih
kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang 'masa hidupnya 2)
atau 'pahala kamma baiknya' 3) untuk hidup di alam
itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir
kembali di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan
pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang
melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian
dalam masa yang lama sekali.
- Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam
dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu keinginan,
'O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya
di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa
usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal
di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai
pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.
- Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir
di alam Brahma berpendapat : "Saya Brahma, Maha Brahma, Maha
Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat,
Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula
kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada 4).
Semua makhluk ini adalah ciptaanku". Mengapa demikian? Baru saja
saya berpikir, 'semoga mereka datang', dan berdasarkan pada keinginanku
itu maka makhluk-makhluk ini muncul. Makhluk-makhluk itu pun berpikir,
'dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa,
Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi
semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang
akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu kita,
dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya".
- "Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada
di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa
daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal
di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada
di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa.
Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad,
waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya
menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali
satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.
Mereka berkata : "Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa
Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi,
Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari
yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami,
ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal
selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah
tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas."
"Para bhikkhu, inilah pandangan pertama tentang asal mula
dan dasar dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan
- Semi-Eternalis pada hal-hal tertentu, yang berpendapat bahwa
'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian tidak kekal".
- "Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang berpandangan Semi-Eternalis. Pandangan ini bersumber pada dewa-dewa
tertentu yang dinamakan Khiddapadosika 1).
Mereka menghabiskan masa hidup mereka dengan 'mencari kesenangan
dan memuaskan indria' mereka.
Diakibatkan oleh sifat mereka yang buruk itu dan juga karena tidak
dapat mengendalikan diri lagi, maka mereka meninggal di alam tersebut".
- "Para bhikkhu, demikianlah maka ada beberapa makhluk yang
meninggal di alam tersebut dan terlahir di bumi. Setelah berada
di bumi ini, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan
menjadi pertapa, dengan semangat, tekad, waspada dan kesungguhan
bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin tenang dan memiliki
kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupan mereka yang lampau,
tetapi tidak lebih dari itu.
- Mereka berkata : "Dewa-dewa yang tidak ternoda oleh kesenangan
adalah tetap kekal abadi selamanya. Tetapi kita yang terjatuh
dari alam tersebut, tidak dapat mengendalikan diri karena terpikat
pada kesenangan, kita yang terlahir di sini adalah tidak kekal,
berubah, dan usia kita pun terbatas".
Inilah pada bhikkhu, pandangan kedua".
- "Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Pandangan ini bersumber
pada dewa-dewa tertentu yang dinamakan 'Manopadosika' 5).
Mereka selalu diliputi oleh 'perasaan iri kepada yang lain', karena
sifat buruk ini maka mereka cemburu atau tidak menyukai dewa yang
lain. Akibat dari pikiran yang buruk tersebut maka tubuh mereka menjadi
lemah dan bodoh, dan dewa-dewa tersebut meninggal di alam itu".
- "Para bhikkhu, demikianlah maka beberapa makhluk yang
meninggal di alam tersebut terlahir kembali di bumi ini, mereka
meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena
hidup sebagai pertapa, maka dengan semangat, tekad, waspada dan
kesungguhan bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin menjadi
tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupan
yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu".
- Kemudian mereka berkata : "Para dewa yang pikiran mereka
tidak ternoda dan tidak diliputi perasaan iri hati kepada yang
lain, maka mereka tidak merasa cemburu kepada dewa yang lain,
dengan demikian mereka kuat cerdas dan pandai. Maka dengan demikian
mereka tidak meninggal atau jatuh dari alam tersebut, mereka tetap
kekal abadi, tidak berubah sampai selama-lamanya. Tetapi kita
yang memiliki pikiran yang ternoda, selalu diliputi perasaan iri
hati kepada yang lain. Karena rasa iri dan cemburu tersebut, maka
tubuh kami menjadi lemah, mati dan terlahir ke sini (bumi) sebagai
makhluk yang tidak kekal, berubah, dan memiliki usia yang terbatas.
