A
P P E N D I K S
CANDI-CANDI TERKENAL DI JAWA TENGAH
I. Mendut
Dahulu bernama Veluvana (hutan bambu) dan menghadap ke Barat-Laut
(ke arah Buddha Gaya). Didirikan oleh Raja Indra Gananatha pada
tahun 809, prasasti dikeluarkan tahun 810.
Kalau menaiki tangga sampai di serambi muka, maka terlihat dinding-dinding
sebelah belakang serambi yang dihias dengan relief-relief pohon
Kalpavreksa (pohon untuk memohon sesuatu) disertai dewi Hariti
(simbol kesuburan) di Utara dan dewi Kuwera (simbol kemakmuran)
di sebelah Selatan.
Di Mendut terdapat tiga patung besar. Di tengah-tengah adalah
patung Buddha Gotama dengan mudra Dharmacakra (memutar Roda Dharma).
Di sebelah kanannya adalah patung Bodhisatva Avalokitesvara dengan
mudra Vara (di daerah Tengger disebut Buddha Kesvara). Di sebelah
kirinya adalah patung Bodhisatya Vajrapani dengan mudra Simhakarna.
Ketiga patung tersebut dalam agama Buddha Mahayana, dikenal sebagai
Sang Ratnatraya atau Sang Tri Ratna.
Di sebelah luar candi terdapat patung dewi Tara (çakti
dari Sang Buddha) yang dipahat di dinding Utara; Bodhisatva Avalokitesvara
di dinding Timur; dan Bodhisatva Manjusri di dinding Selatan.
Di candi Mendut diadakan upacara kebaktian dan khotbah-khotbah
sebelum bermeditasi di Borobudur.
II. Pawon
Didirikan oleh Raja Samarottungga (putera Raja Indra) pada tahun
826; prasastinya dikeluarkan pada tahun 824. Candi Pawon merupakan
pintu gerbang candi Borobudur, tempat umat membersihkan badan
dan pikirannya dari kekotoran-kekotoran (batin) sebelum menginjak
tempat yang dianggap suci itu.
Desa sekitar candi Pawon bernama Vajranalan. Vajra berarti senjata
ampuh dewa Indra dan Nala berarti api kerajaan, sehingga besar
sekali kemungkinan bahwa dahulu kala ada patung dewa Indra di
Candi Pawon.
III. Borobudur
A. Keterangan Umum
Nama aslinya "Dasabhumi Sambhara Budara" yang berarti
"Bukit Sepuluh Tingkatan Kerohanian", yang disingkat
menjadi Sambhara Budara, lalu Bharabudara dan dengan logat Jawa
menjadi Borobudur.
Borobudur menghadap ke arah Timur dan didirikan di atas bukit
pada tahun 826, prasastinya dikeluarkan pada tahun 824.
Pembuatannya dipercayakan kepada seorang arsitek dari India bernama
Gunadharma. Dahulu kala Borobudur seluruhnya dicat putih dan berada
di tengah-tengah sebuah danau.
Borobudur berukuran 123 X 123 m.; tinggi aslinya 42 m. (ujungnya
telah patah ± 8 m.) dan terdiri atas empat bagian:
- alas bawah
- 5 (lima) lapis lingkaran persegi yang berlekuk sehingga berbentuk
segi 20.
- 3 (tiga) lapis lingkaran bundar
- 1 (satu) stupa besar di tengah-tengah.
Kesemuanya ini melambangkan "Dasa Bhumi" atau 10 (sepuluh)
Kesempurnaan (Paramita) yang harus dimiliki oleh seorang Bodhisatva
untuk dapat menjadi Buddha.
Lapisan-lapisan yang berbentuk segi 20 diberi serambi, sehingga
merupakan lorong-lorong. Dinding serambi-serambi ini, baik di
bagian luar maupun di bagian dalam diberi relief-relief (gambar-gambar
pahatan) yang mengkisahkan cerita-cerita tertentu. Pada dinding
dalam dari lorong pertama terdapat relief-relief tentang riwayat
Buddha Gautama berdasarkan naskah "Lalita Vistara".
