BRAHMAJALA SUTTA

Sumber: Brahmajala Sutta , Oleh: Tim Penterjemah
Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993
  1. "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran mereka didasarkan pada pandangan bahwa 'sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran' 1) pandangan ini berpendapat bahwa sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran, ajaran ini terbagi dalam delapan pandangan.
     
  2. Mereka menyatakan bahwa 'setelah mati 'atta' tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran' dan
    1. berbentuk (rupi)
    2. tidak berbentuk (arupi)
    3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)
    4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'eva rupiu narupi)
    5. terbatas (antava)
    6. tidak terbatas (anantava)
    7. terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)
    8. bukan terbatas atau  pun bukan tidak terbatas (n'vantava nanantava)
     
  3. "Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang mengajarkan bahwa 'sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran', yang terbagi dalam delapan pandangan.
    Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan delapan pandangan atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
     
  4. "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
     
  5. "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran mereka didasarkan pada pandangan bahwa 'sesudah mati 'atta' bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa kesadaran 2).
    Ajaran ini terbagi dalam delapan pandangan.
    'Apakah asal mula dan dasar sehingga mereka berpandangan demikian?"
     
  6. Mereka menyatakan bahwa 'setelah mati 'atta' tidak berubah dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki kesadaran dan
    1. berbentuk (rupi)
    2. tidak berbentuk (arupi)
    3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)
    4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'eva rupi narupi)
    5. terbatas (antava)
    6. tidak terbatas (anantava)
    7. terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)
    8. bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n'evantava nanantava)
     
  7. "Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang mengajarkan bahwa 'sesudah mati' 'atta' bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa kesadaran', yang terbagi dalam delapan pandangan".
    "Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan delapan pandangan ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak lagi pandangan lain".
     
  8. "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan.
    Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
    Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
     
  9. "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang mengajarkan paham 'Annihiliassi' 3). Mereka menyatakan bahwa 'setelah meninggal dunia 'makhluk' itu musnah dan lenyap'. Ajaran ini diuraikan dalam tujuh pandangan. Apakah dasar dan asal mula sehingga mereka berpandangan demikian?"
     
  10. "Para bhikkhu, pertama, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpendapat dan berpandangan seperti berikut : "Saudara, karena 'atta' ini mempunyai bentuk 4) yang terdiri dari 'empat zat' 5), dan merupakan keturunan dari ayah dan ibu; bila meninggal dunia, tubuh menjadi hancur, musnah dan lenyap, dan tidak ada lagi kehidupan berikutnya. Dengan demikian 'atta' itu lenyap. Demikianlah pandangan yang menyatakan bahwa ketika makhluk meninggal, ia musnah dan lenyap".
     
  11. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta itu tidak musnah, sekaligus, karena ada 'atta' lain lagi yang luhur, berbentuk, termasuk 'alat kesenangan inderia' 6), 'hidup dengan makanan material' 7), yang kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui atau telah melihatnya. Setelah 'atta' tersebut tidak ada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal dunia makhluk itu binasa, musnah dan lenyap".
     
  12. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta' itu tidak musnah sekaligus, karena ada 'atta' lain lagi yang luhur, berbentuk, dibentuk oleh pikiran 8), semua bagiannya sempurna, inderianya pun lengkap. 'Atta' seperti itu kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya tidak mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, 'atta' ini musnah dan lenyap. Setelah itu 'atta' tersebut tiada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap".
     
  13. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada 'atta' lain lagi yang melampaui 'pengertian adanya bentuk' 9) yang telah melenyapkan rasa tidak senang 10), tidak memperhatikan penyerapan-penyerapan lain 11), menyadari ruang tanpa batas, mencapai 'alam ruang tanpa batas' 12). 'Atta' ini kamu tidak ketahui atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal dunia 'atta' ini musnah dan lenyap. Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa musnah dan lenyap".
     
  14. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta' tidak musnah sekaligus. Karena ada 'atta' lain lagi yang melampaui alam Aksanancayatana, menyadari kesadaran tanpa batas, mencapai alam 'Kesadaran tanpa batas' 13). Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada lagi dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk  itu binasa, musnah dan lenyap.
     