Para bhikkhu, inilah pandangan yang ketiga".
- Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang berpandangan Semi-Eternalis. Tetapi dalam hal ini mereka mendasarkan
pandangan mereka pada pikiran dan logika. Mereka menyatakan pendapat
mereka yang didasarkan pada argumentasi dan dilandaskan pada kesanggupan
mereka saja sebagai berikut : 'yang disebut mata, telinga, hidung,
lidah dan jasmani adalah 'atta' yang bersifat tidak kekal, tidak tetap,
tidak abadi, selalu berubah. Tetapi apa yang dinamakan batin, pikiran
atau kesadaran adalah 'atta' yang bersifat kekal, tetap abadi dan
tidak akan berubah.
Para bhikkhu, inilah pandangan keempat tentang asal mula dan dasar
dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis,
yang mempertahankan pendapat mereka bahwa 'atta' dan 'loka' sebagian
kekal dan sebagian tidak kekal".
- "Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang menyatakan
bahwa 'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian tidak kekal
dari beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis.
Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan
salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan
mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
- "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai
dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadarinya dan mengetahui hal-hal lain
yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut,
dan berdasarkan pada pengetahuanNya itu Ia tidak terpikat dan
tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan
kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan
itu. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan, rasa nikmat, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan
seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali,
tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti
atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti
telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata,
berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran
maka orang-orang memuji Tathagata".
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan
'Ekstensionis' 6) dengan empat cara mereka berpendapat
dan menyatakan bahwa 'loka' adalah terbatas dan tidak terbatas.
Apakah asal mula dan dasar mereka sehingga berpendapat atau berkesimpulan
demikian?"
- 'Pandangan pertama para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang karena bersemangat, bertekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi,
pikiran mereka terpusat, batin mereka menjadi tenang dan berada dalam
keadaan 'membayangkan dunia ini terbatas 7). Maka
mereka berkata : "Dunia ini terbatas, jalan dapat dibuat mengelilinginya'.
mengapa demikian? Karena didasarkan pada semangat, tekad, kewaspadaan
dan kesungguhan bermeditasi, maka pikiran kami terpusat, batin kami
menjadi tenang, dan kami berada dalam 'dunia yang nampak terbatas'
8)
Para bhikkhu, inilah pandangan pertama".
- "Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang karena bersemangat bertekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi,
pikiran mereka terpusat, batin mereka menjadi tenang dan berada dalam
keadaan 'membayangkan dunia ini tidak terbatas' 9).
Maka mereka berkata : "Para pertapa dan brahmana yang menyatakan
bahwa dunia ini terbatas sehingga jalan dapat dibuat mengelilinginya
adalah salah".
- "Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang karena bersemangat bertekad, waspada dan sungguh-sungguh,
bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin mereka menjadi tenang
dan berada dalam keadaan 'membayangkan dunia ini ada yang terbatas
dan ada yang tidak terbatas 10). Maka mereka berkata
: "Para pertapa dan brahmana yang menyatakan bahwa 'dunia ini
terbatas', dan 'dunia ini tidak terbatas' adalah salah".
- "Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang berpendapat dan hanya didasarkan pada pikiran dan logika.
Mereka menyatakan pendapat mereka yang didasarkan pada argumentasi
mereka dan hanya dilandaskan pada kesanggupan mereka saja, sebagai
berikut, 'dunia ini adalah bukan terbatas ataupun bukan tidak terbatas'
11). Para pertapa dan brahmana
yang menyatakan pendapat pertama, kedua dan ketiga adalah salah. Karena
'dunia ini bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas'. Para bhikkhu,
inilah pandangan keempat".
- "Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang dianut oleh
beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan "Ekstensionis"
yang berpendapat dan menyatakan bahwa 'dunia adalah terbatas'.
Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan
salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan
mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
- "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai
di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang
lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut,
dan berdasarkan pada pengetahuan itu ia tidak terpikat dan tidak
terpengaruh oleh pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan
batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan
tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan
seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam,
sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah
dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang 'berpandangan
dan bersikap berbelit-belit' 12),
bila ditanya suatu hal maka mereka akan menjawab dengan berberlit-belit
sehingga membingungkan. Pandangan ini ada empat. Apakah asal mula
dan dasar mereka sehingga berpendapat atau berkesimpulan demikian?"
- "Pandangan pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan
dengan 'baik atau buruk 13). Ia menyadari, 'saya
tidak mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan
'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik
atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan,
keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut saya
akan salah, dan kesalahanku tersebut menyebabkan saya menyesal, dan
perasaan menyesal ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan
disebabkan menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan
apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan
kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan
berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan
pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya
tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau
begitu". "Para bhikkhu, inilah pandangan yang pertama".
- Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan
dengan 'baik atau buruk', Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan
jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'.
Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini baik atau itu buruk,
maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan,
kebencian dan dendam. Berdasarkan pada hal tersebut maka saya
akan terikat pada keadaan batin yang menyebabkan kelahiran kembali,
karena ikatanku itu menyebabkan saya menyesal, dan dengan adanya
perasaan ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan
yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan
mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan
ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan
dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak
mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat.
Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini
atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan yang kedua".
- Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang dimaksudkan
dengan 'baik atau buruk'. Ia menyadari, 'saya tidak mengerti dengan
jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'baik atau buruk'.
Tetapi ada pertapa dan brahmana yang pandai, cerdik, berpengalaman
dalam perdebatan, pintar mencari kesalahan, pandai mengelak, yang
menurut pendapatku dapat menolak spekulasi orang lain dengan kebijaksanaan
mereka. Maka bilamana saya menyatakan ini baik atau itu buruk,
mereka datang menghadap padaku, memintakan pendapatku, dan menunjukkan
kesalahan-kesalahanku. Karena mereka bersikap demikian kepadaku,
maka saya tidak sanggup memberikan jawaban. Dan hal ini akan menyebabkan
saya menyesal, rasa penyesalanku ini menjadi suatu penghalang
bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan
yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan
mengatakan apakah sesuatu itu baik tidak akan mengatakan apakah
sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan
kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan dengan
berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan
pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan pendapat. Saya
tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan itu begini atau
begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga".
- "Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa
dan brahmana yang bodoh dan dungu. Dan karena kebodohan atau kedunguannya,
maka bila ada pertanyaan yang ditanyakan kepadanya, ia akan menjawab
berbelit-belit dan membingungkan 'Bila kamu bertanya kepadaku
:
| a. |
1. |
Apakah ada 'loka' 14) lain? Jikalau saya
berpikir ada, saya akan menjawab begitu. Tetapi saya tidak mengatakan
demikian. Dan saya tidak berpendapat begini atau begitu. Dan
saya juga tidak berpendapat 'bukan kedua-duanya'. Saya tidak
membantahnya. Saya tidak mengatakan ada atau tidak ada dunia
lain. Demikianlah ia bersikap berbelit-belit. Begitu pula sikap
dan jawaban bila ditanya masalah sebagai berikut :
1. Tidak ada dunia lain,
2. Ada dan tidak ada dunia lain,
3. Bukan ada atau pun bukan tidak ada dunia lain.
|
| b. |
1. |
Ada makhluk yang terlahir secara opapatika 15)
tanpa melalui rahim ibu. |
| 2. |
Tidak ada makhluk opapatika, |
| 3. |
Ada dan tidak ada makhluk terlahir secara opapatika, |
| 4. |
Bukan ada atau pun bukan tidak ada makhluk yang terlahir
secara opapatika,
|
| c. |
1. |
Ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk. |
| 2. |
Tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk. |
| 3. |
Ada dan tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau
buruk. |
| 4. |
Bukan ada atau pun bukan tidak ada sebagai akibat perbuatan
baik atau buruk.