Pada dinding luarnya terdapat cerita tentang kelahiran Pangeran
Siddharta sebagai Bodhisatva menurut kitab "Jatakumala".
Pada lorong yang lain terdapat cerita tentang para Bodhisatva
lain dari kitab "Gandavyuha"; sedang di kaki candi yang
tertutup terdapat lukisan-lukisan yang berhubungan dengan hukum
Karma dari kitab "Karma Vibhanga".
Dari lapisan pertama sampai keempat terdapat patung-patung Dhyani
Buddha (masing-masing 92 buah), yaitu:
- menghadap ke Timur: Aksobya dengan mudra "Bhumisparsa"
(menunjuk bumi sebagai saksi).
- menghadap ke Selatan: Ratnasambhava dengan mudra "Vara"
atau "Varada" (memberi anugerah).
- menghadap ke Barat: Amitabha dengan mudra "Dhyana"
(meditasi).
- menghadap ke Utara: Amogasidhi dengan mudra "Abhaya"
(jangan takut).
Pada baris kelima menghadap keempat jurusan terdapat 64 buah
patung dari Dhyani Buddha Vairocana dengan mudra "Vitarka"
(meyakinkan).
Pada lingkaran bundar yang terdiri dari 3 lapisan terdapat 72
buah patung Vajrasatva dengan Dharmacakra-mudra dalam stupa-stupa
yang dindingnya berlubang. Lubang-lubang stupa pada lapisan kesatu
dan kedua (masing-masing 32 buah 24 buah) berbentuk "belah
ketupat" sebagai lambang "masih belum dalam keseimbangan
sempurna"; pada lapisan ketiga lubangnya berbentuk persegi
sebagai lambang "mantap dalam keseimbangan".
Jumlah patung yang terdapat di Borobudur ialah 368 + 64 + 72
= 504 buah.
Dinding stupa besar ditengah-tengah tidak tembus dan di dalamnya
terdapat rongga yang sekarang kosong, yang mungkin sekali dahulu
tempat menyimpan relik Sang Buddha.
Ketiga candi di atas setelah selesai, dikeramatkan oleh Puteri
dari Raja Samarottungga, yaitu Rajaputri Pramodawardhani pada
tahun 843 (prasasti tahun 840). Dari akhir abad ke-15 selama lebih
dari 300 tahun lamanya Borobudur ditelantarkan.
B. Usaha-usaha menyelamatkan candi Borobudur
Pada tahun 1815 atas perintah Gubernur Jenderal Inggris, Sir
Thomas Stanford Raffles, opsir zeni Ir. H.C. Cornelius memimpin
pembersihan wajah candi yang masih disebut-sebut dalam "Babad
Tanah Jawa" seabad sebelumnya. Lebih dari 200 orang penduduk
dipaksa kerja rodi selama 45 hari menebang pohon, membabat dan
membakar belukar serta mengelupas tanah yang sudah menyelimuti
candi yang kakinya sudah terbenam 10 meter ke dalam tanah.
Lalu Borobudur pun terjaga dari tidurnya yang pulas kira-kira
3 abad lamanya. Sayang Raffles tidak dapat meneruskan usahanya
karena sudah harus pergi dari Indonesia.
Pada tahun 1835 pekerjaan untuk menyelamatkan candi Borobudur
baru dapat dilanjutkan kembali. Seorang seniman Jerman, A. Shaefer,
pada tahun tersebut untuk pertama kalinya mengabadikan Borobudur
di atas celluloid. Ada 5.000 foto yang telah dibuatnya, yang kemudian
dilanjutkan dengan penggambaran relief-reliefnya di atas kertas
oleh F.C. Wilson dan Schonberg Mulder, dari tahun 1849 s/d tahun
1953.
