Vihara Samaggi Jaya  
Panti Semedi Balerejo  
Sangha Theravada Indonesia  
Naskah Dhamma  
Tipitaka  
Download File  
Forum Tanya Jawab  
Multimedia  
Bursa Buddhis  
Dana Anda  
Tentang Kami  
Kontak Kami  
Buku Tamu  
Link  
Home  

 

 
 
     
 
INTISARI AGAMA BUDDHA

INTISARI AGAMA BUDDHA

Penyusun : Pandita S. Widyadharma

BAB III - BEBERAPA PENGERTIAN DALAM AGAMA BUDDHA

5. MISKONSEPSI ( SALAH PANDANGAN MENGENAI AGAMA BUDDHA )

a

Vihara dan Kelenteng :

Umumnya orang menganggap kelenteng sama dengan vihara, padahal untuk disebut sebagai vihara harus memenuhi syarat-syarat sbb. :

1 Harus ada patung Sang Buddha pada tempat yang terhormat.
2 Harus ada Dhammasala (tempat untuk berkhotbah).
3 Harus ada kuti (tempat menginap untuk para bhikkhu/bhikkhuni).

Dan kebanyakan kelenteng tidak dapat disebut sebagai vihara, karena tidak terdapat hal-hal tersebut di atas. Di samping itu ada kelenteng yang khusus digunakan untuk menyimpan abu leluhur dari suatu golongan masyarakat tertentu.

b

Pemuja berhala :

Orang-orang menganggap bahwa umat Buddha adalah pemuja berhala, padahal umt Buddha menyembah patung Sang Buddha :

1 Untuk menyatakan rasa hormat dan terima kasihnya kepada Sang Guru yang telah memberikan AjaranNya kepada umat manusia, seperti juga kita menghormat kepada bendera nasional kita.
2 Sebagai obyek dalam meditasi.

Kalau umat Buddha menyembah patung Kwan Im (Avalokitesvara), mereka sebenarnya menghormat sifat welas-asih, pengorbanan dan sifat suka menolong yang dilambangkan dalam patung Kwan Im.

c

Makan sayuranis :

Umat Buddha tidak diharuskan untuk hanya makan sayur-sayuran saja. mereka makan sayuranis adalah dalam rangka melatih diri. Dan makan sayuranis atau makan daging tidak dapat dipakai untuk mengukur kesucian seseorang.

d

Perabuan jenazah :

Seorang umat Buddha tidak mutlak harus diperabukan kalau meninggal dunia. Ia boleh dengan bebas menentukan sendiri, apakah kelak setelah meninggal dunia akan dikubur atau dibuang (dkubur) di laut atau ditinggal di hutan atau di goa tanpa ditanam.

e

Sikap pesimistis :

Seorang umat Buddha sering dikatakan sebagai seorang yang pesimistis, karena selalu memandang dari sudut dukkha (penderitaan), padahal kalau kita mengerti hukum karma dan tahu arti dari istilah viriya (semangat yang membaja), kita tidak mungkin menjadi orang pesimis.

f

Harus meninggalkan keluarga :

Ada anggapan bahwa untuk menjadi umat Buddha yang baik seseorang harus meninggalkan keluarganya untuk menjadi bhikkhu atau bhikkhuni, padahal sebenarnya tidak perlu meninggalkan keluarga. Terdapat banyak contoh bahwa orang-orang yang masih berkeluarga pun (para upasaka/upasika) sanggup mencapai tingkat-tingkat kesucian. Dan kalau ada orang yang mau menjadi bhikkhu, terlebih dahulu ia harus mendapat ijin dari orang tuanya atau isterinya, dan harus memenuhi syarat lain lagi, misalnya isteri dan anak-anaknya tidak terlantar, berkelakuan baik dan tidak menderita penyakit yang menular atau penyakit jiwa.

g

Mandi minyak, berjalan di atas bara api :

Kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan agama Buddha.
Perlu kiranya diketahui bahwa Buddha Gautama sendiri dengan tegas melarang murid-muridNya menggunakan dan mempertontonkan ilmu gaib dalam usaha untuk mencari umat.



6. BUNGA, LILIN, AIR DAN DUPA

a

Bunga

Simbol dari ketidak-kekalan ; bunga segar yang diletakkan di altar setelah lima atau enam hari akan menjadi layu.
Begitu pula dengan badan jasmani kita, satu waktu kelak pasti akan menjadi tua, lapuk akhirnya mati.

b

Lilin

Simbol dari cahaya yang akan melenyapkan kegelapan bathin dan mengusir ketidak-tahuan (avijja).

c

Air

Air dianggap mempunyai sifat-sifat sbb. :

1 Dapat membersihkan noda-noda.
2 Dapat memberikan tenaga hidup kepada mahluk-mahluk.
3 Dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan.
4 Selalu mencari tempat yang rendah (tidak sombong).
5 Meskipun kelihatannya lemah, tetapi dalam keadaan tertentu dapat bangkit menjadi tenaga yang maha dahsyat (misalnya waktu banjir, air dapat menghancurkan jembatan yang terdiri dari beton atau merobohkan bangunan-bangunan yang kokoh dll.).

 

d

Dupa

Bau wangi dupa yang dibawa angin mungkin akan tercium di tempat yang agak jauh, namun tidak dapat tercium di tempat yang berlawanan dengan arah angin. Tetapi nama yang harum karena selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik dapat diketahui di tempat-tempat yang jauh sekali, bahkan di tempat-tempat yang dipisahkan oleh samudera-samudera besar dan juga di alam-alam lain.



7. BENDERA BUDDHIS

  Bendera Buddhis terdiri dari lima warna dan mempunyai bentuk sbb. :


 
Biru = Bakti
Kuning = Kebijaksanaan
Merah = Cinta kasih
Putih = Suci
Jingga = Kegiatan
 
‹‹ Prev  
 
‹‹ Ke Sebelumnya ‹‹ Ke ‹‹ Ke Ikhtisar Tipitaka
Kirim naskah keteman
 
© 2003 samaggi-phala.or.id