  15. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam Viññanañcayatana, menyadari kekosongan, mencapai 'alam kekosongan' 14) Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.
     
  16. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, atta yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam Akiñcaññayatana, mencapai alam 'bukan penyerapan atau pun bukan tidak penyerapan' 15). Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, atta tersebut tidak ada lagi, dengan demikian atta musnah sama sekali". Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.
     
  17. "Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang berpaham Annihilasi 16), yang memiliki tujuh pandangan dengan berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk binasa, musnah dan lenyap sama sekali.
    Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan menyatakan ajaran mereka dalam tujuh pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi. 
     
  18. "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut, pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau tumpuan.
    Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
    Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
     
  19. "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang memiliki atau menganut ajaran yang menyatakan bahwa 'Kebahagiaan Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini' 17), yang menyatakannya dalam lima pandangan bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini. Apakah asal mula dan dasar sehingga mereka berpandangan demikian?
     
  20. "Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan seperti berikut : "Bilamana 'atta' diliputi oleh kenikmatan, kepuasan lima inderia, maka atta telah mencapai Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Demikianlah pendapat yang mereka nyatakan mengenai makhluk hidup yang dapat mencapai kebahagiaan mutlak - Nibbana dalam kehidupan sekarang ini".
     
  21. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, atta seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan karena telah diliputi oleh kenikmatan kepuasan lima inderia berarti atta telah mencapai Nibbana. Mengapa demikian? Karena kepuasan inderia itu tidak kekal, itu masih diliputi penderitaan sebab bersifat berubah-ubah maka dukacita, sedih, kesakitan, derita dan kebosanan muncul. Tetapi bilamana atta bebas dari kesenangan inderia maupun hal-hal buruk' 18), mencapai dan tetap berada dalam Jhana Pertama 19), keadaan yang menggiurkan, 'disertai perhatian, dan penyelidikan' 20), maka dengan ini atta mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam kehidupan sekarang ini". Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak - Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.
     
  22. "Orang lain berkata kepadanya : "Saudara 'atta' seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi oleh proses berpikir atau perhatian dan menyelidik, berarti itu masih kasar. Tetapi bilamana 'atta' terbebas dari perhatian dan menyelidik, mencapai dan berada dalam Jhana II, keadaan pikiran terpusat dan seimbang, penuh kegiuran dan bahagia 21). Maka dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.
     
  23. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak. Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi oleh kegiuran dan kenikmatan, itu berarti masih kasar. Tetapi bilamana 'atta' terbebas dari keinginan dan kegiuran; pikiran terpusat, seimbang, penuh perhatian, berpengertian jelas 22), dan tubuh mengalami kebahagiaan yang dikatakan oleh para ariya sebagai keseimbangan yang disertai perhatian dan pengertian jelas, mencapai dan berada dalam Jhana III. Maka dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini".
     
  24. Orang lain berkata kepadanya : "Saudara atta seperti yang kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi rasa kebahagiaan, itu berarti masih kasar. Tetapi bilamana 'atta' terbebas dari rasa kebahagiaan dan derita 23) setelah lebih dahulu melenyapkan kesenangan dan kesedihan 24) mencapai dan berada dalam Jhana IV disertai pikiran terpusat dan seimbang, tanpa adanya kebahagiaan atau pun penderitaan 25). Maka dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini".
     
  25. Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang terpaham ajaran Ditta dhamma nibbana vada yang menyatakan ajaran mereka dalam lima pandangan, bahwa 'kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini' oleh semua makhluk.
    Demikianlah, para bhikkhu, para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan menyatakan ajaran mereka dalam tujuh pandangan ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut, tidak ada lagi pandangan lain.
     