Pada tahun 1873 monografi pertama tentang Borubudur diterbitkan
oleh Museum Purbakala Leiden, Negeri Belanda. Pada tahun itu pula
seorang ahli potret kenamaan, I. van Kinsbergen diberi tugas untuk
memperbaharui potret-potret Borobudur. Karena sangat telitinya
kerja I. van Kinsbergen (dia sendiri ikut membersihkan sudut-sudut
candi), 200 relief yang selama ini terpendam dalam tanah ikut
tersingkap.
Pada tahun 1885 kaki candi yang ditelan bumi itu "ditemukan"
oleh J.W. Ijzerman. Ternyata di belakang kaki candi yang nampak
masih ada lagi kaki candi lain yang dihiasi pahatan relief. Kaki
yang tersembunyi ini diabadikan oleh Cephas selama setahun (1890-1891),
yang untuk itu 12.500 meter kubik batu dipindahkan dan kemudian
dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Penemuan ini penting artinya,
yang disebut "Kamadhatu" (lingkaran hawa nafsu) yang
sebelumnya tersembunyi dari pandangan mata. Seratus enam puluh
panel dalam lingkaran "Hawa Nafsu" itu menggambarkan
ajaran Karma (Hukum sebab dan akibat setiap perbuatan baik dan
buruk), sebagaimana tertera dalam kitab "Karma-vibhanga".
Pada tahun 1834 Residen Kedu melakukan pemugaran secara tambal-sulam
dan memerintahkan pembersihan lebih lanjut agar wajah candi kelihatan
lebih cantik. Batu-batu yang berserakan di sekeliling candi disingkirkan
ke kaki bukit, sedangkan stupa-stupanya dibenarkan letaknya.
Pada tahun 1844 stupa induknya diperbaiki, namun ia pun melakukan
perbuatan yang merusak, yaitu :
- di atas candi Borobudur diberi bangunan bambu sebagai tempat
para pembesar Belanda dan nyonya mereka minum teh dengan santai
sambil menikmati panorama senja tatkala sang surya berpamitan
dengan seisi bumi.
- tatkala seorang Raja Siam (Thailand) datang pada pertengahan
abad ke 19, Residen Kedu menghadiahkan kepada Beliau delapan
gerobak batu-batu candi Borobudur dan lima puluh relief, di
samping lima patung Sang Buddha sendiri, dua patung singa penjaga
candi, satu pancuran berwujud "Makara" (kepala gajah
bertanduk kambing, bertelinga kerbau dengan singa mini di dalam
moncongnya), sejumlah kepala "kala" (raksasa dan 'dewa
waktu' dalam mitologi Jawa) dari pangkal tangga dan gapura,
serta sebuah patung raksasa dari bukit sebelah Barat-Laut candi
Borobudur.
Hampir saja pengrusakan elemen-elemen Borobudur itu makin menjadi-jadi,
ketika para ahli di negeri Belanda mengusulkan agar relief-reliefnya
dipindahkan saja ke Museum Leiden, mengingat kondisi candi yang
semakin rusak. Untunglah gagasan itu ditentang oleh kalangan ahli
sendiri, sehingga tidak jadi dilaksanakan.
Pada tahun 1900 setelah dokumentasi dan penelitian dianggap memadai,
oleh Pemerintah Belanda dibentuk panitia khusus untuk pemugaran
Borobudur yang diketuai oleh Dr. J.L.A. Brandes.
Seperti halnya operasi pertama pada zaman Raffles, kembali seorang
opzir zeni, Letnan Ir. Th. van Erp memainkan peranan utama sebagai
penyelamat candi Borobudur.
Ada tiga hal yang dibebankan kepada Ir. van Erp dalam usaha menyelamatkan
Borobudur:
- menanggulangi bahaya runtuh dengan cara memperkokoh sudut-sudut
bangunannya, menegakkan kembali dinding-dinding yang miring
pada teras (tingkat) pertama, serta memperbaiki gapura, relung
dan stupa, termasuk stupa induk.