|
| d. |
1. |
Setelah meninggal Tathagata tetap ada. |
| 2. |
Setelah meninggal Tathagata tidak ada. |
| 3. |
Setelah meninggal Tathagata ada dan tidak ada. |
| 4. |
Setelah meninggal Tathagata bukan ada atau pun bukan tidak
ada. |
Para bhikkhu inilah
pandangan keempat".
|
- "Para bhikkhu, inilah pendapat atau cara yang berbelit-belit
dari beberapa pertapa dan brahmana yang bila ditanya sebuah pertanyaan,
maka dengan empat cara mereka menjawab berbelit-belit sehingga
orang yang bertanya menjadi bingung. Demikianlah para pertapa
dan brahmana tersebut berpendapat dan bersikap begitu dalam empat
cara, atau menggunakan salah satu dari cara-cara tersebut. Karena
tidak ada cara lain lagi yang dapat mereka lakukan".
- "Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai di
mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang
lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan
kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan
tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan
seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali,
tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti
atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti,
telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata,
berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka
orang-orang memuji Tathagata".
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan
mengenai 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan' 16)
dan menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' terjadi atau berbentuk tanpa
sebab. Dalam hal ini ada dua pandangan".
- "Para bhikkhu, ada beberapa dewa di alam 'Asaññasatta'
17) yang pada saat ada pikiran yang muncul pada
diri mereka, mereka meninggal atau lenyap dari alam tersebut. Demikianlah
para bhikkhu, ada makhluk yang meninggal dari alam tersebut dan terlahir
kembali di bumi ini. Karena hidup di bumi ini, ia meninggalkan kehidupan
berumah tangga menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka
dengan bersemangat, tekad, waspada dan sungguh-sungguh bermeditasi,
pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan
untuk mengingat kembali bagaimana pikiran muncul dalam dirinya (ketika
ia hidup sebagai makhluk Asaññasatta) pada satu kehidupannya
yang lampau. Ia berkata, 'atta dan loka' ini terjadi secara kebetulan
saja. Mengapa demikian? Karena dahulu saya tidak ada, tetapi sekarang
saya ada. Dahulu tidak ada, sekarang ada!'. Inilah para bhikkhu, pandangan
atau paham pertama yang merupakan asal mula dan dasar dari para pertapa
atau brahmana yang menyatakan 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan',
dan berpendapat bahwa 'atta dan loka' terjadi tanpa adanya sebab".
- Dan bagaimanakah pandangan yang kedua?
"Para bhikkhu, dalam hal ini, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang berpandangan didasarkan pada pikiran dan logika. Ia menyatakan
pendapatnya yang didasarkan pada argumentasinya, dan hanya berlandaskan
pada kesanggupannya, sebagai berikut, 'atta dan loka terjadi tanpa
adanya sebab'.
Inilah, para bhikkhu, pandangan yang kedua".
- "Para bhikkhu, inilah dua paham ajaran yang menyatakan
bahwa 'atta dan loka' terjadi secara kebetulan dari beberapa pertapa
dan brahmana yang berpandangan Adhiccasmuppanno. Demikianlah ajaran
mereka dengan dua pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan
itu dan selain pandangan mereka tersebut tidak ada lagi pandangan
yang lain".
- "Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut
pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena
Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh
jangkauannya dari pada pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan
kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan
tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan
seperti itu. Para bhikkhu inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali,
tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti
atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti,
telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata,
berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang
memuji Tathagata".
- "Para bhikkhu, inilah ajaran-ajaran yang berpedoman pada 'hal-hal
yang telah lampau 18) dari para pertapa dan brahmana
yang mendasarkan 'pandangan pada hal-hal yang telah lampau 19)
ajaran ini terbagi dalam delapan belas pandangan atau paham. Demikianlah
mereka semua berpandangan seperti itu dan hanya menganuti salah satu
dari pandangan-pandangan tersebut. Dan berpendapat bahwa tidak ada
lagi pandangan lain yang benar selain pandangan mereka.
- "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai
di mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadarinya dan mengetahui hal-hal lain
yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka itu,
dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan
tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali
dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak
dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti
atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti,
telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata
berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka
orang-orang memuji Tathagata".
