Umumnya orang menganggap kelenteng sama dengan vihara, padahal
untuk disebut sebagai vihara harus memenuhi syarat-syarat sbb.
:
1
Harus ada patung Sang Buddha pada tempat yang
terhormat.
2
Harus ada Dhammasala (tempat untuk berkhotbah).
3
Harus ada kuti (tempat menginap untuk para bhikkhu/bhikkhuni).
Dan kebanyakan kelenteng tidak dapat disebut sebagai vihara,
karena tidak terdapat hal-hal tersebut di atas. Di samping itu
ada kelenteng yang khusus digunakan untuk menyimpan abu leluhur
dari suatu golongan masyarakat tertentu.
b
Pemuja berhala :
Orang-orang menganggap bahwa umat Buddha adalah pemuja berhala,
padahal umt Buddha menyembah patung Sang Buddha :
1
Untuk menyatakan rasa hormat dan terima kasihnya
kepada Sang Guru yang telah memberikan AjaranNya kepada umat
manusia, seperti juga kita menghormat kepada bendera nasional
kita.
2
Sebagai obyek dalam meditasi.
Kalau umat Buddha menyembah patung Kwan Im (Avalokitesvara),
mereka sebenarnya menghormat sifat welas-asih, pengorbanan dan
sifat suka menolong yang dilambangkan dalam patung Kwan Im.
c
Makan sayuranis :
Umat Buddha tidak diharuskan untuk hanya makan sayur-sayuran
saja. mereka makan sayuranis adalah dalam rangka melatih diri.
Dan makan sayuranis atau makan daging tidak dapat dipakai untuk
mengukur kesucian seseorang.
d
Perabuan jenazah :
Seorang umat Buddha tidak mutlak harus diperabukan kalau meninggal
dunia. Ia boleh dengan bebas menentukan sendiri, apakah kelak
setelah meninggal dunia akan dikubur atau dibuang (dkubur) di
laut atau ditinggal di hutan atau di goa tanpa ditanam.
e
Sikap pesimistis :
Seorang umat Buddha sering dikatakan sebagai seorang yang pesimistis,
karena selalu memandang dari sudut dukkha (penderitaan),
padahal kalau kita mengerti hukum karma dan tahu arti dari
istilah viriya (semangat yang membaja), kita tidak mungkin menjadi
orang pesimis.
f
Harus meninggalkan keluarga :
Ada anggapan bahwa untuk menjadi umat Buddha yang baik seseorang
harus meninggalkan keluarganya untuk menjadi bhikkhu atau bhikkhuni,
padahal sebenarnya tidak perlu meninggalkan keluarga. Terdapat
banyak contoh bahwa orang-orang yang masih berkeluarga pun (para
upasaka/upasika) sanggup mencapai tingkat-tingkat kesucian. Dan
kalau ada orang yang mau menjadi bhikkhu, terlebih dahulu ia harus
mendapat ijin dari orang tuanya atau isterinya, dan harus memenuhi
syarat lain lagi, misalnya isteri dan anak-anaknya tidak terlantar,
berkelakuan baik dan tidak menderita penyakit yang menular atau
penyakit jiwa.
g
Mandi minyak, berjalan di atas bara api :
Kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan agama Buddha.
Perlu kiranya diketahui bahwa Buddha Gautama sendiri dengan tegas
melarang murid-muridNya menggunakan dan mempertontonkan ilmu gaib
dalam usaha untuk mencari umat.
Simbol dari ketidak-kekalan ; bunga segar yang diletakkan di
altar setelah lima atau enam hari akan menjadi layu.
Begitu pula dengan badan jasmani kita, satu waktu kelak pasti
akan menjadi tua, lapuk akhirnya mati.
b
Lilin
Simbol dari cahaya yang akan melenyapkan kegelapan bathin dan
mengusir ketidak-tahuan (avijja).
c
Air
Air dianggap mempunyai sifat-sifat sbb. :
1
Dapat membersihkan noda-noda.
2
Dapat memberikan tenaga hidup kepada mahluk-mahluk.
3
Dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan.
4
Selalu mencari tempat yang rendah (tidak sombong).
5
Meskipun kelihatannya lemah, tetapi dalam keadaan tertentu
dapat bangkit menjadi tenaga yang maha dahsyat (misalnya waktu
banjir, air dapat menghancurkan jembatan yang terdiri dari
beton atau merobohkan bangunan-bangunan yang kokoh dll.).
d
Dupa
Bau wangi dupa yang dibawa angin mungkin akan tercium di tempat
yang agak jauh, namun tidak dapat tercium di tempat yang berlawanan
dengan arah angin. Tetapi nama yang harum karena selalu melakukan
perbuatan-perbuatan baik dapat diketahui di tempat-tempat yang
jauh sekali, bahkan di tempat-tempat yang dipisahkan oleh samudera-samudera
besar dan juga di alam-alam lain.