- mengekalkan keadaan yang sudah diperbaiki itu dengan pengawasan
yang ketat dan pemeliharaan yang cermat. Untuk itu saluran airnya
perlu disempurnakan dengan jalan memperbaiki lantai lorong dan
pancuran air.
- memperlihatkan bangunan candi sejelas-jelasnya, bersih dan
utuh.
Seluruh pekerjaan pemugaran yang dimulai pada tahun 1907 baru
selesai empat tahun kemudian dengan menelan biaya 100.000 gulden.
Ir. van Erp pun telah membuat satu "warning-system"
(petunjuk pengaman), yakni lapisan beton pengaman di antara 2
buah batu pada bagian dinding yang paling miring di sebelah Barat,
tangga Utara tingkat pertama. Bilamana sambungan itu patah, maka
Borobudur berada dalam keadaan bahaya.
Pada bulan Januari 1926 dapat diketahui adanya kerusakan yang
disengaja oleh turis asing yang ingin menyimpan tanda mata dari
Borobudur. Peristiwa ini menjadi pendorong bagi penelitian yang
lebih intensif terhadap batu-batu dan terutama relief-relief candi.
Nyatanya banyak relief yang menampakkan tanda-tanda retak. Tangan
jahil? Bukan! Setelah diamati dan dibanding-bandingkan kiri kanan,
ternyata bukan karena tangan jahil, melainkan karena suhu yang
sangat cepat berganti; dari panas yang menyengat kemudian disusul
hujan terus-menerus. Ternyata dari 120 panel relief "Lalita
Vistara" yang menceritakan riwayat Sang Buddha sejak direncanakan
lahir di sorga Tusita sampai khotbahnya yang kesohor di Benares,
ada 40 yang rusak.
Pada tahun 1929 dibentuk panitia baru untuk melakukan pengamatan
dan pengamanan. Dari hasil penyelidikan panitia, diketahuilah
penyebab kerusakan, yakni: korosi kimiawi, kerja mekanis dan kekuatan
tekanan.
Korosi disebabkan oleh pengaruh iklim yang merusak batu-batu
candi yang jelek kwalitasnya. Lapisan oker kuning yang dulunya
dimaksudkan meratakan warna relief untuk keperluan pemotretan,
ternyata berhasil melindungi batu-batu yang keras. Tetapi terhadap
batu-batu yang lunak akibatnya jadi lain, yaitu pengelupasan.
Cendawan dan lumut terang menambah korosi pula. Namun, sebab pokok
korosi yang paling sadis adalah derasnya air yang merembes ke
luar bangunan candi melalui celah-celah dan pori-pori batu-batuan
candi itu sendiri.
Adapun kerusakan mekanis terutama disebabkan oleh tangan dan
kaki manusia atau penyebab lainnya di luar candi.
Kerusakan lain ialah, karena tekanan bobot batu-batuan candi
itu sendiri.
Pada tahun 1965 atas prakarsa Menteri P & K, Ny. Artati M.
Sudirdjo S.H., maka untuk mencegah kerusakan yang lebih fatal,
telah dilakukan pembongkaran atas dinding-dinding Utara dan Barat
yang miring oleh Dr. R. Soekmono.
Pada tahun 1967 Dr. R. Soekmono ketika mengikuti Kongres Orientalis
International di Ann Arbor (AS) minta perhatian kongres atas nasib
Borobudur. Unesco tertarik pada nasib Borobudur dan berjanji untuk
memberi bantuan.
Pada tahun 1968 Pemerintah RI membentuk Panitia Nasional Penyelamat
Borobudur dan beberapa ahli luar negeri dihubungi, a.l.:
- Prof. C. Voute, ahli geologi kenamaan.