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran
mereka berkenaan dengan 'masa yang akan datang' 20),
berspekulasi mengenai keadaan masa yang akan datang 21).
Mereka mendasarkan ajaran tersebut dalam empat puluh empat pandangan.
Apakah asal mula dan dasar sehingga mereka berpandangan demikian?"
- "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang menganut
ajaran bahwa 'sesudah mati kesadaran tetap ada' 22),
pandangan ini berpendapat bahwa sesudah mati 'atta' tetap ada; pandangan
ini terbagi dalam enam belas pandangan.
Mereka menyatakan tentang 'atta' sebagai berikut :
"Sesudah mati, 'atta' tetap ada, tidak berubah dan sadar",
dan
| 1. |
mempunyai bentuk (rupa) |
| 2. |
tidak berbentuk (arupa) |
| 3. |
berbentuk dan tidak berbentuk (rupa dan arupa) |
| 4. |
bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk
(n'evarupi narupi) |
| 5. |
terbatas (antava atta hoti) |
| 6. |
tidak terbatas (anantava) |
| 7. |
terbatas dan tidak terbatas (antava caanantavaca) |
| 8. |
bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas
(n'evantava nanantava) |
| 9. |
Memiliki semacam bentuk kesadaran (ekattasaññi
atta hoti) |
| 10. |
Memiliki bermacam-macam bentuk kesadaran (nananttasaññi) |
| 11. |
memiliki kesadaran terbatas (paritta saññi) |
| 12. |
memiliki kesadaran tidak terbatas (appamana
saññi) |
| 13. |
selalu bahagia (ekanta sukhi) |
| 14. |
selalu menderita (ekanta dukkhi) |
| 15. |
bahagia dan menderita (sukha dukkhi) |
| 16. |
bukan bahagia atau pun bukan menderita (adukkham
asukkhi) |
- "Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang memiliki
enambelas pandangan yang mengajarkan bahwa 'sesudah mati kesadaran
tetap ada'. Demikianlah, para bhikkhu, para pertapa dan brahmana
tersebut berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan enambelas
pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan
tersebut, dan selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi
pandangan lain".
- "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai
dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah
menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan
pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir
jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui
hakikat bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya,
bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata
telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali
dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak
dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti
atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti,
telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata,
berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka
orang-orang memuji Tathagata".
| Catatan : |
| 1) |
ekacca-sassatika ekacca-asassatika |
| 2) |
ayam loko samvattati (bumi ini belum berevolusi
untuk terbentuk). |
| 3) |
alam dewa brahma yang dicapai sebagai hasil meditasi
sampai Jhana II |
| 4) |
"Aham asmi Brahma Maha-Brahma abhibhu anabhib
bhuto annad-atthu-daso vasavatti issaro katta nimmata settho
sanjita vasi pita bhuta-bhavyanam........ |
| 5) |
para dewa yang diliputi oleh perasaan iri kepada
yang lain. |
| 6) |
Antanantika vada |
| 7) |
Antasanni lokasmim. |
| 10) |
antava ca ayam loko anata ca |
| 11) |
n'evayam loko antava na panananto |
| 12) |
amaravikkhapika |
| 13) |
kusala akusala |
| 14) |
dunia, bumi, semesta, jagad |
| 15) |
terlahir secara otomatis atau langsung tanpa rahim
ibu, misalnya, makhluk-makhluk di alam dewa, asura, peta, dan niraya
(neraka) |
| 16) |
adiccasamuppanno |
| 17) |
alam dewa brahma yang dicapai dengan meditasi
sampai Jhana IV, makhluk dewa di alam ini dinyatakan kesadarannya
pasif atau diam secara harafiah artinya tanpa kesadaran. |
| 18) |
pubbantakapika. |
| 19) |
pubbantanuditthino |
| 20) |
aparantakappika |
| 21) |
uddhamaghatanika sannivada |
| 22) |
aparantanuditthino |
|