  26. "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. 
    Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
    Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
     
  27. "Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang ajaran mereka berkenaan dengan 'masa akan datang' 26), berspekulasi mengenai masa yang akan datang. Mereka menyatakan bermacam-macam ajaran mengenai 'Keadaan masa yang akan datang' dalam empatpuluh empat pandangan.
    Demikianlah para bhikkhu, para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat serta menyatakan pandangan mereka dalam empatpuluh empat pandangan tersebut atau menggunakan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut. Dan berpendapat bahwa selain pandangan mereka tidak ada lagi pandangan lainnya.
     
  28. "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. 
    Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
     
  29. "Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang berpandangan, berpaham atau berspekulasi mengenai masa yang lampau' 27)dan yang berpandangan, berpaham atau berspekulasi mengenai masa yang akan datang' 28), dalam enampuluh dua pandangan kedua kelompok paham tersebut menguraikan spekulasi mereka mengenai masa yang telah lampau dan masa yang akan datang".
    "Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat serta menyatakan pandangan mereka mengenai keadaan yang lampau dan yang akan datang dalam enampuluh dua pandangan atau menggunakan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut. Dan mereka berpendapat selain pandangan mereka tidak ada lagi pandangan lainnya.
     
  30. "Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya. 
    Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan. Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu. 
    Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
     
  31. "Para bhikkhu, dari semua pandangan tersebut, ada para pertapa dan brahmana yang berpaham :
    1.   Eternalis (sassata vada) yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' 29)adalah kekal dengan empat pandangan.
    2. Semi-Eternalis (sassata-asassata vada) yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah sebagian kekal dan sebagian tidak kekal, dengan empat pandangan.
    3. Ekstensionis (antanantika) yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah terbatas dan tak terbatas, dengan empat pandangan.
    4. Berbelit-belit (amaravikkhepika), yang bilamana sebuah pertanyaan ditanyakan kepada mereka, mereka akan menjawabnya dengan cara yang berbelit-belit, sehingga membingungkan, dengan empat pandangan.
    5. Asal mula sesuatu terjadi adalah secara kebetulan (adhiccasamuppanika), yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' terjadi tanpa adanya suatu sebab, dengan dua  pandangan.
    Mereka semua itulah yang berpaham pada 'keadaan masa yang lampau'!
     
    6.   Setelah meninggal kesadaran tetap ada (uddhamaghatanikasaññavada) yang menyatakan bahwa 'atta' tetap hidup terus setelah meninggal, dengan enam belas pandangan.
    7. Setelah meninggal tanpa kesadaran (uddhamaghatanika asaññi vada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal 'atta' adalah tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.
    8. Setelah meninggal 'ada kesadaran dan tanpa kesadaran' (uddhamaghatanika n'evasaññi nasaññi vada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal 'atta' adalah memiliki kesadaran dan tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.
    9. Annihilasi (ucchedavada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal makhluk binasa, hancur dan lenyap, dengan tujuh pandangan.
    10. Mencapai kebahagiaan mutlak dalam kehidupan sekarang ini (ditthadhammanibbanavada) yang menyatakan bahwa Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini, dengan lima pandangan.

     
  32. Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada perasaan sendiri yang disebabkan oleh kekhawatiran dan ragu-ragu akan akibatnya, karena para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui, tidak melihat dan masih diliputi oleh bermacam-macam keinginan (tanha).
    Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada kontak inderia saja.
    Bilamana mereka mengalami perasaan tertentu tanpa adanya kontak dengan inderia maka keadaan demikian itu tidak ada.
     
  33. Mereka semua menerima perasaan-perasaan tersebut melalui kontak yang berlangsung terus menerus dengan (saraf) penerima (dari inderia-inderia). Berdasarkan pada perasaan-perasaan (vedana) muncul keinginan (tanha), karena adanya, keinginan muncul kemelekatan (upadana) karena adanya kemelekatan muncul proses menjadi (bhava), karena adanya proses menjadi muncul kelahiran (jati), karena kelahiran terjadi kematian (marana), kesedihan, ratap tangis, kesakitan, kesusahan dan putus asa (soka parideva dukkha domanassa upayasa).
    Bilamana seorang bhikkhu mengerti hal itu sebagaimana hakikatnya, asal mula dan akhirnya, kenikmatan, bahaya dan cara membebaskan diri dari pemuasan enam inderianya, maka ia dapat mengetahui apa yang termulia dan tertinggi dari kesemuanya itu.
     