- Dr. G. Hyvert, ahli pengawetan patung dan relief
- Prof. Bernard Philipe Groslier, arkeolog Prancis kenamaan
yang namanya tidak dapat dipisahkan dari penyelamatan candi
Angkor di Kamboja.
Pada bulan Juni 1971 Panitia Pemugaran Borobudur dibentuk dengan
diketuai oleh Prof. Ir. R. Roosseno didampingi oleh Dr. R. Soekmono.
Pada tahun ini pula Dirjen Unesco, Rene Maheu datang ke Indonesia
untuk menandatangani bantuan Unesco sebesar US $ 6 juta dari biaya
pemugaran yang diperkirakan US $ 7,75 juta, (menurut perkiraan
tahun 1975 biaya tersebut telah membubung sampai US $ 16 juta).
Pada tanggal 11 Agustus 1973 Borobudur mulai dipugar dengan mengikut-sertakan
ahli-ahli dari Unesco, Lembaga Purbakala, Fak. Sastra UI, Dept.
Geologi ITB dan Fak. Teknik & Pertanian UGM.
Menurut perkiraan, pemugaran Borobudur akan memakan waktu 8 tahun.
C. Keterangan relief-relief tentang riwayat Buddha
Gautama menurut naskah "Lalita Vistara".
Dapat dilihat di lorong pertama (bagian Rupadhatu) pada dinding
sebelah dalam
Dari pintu Timur sampai ke pintu Selatan
- Sang Bodhisatva di sorga Tusita sedang menerima penghormatan
dari para dewa dengan berbagai alat musik.
- Sang Bodhisatva memberitahukan para dewa tentang keinginannya
turun ke dunia menjadi Buddha dan untuk memberi bimbingan kepada
mereka yang telah tersesat dan menolong mereka ke Jalan Yang
Benar.
- Seorang Brahmana mengajar para muridnya tentang kebijaksanaan
duniawi dan memberitahukan kepada mereka bahwa dua belas tahun
kemudian akan turun ke dunia se-Orang Buddha yang akan membebaskan
umat manusia dari Samsara (lingkaran tumimbal-lahir).
- Para Pratyeka Buddha, setelah mendengar tentang akan turunnya
Bodhisatva ke dunia terbang ke sorga untuk menyambut dan mengiringinya.
- Sang Bodhisatva mengajar para dewa tentang Dhamma.
- Sebelum Sang Bodhisatva turun ke dunia, terlebih dulu Beliau
menyerahkan Mahkotanya (Tyara) kepada penggantinya, yaitu Bodhisatva
Maitreya.
- Bodhisatva Maitreya mengajar Dharma kepada para dewa.
- Raja Suddhodana bersukia cita dengan permaisurinya, Ratu Maya
Dewi, di istana Kapilavastu.
- Para bidadari mengunjungi Ratu Maya Dewi di istana.
- Para dewa mempersiapkan diri untuk mengiringi Sang Bodhisatva
turun ke dunia.
- Dihormati untuk terakhir kali di sorga Tusita sebelum Sang
Bodhisatva turun ke dunia.
- Di pavilyun Sri Garbha, Sang Bodhisatva duduk bermeditasi
dan selanjutnya turun ke dunia diusung oleh para dewa.
- Ratu Maya Dewi, sewaktu tidur di istana, bermimpi seekor gajah
putih memasuki perutnya dan kemudian Ratu menjadi hamil.
- Sang Ratu tidak usah kuatir karena Dewa Cakra melindunginya.
- Sang Ratu pergi ke taman Asoka untuk menemui Raja Suddhodana.
- Raja Suddhodana tiba di taman Asoka dengan menunggang gajah.
- Raja Suddhodana berjumpa dengan Sang Ratu di serambi. Sang
Ratu menceritakan mimpinya dan bertanya tentang arti mimpi tersebut.
- Karena Raja Suddhodana tidak dapat menerangkan arti mimpi
Sang Ratu, maka beliau minta pendapat dari seorang brahmana
yang bernama Asita. Asita menerangkan bahwa Ratu akan hamil
dan akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Putera ini mempunyai
bakat menjadi seorang pemimpin dunia.
- Raja Suddhodana gembira sekali mendengar ramalan tersebut
dan memberikan hadiah yang berlimpah-limpah kepada Asita dan
para brahmana lainnya.
- Para dewa yang mendengar berita yang menggembirakan ini membangun
tiga buah istana untuk Ratu Maya Dewi.
- Para dewa telah membuat Ratu Maya Dewi serempak terlihat di
tiga alam.
- Sebelum bayi dilahirkan, Ratu telah melakukan hal-hal mujizat
: beliau dapat menyembuhkan orang-orang sakit dan orang-orang
yang cacat badannya.
- Raja Suddhodana memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang
miskin.
- Raja Suddhodana memberikan khotbah di hadapan para wanita.
- Satu hal yang aneh terjadi sewaktu Raja sedang bermeditasi
: seekor anak gajah masuk ke istana dan memberi hormat kepada
Raja.
- Persiapan untuk mengunjungi taman Lumbini.
- Ratu dengan kereta menuju ke taman Lumbini. Setelah tiba,
kereta berhenti dan Ratu dengan gembira berjalan-jalan di taman.
- Di taman Lumbini dengan berdiri berpegangan pada cabang pohon
Sal, Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki.
Segera setelah dilahirkan, Sang Bayi dapat berjalan tujuh langkah
dan di atas tiap tapak kaki muncul bunga teratai.
- Setelah Ratu meninggal dunia, Sang Pangeran diasuh oleh bibinya
yang bernama Pajapati. Sang Pangeran diberi nama Siddharta.
- Pangeran Siddharta di pangkuan ibu tirinya.
Dari pintu Selatan sampai ke pintu Barat.
- Seorang Brahmana bernama Asita mengunjungi Pangeran Siddharta.
- Dewa-dewa dari alam Suddhavasa mengunjungi Pangeran Siddharta.
- Para penduduk yang kaya-kaya mempersembahkan hadiah-hadiah
kepada Pangeran Siddharta.
- Pangeran Siddharta pergi ke vihara untuk mendapatkan pendidikan.
- Setibanya di vihara, gurunya pingsan melihat wajah Sang Pangeran
yang demikian cemerlang.
- Sang Pangeran berhias dengan memakai berbagai macam permata.
- Para penduduk memberi hormat kepada Sang Pangeran.
- Pangeran Siddharta dan gurunya di ruang belajar.
- Pangeran Siddharta mengunjungi desa-desa untuk melihat sendiri
penghidupan rakyatnya di desa.
- Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon jambu.
- Para sesepuh di istana Kapilavastu mendesak Pangeran Siddharta
untuk menikah.
- Sang Pangeran minta para gadis dari Kapilavastu untuk datang
ke istana. Pilihannya ternyata jatuh kepada Yasodhara. Untuk
menghibur gadis-gadis lain yang kecewa, Sang Pangeran membagi-bagikan
hadiah.
- Menurut kebiasaan pada zaman itu, sebelum upacara perkawinan
dilaksanakan, terlebih dulu calon pengantin pria harus membuktikan
kemampuannya secara fisik maupun mental. Oleh karena itu Sang
Pangeran diharuskan mengambil bagian dalam satu sayembara.
- Devadatta, saudara sepupu dari Sang Pangeran, juga turut dalam
sayembara tersebut. Ia harus berkelahi dengan seekor gajah yang
besar. Gajah tersebut dibunuhnya dengan sekali pukul dan sekali
tendang.
- Pada relief hanya terlihat roda kereta dan seorang prajurit.
Pangeran Siddharta dengan duduk di kereta menyeret bangkai gajah
itu dengan kaki kiri ke luar kota sejauh delapan yojana (1 yojana
= 8 mil).