  34. "Para bhikkhu, siapa pun, apakah ia pertapa dan brahmana yang ajaran atau paham mereka berkenaan dengan keadaan masa yang lampau atau berkenaan dengan keadaan masa yang akan datang, atau pun berpaham kedua-duanya berspekulasi mengenai keadaan yang lampau dan yang akan datang, yang dengan bermacam-macam dalil menerangkan tentang keadaan yang lampau dan keadaan yang akan datang, mereka semua terjerat di dalam jala enampuluh dua pandangan ini. Dengan bermacam-macam keadaan mereka tercemplung dan berada di dalamnya, dan dengan bermacam-macam cara mereka melakukan usaha untuk melepaskan diri, tetapi sia-sia karena mereka terjerat di dalamnya. Para bhikkhu, bagaikan penjala ikan yang pandai akan menjala di sebuah kolam kecil dengan sebuah jala yang baik, berpikir: Ikan apa pun yang berada dalam kolam ini, walaupun ikan-ikan itu berusaha untuk melepaskan diri, tetap semuanya akan terperangkap di dalam jala ini".
     
  35. "Para bhikkhu, bagi Dia yang di luar jala. Ia telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, yang sedang berada di depan kamu, karena semua belenggu pengikat, penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Selama kehidupan jasmaniahNya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatNya. Tetapi bilamana kehidupan jasmaniahNya terputus di akhir masa kehidupanNya maka para dewa dan manusia tidak akan dapat melihatNya lagi. Para bhikkhu, bagaikan sebatang pohon mangga yang ditebang, maka semua buahnya yang ada di pohon tersebut mengikutinya. Demikian pula, walaupun tubuh jasmaniah dari Dia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, masih berada di depan kamu, namun demikian semua belenggu penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya. Semua kehidupan jasmaniahNya masih ada, maka selama itu pula para dewa dan manusia dapat melihatNya. Tetapi bilamana kehidupan jasmaniahNya terputus (meninggal) diakhir masa kehidupanNya, maka para dewa dan manusia tidak dapat melihatnya lagi".
     
  36. Setelah Beliau bersabda demikian, lalu bhikkhu Ananda berkata kepada Sang Bhagava : "Bhante, sangat mengagumkan! Sangat mentakjubkan! Apakah nama uraian Dhamma kebenaran ini?" Ananda, kau dapat menamakan uraian ini sebagai Atthajala 30), Dhammajala 31) Brahmajala 32) Ditthijala 33) atau Sangamavijayo 34).
    Demikianlah khotbah Sang Bhagava, dan para bhikkhu dengan hati yang gembira memuji uraian Sang Bhagava. Di akhir khotbah ini seribu 'sistem dunia' 35) bergetar.

 


Catatan :
1) uddhamaghatanika asanni vada
2) uddham aghatanika n'eva sanni nasanni vada.
3) ucchedavada - musnah total.
4) rupa - jasmani
5) catummahabhutarupa
6) kamavacaro
7) kavalinkaraharabhakkho
8) manomaya.
9) rupesanna.
10) pathigasanna.
11) nanattasanna.
12) akasanancayatana.
13) vinnanancayatana.
14) akincannayatana.
15) N'evasanna nasannayatana.
16) Ucchedavada - musnah total.
17) ditthadhammanibbanavada.
18) akusala dhamma.
19) keadaan dimana pikiran terpusat pada waktu meditasi.
20) savittaka savicara.
21) cetaso ekodi-bhava, vupasamo, piti, sukha.
22) sato ca sampajano.
23) sukhassa ca pahana dukkhassa ca pahana.
24) somanassa domanassa.
25) adukkha asukham.
26) aparantakappika.
27) pubbantanuditthino
28) aparantakappika
29) bumi, dunia, semesta, jagad.
30) jala bermanfaat.
31) jala kebenaran.
32) jala agung.
33) jala pandangan.
34) jala kemenangan di medan pertempuran.
35) loka dhatu.