- Pangeran Siddharta dicoba kemurniannya dengan digoda wanita-wanita
cantik.
- Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menunggang kuda).
- Tidak diketahui (mungkin relief sayembara menggunakan pedang).
- Sayembara memanah batang pohon Tala. Hanya Pangeran Siddharta
yang lulus dalam pertandingan ini; anak panahnya menembus batang
pohon Tala dan menghilang di tanah.
- Pernikahan dari Pangeran Siddharta dengan Putri Yasodhara
diberkahi.
- Puteri Yasodhara memasuki istana setelah menikah.
- Di istana, mempelai disambut dengan musik.
- Pangeran Siddharta mendapat petunjuk dari para dewa untuk
meninggalkan istana.
- Untuk mencegah agar Pangeran Siddharta jangan meninggalkan
istana, Raja Suddhodana memerintahkan untuk mendirikan istana-istana
untuk Sang Pangeran dengan dilayani oleh wanita-wanita cantik.
- Pangeran Siddharta sedang dimanjakan oleh wanita-wanita.
- Pangeran Siddharta melihat seorang tua renta.
- Pangeran Siddharta melihat orang sakit keras.
- Pangeran Siddharta melihat orang mati.
- Pangeran Siddharta melihat seorang pertapa.
- Pangeran Siddharta mendapat impian buruk.
Dari pintu Barat sampai ke pintu Utara
- Pangeran Siddharta mohon diri dari ayahnya, Raja Suddhodana.
- Raja Suddhodana tidak memperkenankan Sang Pangeran pergi bertapa
dan memerintahkan kepada wanita-wanita cantik untuk terus menghibur
Sang Pangeran.
- Tengah malam wanita-wanita yang menghibur Pangeran Siddharta
telah tertidur. Lalu Pangeran Siddharta yang merasa jemu sekali,
membulatkan tekad untuk meninggalkan istana.
- Pangeran Siddharta memanggil kusirnya yang bernama Channa
dan memerintahkan untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka.
- Pangeran Siddharta melakukan perjalanan jauh untuk mulai bertapa.
- Sampai di tempat tujuannya, Pangeran Siddharta mengucapkan
selamat berpisah kepada para dewa yang mengiringinya.
- Pangeran Siddharta memotong rambutnya.
- Pangeran Siddharta menukar pakaiannya dengan jubah seorang
pertapa.
- Para dewa memberi hormat kepada Pangeran Siddharta.
- Pangeran Siddharta tiba di pertapaan Padmapani.
- Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa bernama
Uddaka Ramaputra.
- Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat seorang pertapa lain
yang bernama Alara Kalama.
- Pangeran Siddharta berkunjung ke tempat Raja Bimbisara di
Rajagaha.
- Raja Bimbisara berkunjung ke tempat Pangeran Siddharta.
- Pangeran Siddharta berkunjung ke Gunung Gaya dan bertemu dengan
para pertapa dari tempat tersebut.
- Para pertapa tersebut di atas berkunjung kepada Pangeran Siddharta.
- Pangeran Siddharta berbincang-bincang dengan para pertapa
tentang persoalan "Pañña" (Kebijaksanaan).
Karena berselisih pendapat, para pertapa meninggalkan Pangeran
Siddharta.
- lbunda Pangeran Siddharta, yaitu Ratu Maya Dewi almarhumah,
turun ke dunia dari sorga untuk membujuk anaknya mengakhiri
penyiksaan diri dan makan minum seperti biasa lagi agar dapat
memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.
- Para dewa mendesak Pangeran Siddharta untuk kembali makan
dan minum.
- Pangeran Siddharta mengajar para dewa.
- Seorang wanita bernama Sujata mempersembahkan bubur kepada
Pangeran Siddharta.
- Pangeran Siddharta mempersiapkan diri untuk mandi.
- Pangeran Siddharta menukar pakaian.
- Para wanita dari Uruvela mempersembahkan makanan kepada Pangeran
Siddharta.
- Pangeran Siddharta pergi ke tepi sungai Nairanjara dengan
membawa jubahnya yang sudah bekas pakai.
- Pangeran Siddharta membuang jubahnya ke sungai.
- Jubah tersebut diterima oleh Raja Naga Mucilinda.
- Pangeran Siddharta menerima makanan dari Mucilinda.
- Pangeran Siddharta memberi berkah kepada Mucilinda.
- Pangeran Siddharta minta diberi rumput yang empuk untuk duduk.
Dari pintu Utara sampai pintu Timur
- Pangeran Siddharta dalam perjalanan ke Buddha Gaya.
- Pohon Bodhi diberi penghiasan.
- Pangeran Siddharta bermeditasi di bawah pohon Bodhi.
- Mara, iblis yang jahat, datang mengganggu Pangeran Siddharta
dan mengancam untuk membunuhnya.
- Mara mengirim anak-anaknya berupa wanita-wanita yang cantik
sekali untuk menggoda Pangeran Siddharta.
- Mara mencoba membujuk Pangeran Siddharta dengan membisikkan
godaan di telinganya.
- Godaan-godaan oleh Mara dengan memakai kekuatan gaib dan wanita-wanita
cantik. Sang Pangeran duduk dengan sikap Bhumisparsa-Mudra.
(simbol dari tekad yang bulat).
- Para dewa membasuh Pangeran Siddharta dengan air suci.
- Pangeran Siddharta berhasil mencapai Penerangan Agung; Mara
tidak berhasil menggagalkan usaha Pangeran Siddharta. Sekarang
Pangeran Siddharta menjadi Buddha (Beliau memakai sikap Abaya-Mudra
= Jangan Takut).
- Buddha Gautama mendapat tempat duduk di taman Rusa.
- Raja Naga Mucilinda menjumpai Buddha Gautama.
- Para pertapa dari Bodhi-manda minta diberi berkah oleh Buddha
Gautama.
- Buddha Gautama mengajar cara melakukan Samadhi (Beliau memakai
Dhyana-Mudra = Sedang Bermeditasi).
- Para raja mempersembahkan makanan kepada Buddha Gautama dan
mereka diberi pelajaran tentang "Bermurah hati". (Beliau
memakai Vara-Mudra = Memberi Anugerah).
- Buddha Gautama sedang memberi pelajaran Dhamma.
- Buddha Gautama berkunjung ke kota Savatthi untuk mengajar
Dhamma.
- Buddha Gautama berkunjung ke Uruvela untuk mengajar Dhamma.
- Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Uddaka Ramaputra.
- Buddha Gautama berkunjung ke Raja Bimbisara di Rajagaha.
- Buddha Gautama berkunjung ke para pertapa.
- Buddha Gautama bertemu dengan para dewa.
- Buddha Gautama mengunjungi sebuah kota dan dijamu makan.
- Buddha Gautama berkunjung ke bekas guru-Nya Alara Kalama.
- Buddha Gautama berkunjung ke kota Maghada dan disambut dengan
upacara yang meriah.
- Dalam perjalanan ke Benares, Buddha Gautama menyeberangi sungai
Gangga dengan terbang di atas air.
(Tukang perahu penyeberang tidak mau menyeberangkan Buddha Gautama
tanpa pembayaran lebih dulu. Sebelum tukang perahu mengetahui
apa yang terjadi, Buddha Gautama sudah ada di seberang sungai).
- Buddha Gautama sedang dijamu.
- Di sebuah bukit bernama Gaya, Buddha Gautama berjumpa kembali
dengan para pertapa yang dulu telah meninggalkannya. Sekarang
mereka menjadi murid Buddha Gautama.
- Buddha Gautama diberi hormat oleh para pertapa lain.
- Buddha Gautama diperciki air suci oleh para dewa.
- Buddha Gautama memberi khotbah di taman Rusa, dekat Benares.
|